Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Trik Dulang Simpati Cara Lama, Netanyahu: Malam yang Sulit, Seluruh Israel Berduka

Trik Dulang Simpati Cara Lama, Netanyahu: Malam yang Sulit, Seluruh Israel Berduka

POROS PERLAWANAN – Menyusul tewasnya tiga serdadu Israel dalam sebuah serangan Perlawanan di Jalur Gaza bagian utara, Perdana Menteri rezim Zionis, Benyamin Netanyahu menggambarkan insiden tersebut sebagai “malam yang sulit” dan menyatakan bahwa seluruh warga Israel “berduka” atas tewasnya pasukan mereka.

Dikutip dari Al Jazeera pada Selasa 15 Juli, Netanyahu mengatakan, “Ini adalah malam yang sulit dan seluruh rakyat Israel berduka atas gugurnya para tentara dari brigade lapis baja kami.”

Ia menambahkan: “Kami berduka atas tewasnya tiga tentara kami. Mereka berkorban untuk melindungi keamanan Israel, mengalahkan Hamas, dan memulangkan para tawanan.”

Pernyataan itu muncul setelah pasukan Pendudukan Israel mengonfirmasi bahwa tiga tentaranya dari Batalion ke-52 Brigade Lapis Baja ke-401 tewas dalam pertempuran sengit di wilayah Jabalia, Gaza utara, sementara satu perwira lainnya mengalami luka parah.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, juga menyampaikan pernyataan serupa. “Kita telah kehilangan tiga putra terbaik, dan saya memberi hormat kepada seluruh tentara yang terus berjuang untuk memulangkan para tawanan, menjaga keamanan warga Israel, dan menghancurkan Hamas,” ujarnya.

Namun, narasi rezim Pendudukan ini berbanding terbalik dengan fakta di medan tempur.

Media Ibrani melaporkan bahwa keempat tentara tersebut tewas atau terluka akibat serangan presisi oleh pejuang Hamas, yang menargetkan kendaraan lapis baja mereka menggunakan rudal anti-tank.

Serangan tersebut terjadi pada Senin 14 Juli, sekitar pukul 12:00 siang waktu setempat, saat konvoi Militer Pendudukan melintas di kawasan Jabalia, salah satu titik konfrontasi paling keras di Gaza utara. Ketiga tentara Zionis dilaporkan tewas di dalam kendaraan tempur mereka yang hancur seketika akibat hantaman rudal Perlawanan.

Peristiwa ini kembali menunjukkan bahwa, meskipun menghadapi tekanan militer besar-besaran, para pejuang Perlawanan di Gaza tetap mempertahankan ketangguhan dan daya gempur mereka terhadap pasukan pendudukan, bahkan di jantung wilayah yang mereka klaim telah “dikuasai”.