Kasus Bunuh Diri para Serdadu Israel: Bukti Kecanggihan Senjata dan Teknologi Tak Mampu Penuhi Kehampaan Spiritual
POROS PERLAWANAN – Ketika seorang serdadu tidak tahu untuk apa dia berperang, senjatanya pun tidak akan berguna. Saat ini, Militer Israel bertempur di medan perang yang lebih menghancurkan mental ketimbang personel.
“Saya menyaksikan adegan-adegan mengerikan. Saya mencium bau mayat. Jenazah-jenazah terus terpampang di depan mata saya.” Ini adalah pernyataan yang disampaikan serdadu Israel, Daniel Edri, kepada ibunya. Edri membakar dirinya hingga tewas pada Sabtu 5 Juli lalu.
Meningkatnya gangguan kejiwaan di tengah serdadu Zionis yang kembali dari perang Gaza dan Lebanon serta melakukan bunuh diri (43 kasus hingga saat ini) menjadi topik tulisan periset Palestina, Muhammad al-Ayyubi. Dalam tulisannya, al-Ayyubi membahas fenomena ini dari beragam sisi.
“Dalam perang-perang modern, kemenangan tidak hanya bergantung kepada keunggulan perangkat militer. Tekad dan mentalitas pasukan juga memiliki peran menentukan”, tulisnya.
“Ketika tekad meluntur, senjata menjadi instrumen sia-sia. Apa yang terjadi sekarang di Militer Israel bukan sekadar himpunan kasus bunuh diri. Itu menunjukkan runtuhnya keyakinan tempur, yang sejak awal tidak disiapkan dari dalam untuk perang-perang yang menguras tenaga”.
“Struktur kejiwaan Militer Israel telah jatuh. Meningkatnya statistik bunuh diri di tengah para serdadu, yang sesuai angka resmi mencapai lebih dari 43 kasus, membuktikan bahwa teknologi dan logistik tidak bisa mengisi kekosongan motif spiritual dan moral”.
“Yang lebih buruk dari bunuh diri adalah keengganan Militer Israel untuk melangsungkan prosesi pemakaman militer bagi para serdadu tersebut. Sebab, menerima kematian mereka dengan status sebagai ‘bunuh diri’ sama saja dengan menerima runtuhnya keyakinan di dalam Militer”.
“Krisis yang dihadapi Militer Israel bukan dalam minimnya persenjataan, namun dalam tiadanya justifikasi moral untuk berperang. Dalam perang-perang terdahulu, serdadu Israel pergi ke medan perang dengan keyakinan bahwa dirinya membela Tanah Air atau membasmi terorisme. Namun sekarang, dia menghadapi perang yang lebih mirip genosida: pembantaian warga sipil tiap hari, pengeboman rumah sakit, dan pelaparan warga yang diblokade”.
“Mereka tidak lagi melihat diri mereka sedang menjalankan misi pertahanan. Kini mereka merasakan kebenaran dengan kulit dan daging mereka. Mereka tahu sedang melakukan pembantaian massal. Kesadaran ini adalah aib yang takkan hilang dengan propaganda apa pun”.
“Ketika perang berlarut-larut tanpa tujuan jelas, semangat pun akan runtuh. Serdadu membutuhkan arti (perang). Di sisi lain, orang-orang Palestina, kendati dibelit kemiskinan dan blokade, bertempur demi Tanah Air dan identitas mereka. Sementara serdadu Israel, yang diseret dari Tel Aviv ke gang-gang hancur Gaza, mencari-cari terowongan dan menghadapi perlawanan yang tak bakal runtuh dari sisi mental”.
“Serdadu Israel tidak lagi memercayai sebuah tujuan. Dia hanya berusaha untuk bertahan hidup atau mati tanpa arti”.
“Jet-jet modern, satelit, dan logistik lengkap tidak ada artinya di hadapan mentalitas tegar orang yang siap mati di tengah blokade”.
“Sejarah menunjukkan bahwa serdadu yang tidak meyakini alasan perang pasti akan kalah. Saat ini, serdadu Israel tidak punya keyakinan. Ini adalah intinya”.
“Apa yang terjadi saat ini di Gaza adalah perang mentalitas. Runtuhnya kejiwaan seorang serdadu adalah pukulan yang lebih telak daripada hancurnya tank atau jet tempur. Sebab, perang tidak hanya ditentukan dengan senjata. Perang dimenangkan dengan konsistensi dan keyakinan terhadap tujuan”.
“Jika tren ini terus berlanjut dan Perlawanan masih bertahan, Israel akan terpaksa menuju ke arah perundingan. Bukan karena minat politik, namun karena ketidakmampuan serdadunya untuk melanjutkan pertempuran. Semangat berperang bersama dengan senjata. Ketika tidak ada semangat, senjata pun sia-sia saja”.
“Mungkin tren ini akan menelan lebih banyak korban. Namun arah perang ini jelas: sekadar keunggulan materi tidak memadai. Siapa pun yang menang dari aspek psikis, dia yang akan menentukan akhir perang”.
