Israel-AS Gagal Taklukkan Iran dan Terbukti Kalah dalam Perang 12 Hari
POROS PERLAWANAN – Penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Larijani menyampaikan bahwa rencana gabungan Israel dan Amerika Serikat untuk menggulingkan Pemerintahan Republik Islam Iran telah mengalami kegagalan total. Dalam wawancara terbaru, Larijani mengungkap bahwa kedua negara musuh itu semula berambisi menjatuhkan Iran hanya dalam waktu lima hingga enam hari.
“Mereka benar-benar percaya bisa membuat Republik Islam runtuh dalam hitungan hari. Target utama mereka adalah memaksa rakyat Iran menyerah,” ujar Larijani.
Lebih jauh, Larijani mengungkap bahwa skenario agresi tersebut melibatkan rencana pembunuhan terhadap para pemimpin tinggi Iran, termasuk dirinya, serta Pemimpin Revolusi Islam, Ayatullah Ali Khamenei. “Saya bahkan menerima telepon ancaman yang memberi saya waktu 12 jam untuk meninggalkan Iran atau saya akan dibunuh,” katanya.
Namun, menurutnya, titik balik terjadi pada Sabtu 21 Juni ketika mediator internasional mulai terlibat, setelah menyadari bahwa operasi militer Israel menemui jalan buntu. Dua hari kemudian, Tel Aviv mulai mendorong terjadinya gencatan senjata. “Mereka pikir kami akan memohon, tetapi justru mereka yang akhirnya mengemis,” tegasnya.
Larijani menekankan bahwa kekuatan Militer Iran, khususnya kemampuan rudal presisi tinggi, telah mengubah keseimbangan regional. Ia mengonfirmasi bahwa Iran meluncurkan enam rudal ke pangkalan militer AS di Qatar, yang masing-masing membawa hulu ledak seberat 400 kilogram. Ia menuduh Presiden AS, Donald Trump mencoba menutup-nutupi kerugian yang terjadi.
Selain itu, ia juga menyoroti peran Direktur IAEA, Rafael Grossi, yang disebut turut berkontribusi dalam memfasilitasi konflik. Larijani mempertanyakan manfaat Iran tetap berada dalam Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT), menilai isu nuklir hanyalah dalih untuk melumpuhkan negara.
Sementara itu, Penasihat senior lainnya, Ali Shamkhani mengungkap bahwa ia menjadi sasaran upaya pembunuhan oleh Israel yang akhirnya gagal. Ia menegaskan bahwa Iran sudah mengantisipasi setiap skenario dan menjalankan operasi militer serta keamanan sesuai rencana.
Di akhir pernyataannya, Larijani menyerukan peninjauan kembali terhadap pendekatan diplomasi Iran, termasuk kerja sama dengan Barat dan lembaga internasional. “Kemenangan ini telah mempermalukan musuh dan membuktikan kekuatan Iran,” pungkasnya.
