Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Araghchi: Iran Takkan Tergesa-gesa Masuki Negosiasi Tanpa Kehati-hatian dan Perhitungan Matang

Araghchi: Iran Takkan Tergesa-gesa Masuki Negosiasi Tanpa Kehati-hatian dan Perhitungan Matang

POROS PERLAWANAN – Menteri Luar Negeri Iran, Sayyid Abbas Araghchi menegaskan bahwa Republik Islam Iran tidak akan tergesa-gesa memasuki negosiasi yang belum dipertimbangkan secara matang. Hal ini disampaikan di sela-sela pertemuan dengan para duta besar dan perwakilan negara asing di Teheran, pasa Sabtu 12 Juli.

“Kami telah menerima banyak pesan yang mendorong dimulainya kembali negosiasi dengan Amerika Serikat,” ujarnya kepada wartawan. “Namun kami tengah mengkaji waktu, tempat, bentuk, serta jaminan yang diperlukan. Kami tidak akan tergesa-gesa melangkah ke meja perundingan tanpa perhitungan.”

Araghchi juga menyinggung ancaman tiga negara Eropa yang ingin mengaktifkan mekanisme snapback, yaitu upaya mencabut Resolusi Dewan Keamanan PBB No. 2231 dan menghidupkan kembali sanksi sebelumnya.

“Eropa terus-menerus melemparkan wacana snapback dalam beberapa bulan terakhir, terutama beberapa hari belakangan,” katanya. “Jika mereka benar-benar melakukannya, itu akan menjadi kesalahan besar. Sama fatalnya dengan kekeliruan AS ketika menyerang fasilitas nuklir kami, yang hanya memperumit krisis dan menjauhkan solusi.”

Ia menegaskan bahwa isu nuklir Iran tidak bisa diselesaikan dengan tekanan militer atau melalui Dewan Keamanan.

“Satu-satunya jalan keluar adalah solusi yang dinegosiasikan, yang menjamin hak dan kepentingan bangsa Iran, termasuk hak sah kami untuk memperkaya uranium dan mengembangkan teknologi nuklir,” tegasnya. “Hak ini bukan sekadar teknis, melainkan simbol kedaulatan nasional.”

Jaminan dan Diplomasi yang Dikhianati

Menanggapi pertanyaan tentang apa yang dimaksud Iran dengan “jaminan” dalam konteks kembali ke meja perundingan, Araghchi menjawab: “Dalam negosiasi sebelumnya, kami menyaksikan bagaimana arah perundingan berubah menuju opsi militer. Itu adalah pengkhianatan terhadap diplomasi, bukan kepada kami, tapi kepada prinsip dialog itu sendiri. Jika mereka sungguh ingin kembali ke jalur diplomatik, kami harus diyakinkan bahwa insiden semacam itu tak akan terulang.”

Ia menambahkan bahwa meski istilah “jaminan” tidak pernah benar-benar eksis dalam hubungan internasional, sejumlah bentuk jaminan telah disampaikan dan sedang dikaji oleh Teheran.

“Begitu kami yakin bahwa hak-hak rakyat Iran dan kepentingan strategis Republik Islam terjamin, maka kami tidak akan gentar untuk berunding. Namun, kami tidak akan masuk ke arena tanpa kesiapan dan kehati-hatian.”

Tidak Ada Celah Bagi Kekeliruan

Mengenai waktu pelaksanaan negosiasi, Araghchi menjelaskan: “Kami tengah mempertimbangkan semua unsur, waktu, tempat, bentuk, pengaturan teknis, dan tentu saja, jaminan. Kami tidak akan menyia-nyiakan peluang untuk mencapai tujuan strategis dan membela kepentingan rakyat. Namun kami juga tidak akan masuk perangkap negosiasi palsu yang dirancang untuk mengulur waktu atau menekan kami.”

Pintu Diplomasi Terbuka, Tapi Iran Tak Akan Menjual Harga Diri

Araghchi menekankan bahwa diplomasi tetap menjadi pilihan, namun hanya jika dilakukan secara terhormat dan setara.

“Pintu diplomasi tidak pernah tertutup. Namun, ia hanya akan terbuka bagi pihak yang menghormati prinsip-prinsip kami dan tidak mengancam kami dengan kekuatan militer ketika perundingan tidak berjalan sesuai keinginan mereka.”

Menutup pernyataannya, Araghchi menyampaikan pesan perlawanan: “Kami telah melalui perang yang heroik dan bertahan dengan kegigihan luar biasa. Republik Islam Iran, bersama rakyatnya, telah menang.. dan siapa yang menang tidak akan takut untuk duduk di meja perundingan, karena inilah saat terbaik untuk berbicara dari posisi kekuatan.”

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *