Wali Kota Israel: Serangan Rudal Iran Takkan Kami Lupakan Selama Bertahun-tahun, Ledakannya Terasa Sampai ke Lubuk Hati
POROS PERLAWANAN — Wali Kota Rehovot, salah satu kota di Israel yang terkena serangan rudal dari Angkatan Bersenjata Iran, melaporkan kerusakan parah akibat serangan tersebut dan menyatakan bahwa warganya akan mengingat peristiwa ini selama bertahun-tahun.
Mengutip laporan Tasnim News Agency pada Minggu 29 Juni, surat kabar Yisrael Hayom melaporkan bahwa setelah mengalami kehancuran signifikan akibat serangan rudal dalam konflik dengan Iran, Wali Kota Rehovot tengah mengupayakan langkah-langkah rekonstruksi. Ia menyoroti dampak psikologis dan fisik dari serangan itu terhadap kota dan warganya.
“Saat itu pukul 02.50 dini hari ketika tanah di bawah kaki kami berguncang,” ujar Wali Kota Rehovot, Matan Dale. “Itu adalah momen yang dahsyat dan menghancurkan. Pertama, sistem pertahanan udara di wilayah kami dilumpuhkan, lalu suara ledakan menggema ke seluruh penjuru kota. Kami merasakannya hingga ke lubuk hati.”
Wali Kota itu mengonfirmasi bahwa sedikitnya dua rudal menghantam kota: satu menghantam Institut Sains Weizmann, dan satu lagi jatuh di pusat kota. Ia menambahkan bahwa serangan terjadi meski pihaknya telah melakukan pelatihan kesiapsiagaan selama lebih dari satu tahun.
“Ketika saya tiba di lokasi setelah salah satu rudal menghantam, saya tidak akan pernah melupakan pemandangan itu, Kepala Polisi Distrik, Komandan Pasukan Garis Depan, Direktur Magen David Adom, serta pejabat Unit Darurat dan Penyelamatan semuanya tampak terpukul. Kami berdiri di alun-alun kota dalam kebisuan. Para komandan senior tidak berkata apa-apa. Itu adalah momen yang benar-benar mengguncang. Mungkin kami bisa saling menguatkan,” katanya.
Dale juga mengungkapkan bahwa salah satu gedung pemerintahan utama kota ikut runtuh akibat serangan rudal tersebut.
Terkait proses rekonstruksi, ia menjelaskan bahwa jadwal pemulihan infrastruktur kota tergolong kompleks dan memerlukan waktu yang tidak singkat.
“Untuk membangun kembali gedung-gedung yang benar-benar hancur, mungkin dibutuhkan waktu antara tiga hingga lima tahun. Sementara untuk rumah-rumah yang hanya mengalami kerusakan ringan, perbaikannya dapat diselesaikan dalam satu hingga tiga bulan,” jelasnya.
