Loading

Ketik untuk mencari

Amerika Analisa

Terima Kasih, Presiden Trump… Atas Apa yang Tidak Engkau Lakukan

Suara dari Timur yang tak sudi tunduk pada arogansi Barat

POROS PERLAWANAN — Di antara puing-puing yang berserakan di panggung sejarah modern, satu suara mencuat, bukan sebagai pembawa keadilan, tetapi sebagai gema ego yang mendambakan disembah.

Presiden Amerika Serikat, Donald J. Trump, tampaknya masih saja lebih sibuk merawat bayang-bayang kejayaan Amerika daripada membaca kenyataan yang terus bergerak. Melalui mimbar digital ciptaannya, Truth Social, sebuah nama yang ironis dalam segala makna, Trump kembali mengumandangkan orasi digitalnya pada 27 Juni. Bukan untuk menawarkan perdamaian. Bukan pula untuk menyodorkan kebijakan visioner. Ia hadir untuk melontarkan cacian, ancaman, dan ratapan… hanya karena tak kunjung menerima ucapan “terima kasih” dari Pemimpin Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, yang sehari sebelumnya, pada 26 Juni, menegaskan: “Republik Islam menang, dan sebagai balasannya, Republik Islam menampar keras wajah Amerika. Republik Islam menyerang salah satu pangkalan penting Amerika di Kawasan, pangkalan Al-Udeid, dan menyebabkan beberapa kerusakan…”

Sebuah pernyataan yang lahir bukan dari mimbar kehormatan formal, melainkan dari keteguhan moral yang ditempa oleh penderitaan Gaza dan darah para Syuhada.

Logika Sang Penyelamat yang Tak Menyelamatkan

Lebih lanjut, masih dalam gaya khas megalomania politiknya, Trump mengeklaim diri sebagai “penyelamat” karena, katanya ia bersama sekutunya tidak jadi melancarkan serangan besar ke Teheran.

Luar biasa! Dalam logika kemunafikan modern, menahan peluru kini dianggap jasa besar. Dalam skema moral Trump, menunda pembantaian adalah bentuk kasih sayang, dan menghindari perang menjadikannya layak disanjung sebagai nabi perdamaian.

“Saya tahu persis di mana dia bersembunyi, tapi saya tidak mengizinkan Israel atau Pasukan AS… mengakhiri hidupnya,” ucap Trump. Sebuah kalimat yang lebih cocok disampaikan oleh pemburu bayaran daripada oleh seorang kepala negara.

Seolah-olah nyawa seorang pemimpin sah digantungkan pada kemurahan hati seorang presiden yang bahkan gagal menjaga rahasia negara miliknya sendiri.

Madu, Cuka, dan Racun Hegemoni

Trump lalu berbicara tentang niat “baiknya”: bahwa ia sempat mempertimbangkan pencabutan sanksi terhadap Iran. Namun karena tak ada ucapan terima kasih dan pujian, maka rencana itu ia batalkan. Inilah politik gula-gula yang tak jauh berbeda dari logika tuan-tuan kolonial abad ke-19: beri sedikit roti, lalu minta seluruh rakyat berdansa.

Padahal, Iran bukan disanksi karena melanggar, tetapi karena menolak berlutut. Bukan karena mengancam dunia, melainkan karena menolak diperintah oleh mereka yang merasa berhak menguasai dunia.

Inilah perang dalam wujud sipil, tanpa peluru, namun menghantam rumah sakit, ruang kelas, dan meja makan rakyat Iran. Sejak Amerika Serikat secara sepihak keluar dari perjanjian nuklir JCPOA pada 2018, Iran digempur dengan sanksi brutal, termasuk pemblokiran sistem keuangan SWIFT, pelarangan ekspor minyak, hingga pembekuan aset internasional.

Namun mari kita bicara lebih jujur, bahwa semua itu bukan karena Iran bersenjata nuklir, tetapi karena Iran bersikap merdeka. Sebab dosa terbesar di mata Trump dan kubu hegemoni bukan pada apa yang Iran miliki, tetapi pada apa yang Iran tolak, yaitu tunduk, dan keberanian untuk berdiri di atas kaki sendiri.

Ironisnya, Iran tetap mematuhi isi perjanjian, sesuatu yang dikonfirmasi berulang kali oleh IAEA. Namun semua itu dibatalkan hanya karena satu figur, yaitu Trump, yang lebih memedulikan gestur politik domestiknya ketimbang tanggung jawab globalnya.

Perlawanan yang Tak Menunggu Pujian

Trump menyebut Iran sebagai negara gagal. Ia menyebut rakyatnya miskin, pemimpinnya pembohong, dan militernya lemah. Namun yang luput dari penglihatannya, atau mungkin sengaja dihindari, adalah kenyataan bahwa bangsa yang bertahan di atas kehormatan, selalu lebih kuat daripada kekaisaran yang berdiri di atas pujian palsu dan kebohongan kekuasaan.

Iran tidak meminta belas kasihan. Iran bertahan. Iran membangun. Iran merangkul lukanya, bukan untuk meratap, tetapi untuk melahirkan tekad baru.

Sebagaimana pernah disampaikan oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib: “Keteguhan dalam kebenaran lebih baik dari seribu kemenangan yang lahir dari kebatilan.”

Ketika Narasi Menjadi Senjata

Di hadapan kemenangan yang diraih dengan keteguhan spiritual, kejernihan moral, dan ketajaman strategi, Poros Perlawanan berdiri tegak. Sementara di hadapan itu, Trump meronta, bukan karena rudal yang ditembakkan, melainkan karena narasi yang tak mampu ia jinakkan.

Ia ingin dikenang sebagai aktor utama dalam panggung sejarah, padahal sejarah, dengan segala kejernihannya, hanya memberinya peran sebagai figuran bising dalam babak panjang penindasan global, nyaring, tapi tanpa makna.

Kepadanya, barangkali hanya satu kalimat yang layak disampaikan: “Terima kasih Presiden Trump, karena sekali lagi Anda membuktikan bahwa kekuasaan tanpa kebijaksanaan hanyalah gema kosong dari ego yang terluka.”

Sedangkan kepada bangsa-bangsa yang tertindas namun tidak menyerah, kepada mereka yang memilih berdiri daripada tunduk, POROS PERLAWANAN menyampaikan untuk tidak pernah berharap belas kasihan dari tiran. Bangun kekuatan sendiri. Sebab kemenangan sejati bukanlah hadiah, tetapi hak yang diraih, dengan pengorbanan, ditegakkan dengan keteguhan, dan dipertahankan dengan kehormatan.

Tags: