Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

PBB: Urat Nadi Terakhir Kehidupan di Gaza Nyaris Putus

PBB: Urat Nadi Terakhir Kehidupan di Gaza Hampir Terpotong

POROS PERLAWANAN – Seiring berlanjutnya agresi Militer Israel, blokade brutal, dan timbulnya krisis kelaparan di Gaza, PBB memperingatkan bahwa urat nadi terakhir kehidupan di kawasan tersebut hampir-hampir terputus.

Dilansir al-Alam, sejak fajar Senin 21 Juli hingga saat ini, sebanyak 61 warga Palestina, termasuk mereka yang menanti bantuan kemanusiaan di pusat-pusat distribusi bantuan AS-Israel, telah gugur akiibat serangan dan penembakan serdadu Zionis.

Sebanyak 25 negara ini hingga kini telah mendesak Rezim Zionis untuk segera menghentikan agresinya ke Gaza.

Dilaporkan Al Mayadeen, krisis kemanusiaan di Jalur Gaza terus memburuk seiring dengan ditutupnya pabrik desalinasi utama di wilayah utara kota. Penutupan ini disebabkan oleh kelangkaan bahan bakar yang semakin parah, serta blokade Israel yang membatasi masuknya pasokan penting, termasuk bahan bakar dan peralatan teknis. Akibatnya, lebih dari 1,2 juta warga kini menghadapi ancaman serius akibat kekurangan air bersih.

Dalam pernyataan resminya pada Senin 21 Juli, Pemerintah Kota Gaza menyatakan bahwa pabrik desalinasi tersebut sudah tidak beroperasi sama sekali. Situasi ini diperburuk oleh penutupan saluran pasokan air dari perusahaan Israel, Mekorot, yang selama ini menjadi salah satu sumber eksternal utama pasokan air ke wilayah tersebut.

“Jalur utama distribusi air kini berhenti total. Sumur-sumur air tidak bisa dipompa karena tidak ada bahan bakar. Gaza mengalami kekeringan parah,” ujar seorang pejabat kota.

Kekeringan ini kini menjalar ke berbagai sektor kehidupan. Masyarakat terpaksa mengandalkan air dari pusat distribusi darurat, membawa air dengan wadah plastik seadanya, sering kali harus mengantre selama berjam-jam. Sanitasi juga ikut terdampak, memperbesar risiko wabah penyakit.

Blokade Israel yang telah berlangsung selama bertahun-tahun memperburuk krisis. Selain membatasi akses keluar masuk orang, Israel juga mengontrol ketat semua sumber daya penting, termasuk air dan listrik. Hal ini membuat Gaza nyaris mustahil untuk membangun atau memelihara infrastruktur air yang layak.

Krisis ini berubah menjadi tragedi pekan lalu ketika sebuah rudal Israel menghantam lokasi distribusi air di kamp pengungsi al-Nuseirat. Serangan tersebut menewaskan 8 warga Palestina, 6 di antaranya anak-anak, dan melukai sedikitnya 17 lainnya. Militer Israel mengklaim rudal tersebut meleset dari target karena kerusakan teknis.

Sementara dunia internasional terus menyerukan gencatan senjata dan bantuan kemanusiaan, kondisi di Gaza semakin mendesak. Para pejabat lokal memperingatkan bahwa tanpa campur tangan segera dari lembaga internasional, wilayah itu dapat menghadapi bencana kemanusiaan berskala besar dalam waktu dekat.