Gaza Hadapi Bencana Kekeringan Total: Pabrik Desalinasi Lumpuh, 1,2 Juta Jiwa Terancam
POROS PERLAWANAN – Pemerintah Kota Gaza memperingatkan bahwa kota ini tengah menghadapi bencana kekeringan yang belum pernah terjadi sebelumnya, setelah pabrik desalinasi utama dan stasiun pemompaan air berhenti total akibat agresi militer Israel dan krisis bahan bakar yang dipaksakan oleh blokade brutal.
Menurut Al Mayadeen, dalam pernyataan resmi pada Senin 21 Juli, otoritas kota menyampaikan bahwa pabrik desalinasi utama di wilayah utara telah sepenuhnya berhenti beroperasi, menjerumuskan lebih dari 1,2 juta pengungsi dan warga sipil Gaza ke dalam kondisi kehausan ekstrem dan ancaman penyakit menular.
Stasiun Air Ditutup, Saluran Utama Lumpuh
Pemerintah kota mengonfirmasi bahwa penutupan stasiun air Mekorot, salah satu jalur utama pasokan air dari luar Gaza telah memperparah situasi secara drastis. Ditambah dengan kelangkaan bahan bakar total, seluruh sistem pemompaan air kini tidak berfungsi.
“Jaringan distribusi air utama telah lumpuh. Sebagian besar wilayah kota tidak lagi mendapatkan suplai air. Sumur-sumur air pun satu per satu berhenti beroperasi,” bunyi pernyataan tersebut.
Pemerintah kota menggambarkan kondisi ini sebagai bencana kemanusiaan yang menjulang, dan memperingatkan bahwa tanpa intervensi cepat, jutaan nyawa berada dalam risiko langsung karena runtuhnya sistem penyediaan air secara total.
Blokade: Instrumen Kejahatan Sistemik
Krisis ini bukan bencana alam, tetapi hasil langsung dari kebijakan pendudukan Israel. Sejak awal agresi dan melalui blokade total Jalur Gaza, rezim Zionis:
– Mengontrol seluruh sumber daya air,
– Mencegah masuknya bahan bakar dan peralatan vital untuk operasional pabrik desalinasi, dan
– Secara aktif menghentikan aliran air Mekorot, yang merupakan salah satu dari sedikit jalur suplai eksternal.
Penutupan jalur Mekorot disebut sebagai faktor kunci yang memperdalam penderitaan, karena tidak hanya memutus pasokan, tetapi juga menghilangkan harapan minimal akan kelangsungan hidup di tengah kehancuran total infrastruktur.
Di Bawah Bayang Kehausan dan Kebisuan Dunia
Lebih dari 1,2 juta jiwa kini berada di bawah ancaman langsung tanpa akses air bersih, di tengah terik musim panas, penyakit menular, dan kelumpuhan sistem medis.
Pemerintah Kota Gaza menegaskan bahwa tidak ada respons internasional yang efektif sejauh ini. Dunia menyaksikan dalam diam ketika air, unsur paling dasar kehidupan dijadikan senjata perang oleh rezim Pendudukan yang tidak tersentuh hukum.
Air Dijadikan Alat Genosida Diam-Diam
Apa yang terjadi di Gaza hari ini bukan sekadar krisis air. Ini adalah taktik penghukuman kolektif, pengeringan sistematis, dan penggunaan kehausan sebagai instrumen genosida diam-diam, dilakukan di bawah lindungan veto, impunitas diplomatik, dan kegagalan institusi internasional.
Gaza kini berdiri di ambang bencana kemanusiaan yang disengaja, dan dunia punya pilihan: berdiam, atau bertindak sebelum nyawa berikutnya melayang karena kekeringan yang diproduksi manusia.
