Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Tahanan Palestina Tembus 10.800 Orang: Angka Tertinggi Sejak Intifada, Anak dan Perempuan Jadi Korban

Tahanan Palestina Tembus 10.800 Orang: Angka Tertinggi Sejak Intifada, Anak dan Perempuan Jadi Korban

POROS PERLAWANAN – Dilansir Almayadeen, jumlah warga Palestina yang ditahan di penjara-penjara Israel kini mencapai angka mencengangkan: 10.800 orang per awal Juli 2025. Ini merupakan angka tertinggi sejak pecahnya Intifada Kedua pada tahun 2000. Laporan ini dirilis oleh sejumlah organisasi pendukung tahanan Palestina dalam sebuah pernyataan bersama pada Selasa, 8 Juli.

Laporan tersebut menyoroti peningkatan signifikan dalam jumlah penahanan administratif, yakni sistem yang memungkinkan seseorang ditahan tanpa dakwaan atau proses pengadilan. 3.629 tahanan kini berada dalam kategori ini, mencerminkan penggunaan sistem represif secara massif oleh Otoritas Pendudukan Israel. Praktik ini telah lama dikecam oleh organisasi hak asasi manusia internasional karena melanggar prinsip dasar keadilan.

Tak hanya itu, jumlah warga Palestina yang digolongkan sebagai “pejuang ilegal” juga meningkat tajam menjadi 2.454 orang, belum termasuk banyak tahanan asal Gaza yang ditahan di kamp-kamp militer dengan status yang masih tidak diketahui secara pasti. Kategori ini juga mencakup warga dari Lebanon dan Suriah, menunjukkan cakupan kebijakan penahanan Israel yang semakin meluas secara regional.

Perempuan dan Anak-anak dalam Ancaman Serius

Kondisi semakin mengkhawatirkan terjadi di kalangan kelompok rentan. Hingga kini, terdapat 50 perempuan Palestina yang ditahan di penjara-penjara Israel, termasuk dua di antaranya berasal dari Gaza. Sementara itu, lebih dari 450 anak-anak Palestina juga turut mendekam di balik jeruji besi.

Menurut Kantor Media Tahanan Palestina, para tahanan perempuan menghadapi perlakuan buruk di Penjara Damon, termasuk pengurangan drastis waktu rekreasi menjadi hanya 15 menit per hari, yang hanya digunakan untuk ke kamar mandi. Di luar itu, mereka dikurung selama berjam-jam. Selain itu, jatah makanan dikurangi secara signifikan, memperburuk kondisi mereka secara fisik dan mental.

Dalam insiden kekerasan terbaru, lima tahanan perempuan yaitu Islam Shouli, Tasneem Odeh, Lin Misk, Samah Hijjawi, dan Fatima Jasrawi telah mengalami serangan brutal. Mereka dipukuli, diludahi, dikurung di sel isolasi, dicaci maki, bahkan diancam akan diperkosa oleh aparat penjara.

Organisasi-organisasi Palestina mendesak komunitas internasional untuk segera bertindak dan menuntut pertanggungjawaban Israel atas pelanggaran hak asasi manusia yang semakin meluas. Lonjakan penahanan dan perlakuan tidak manusiawi ini dinilai sebagai bagian dari strategi sistematis dalam menekan perlawanan rakyat Palestina.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *