Loading

Ketik untuk mencari

Amerika Eropa

Eropa dan Kanada Sudah Paham Gaya Amerika ‘Memeras Ala Mafia’, Apakah Dunia Masih Menutup Mata?

POROS PERLAWANAN – Dilaporkan oleh Kayhan pada Sabtu 19 Juli, seorang mantan pejabat tinggi Uni Eropa secara lugas menyatakan bahwa harapan akan tercapainya kesepakatan yang adil dan setara dengan Amerika Serikat hanyalah ilusi belaka. Dalam wawancara dengan Euronews, mantan Direktur Jenderal Direktorat Jenderal Perdagangan Komisi Eropa (DG Trade), Jean-Luc Demarty mengecam kebijakan luar negeri Washington yang dinilainya sebagai bentuk perundungan ekonomi yang terstruktur.

“Trump tidak sedang mencari kesepakatan. Ia memeras dengan metode ala mafia,” ujar Demarty.

“Apa yang dilakukan Amerika Serikat adalah bentuk perundungan terbuka. Kita harus menunjukkan kesiapan untuk melawan, seolah-olah kita telah meletakkan Colt kita sendiri di atas meja.”

Pernyataan tersebut merujuk pada ultimatum Donald Trump tertanggal 12 Juli lalu, yang mengancam akan memberlakukan tarif 30 persen atas seluruh impor dari Uni Eropa jika kesepakatan dagang yang dianggap “menguntungkan” tidak dicapai sebelum 1 Agustus.

Kanada Juga Menutup Pintu untuk Ilusi

Sikap serupa juga ditunjukkan oleh Kanada. Dalam sebuah wawancara daring, Anggota Parlemen Kanada, Charlie Angus menyatakan bahwa Donald Trump adalah aktor politik yang tidak dapat dipercaya dan tidak layak dijadikan mitra negosiasi. Ia menekankan bahwa pengalaman Kanada telah menunjukkan betapa merusaknya berurusan dengan kepemimpinan yang mempraktikkan diplomasi koersif.

“Trump menjanjikan 90 kesepakatan dagang dalam 90 hari, dan semuanya gagal. Ia juga menyatakan akan menandatangani kesepakatan dengan Kanada pada 21 Juli, namun yang terjadi justru penyerangan sepihak terhadap kepentingan kami,” ungkap Angus. “Perdana Menteri kami bahkan bersedia membatalkan pajak digital sebagai gestur itikad baik, namun hasilnya justru pengkhianatan terhadap kepercayaan publik.”

Angus menegaskan bahwa bernegosiasi dengan pihak yang secara konsisten menunjukkan permusuhan bukanlah strategi, melainkan penyerahan diri.

Lalu Mengapa Sebagian Masih Menaruh Harapan pada Washington?

Patut disesalkan, ketika para pemimpin Eropa dan Kanada secara terbuka mengakui ketidakmungkinan tercapainya relasi yang seimbang dengan Amerika Serikat, namun masih ada kalangan, termasuk di kawasan Asia dan dunia Muslim yang berkukuh untuk terus “mengemis pengakuan” dari Washington. Bahkan di Indonesia, sejumlah elite tampak lebih tertarik mengejar legitimasi dari Barat ketimbang membangun kedaulatan atas fondasi martabat nasional.

Waktu Sudah Berpihak pada Realisme, Bukan Fantasi Atlantik

Eropa telah sadar. Kanada pun telah belajar. Namun sebagian elite di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, masih memelihara ilusi bahwa pengakuan dari Washington akan membawa perubahan positif. Mereka mengabaikan fakta historis bahwa Amerika Serikat tidak pernah menghormati kelemahan, apalagi kerendahan hati.

Dalam dunia politik internasional, mengulangi kesalahan yang sama bukan sekadar kebodohan, tetapi bentuk kolaborasi diam-diam dengan penindasan. Itulah sebabnya, ketika dunia mulai membuka mata, tidak ada alasan bagi bangsa-bangsa merdeka untuk tetap menutupnya.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *