Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Militer Zionis Akui Gunakan Anak-anak Palestina sebagai ‘Perisai Manusia’ dan ‘Tikus Percobaan’ di Gaza

POROS PERLAWANAN — Seorang perwira Militer Israel secara terbuka mengakui bahwa pasukannya secara membabi-buta menembaki warga sipil Palestina di Gaza dan menggunakan anak-anak sebagai “perisai manusia”. Pengakuan ini memperkuat laporan panjang tentang kejahatan perang yang dilakukan oleh Militer Zionis sejak pecahnya agresi terhadap Jalur Gaza.

Dalam wawancara dengan surat kabar Ibrani, Yedioth Ahronoth yang dilansir Tasnimnews pada Kamis 24 Juli, prajurit yang identitasnya dirahasiakan itu mengatakan bahwa perintah dari atasannya menyebutkan tidak ada warga sipil yang benar-benar “tak bersalah” di Gaza.

“Kami diberi tahu bahwa tidak ada yang tidak bersalah di Gaza. Kami menembaki warga sipil secara membabi-buta, termasuk anak-anak dan orang tua. Tak ada satu pun perintah untuk tidak menembaki mereka,” ujarnya.

Anak-anak Digunakan sebagai Tameng Hidup

Lebih lanjut, prajurit itu mengungkapkan tindakan brutal lainnya yang dilakukan pasukannya, yakni penggunaan anak-anak Palestina sebagai “tameng hidup” di garis depan.

“Salah satu peristiwa yang tidak pernah saya lupakan adalah ketika kami menangkap sekelompok anak dan memaksa mereka berjalan di depan pasukan untuk membuka pintu rumah-rumah. Jika ada bahan peledak atau senjata, maka anak-anak itulah yang menjadi korban pertama,” katanya.

Ia juga mengakui bahwa selama operasi militer di sekitar pusat distribusi bantuan kemanusiaan, anak-anak ditangkap, ditutup matanya, diborgol, dan dijadikan tameng.

“Kami menyakiti puluhan ribu warga sipil, bahkan beberapa tawanan Israel sendiri. Banyak tentara yang kini mengalami gangguan psikologis. Kehidupan mereka hancur dan rasa bersalah terus menghantui,” tambahnya.

Jurnalis Israel: Kabinet Sengaja Tutupi Fakta

Jurnalis Yedioth Ahronoth yang merekam kesaksian ini, Rotem Isaac menulis bahwa rezim Israel berusaha menutup-nutupi kenyataan perang.

“Kabinet lebih memilih rakyat Israel tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di Gaza. Mereka ingin publik tetap percaya bahwa tentara berperang secara ‘etis’, meskipun di lapangan tentara menembaki warga sipil tanpa pandang bulu”, tulisnya.

Isaac juga menyoroti tingginya angka bunuh diri di kalangan tentara Israel, yang disebutnya sebagai dampak dari beban moral dan psikologis akibat perang.

AP dan Kesaksian Lainnya: Perisai Manusia Jadi Praktik Umum

Laporan Associated Press baru-baru ini turut menguatkan pengakuan tersebut. Mengutip para tahanan Palestina dan sejumlah tentara Israel, AP melaporkan bahwa Militer Zionis secara sistematis memaksa warga sipil Palestina, termasuk anak-anak, untuk masuk ke gedung dan terowongan demi “membersihkan” bahan peledak—sebuah praktik yang disebut sebagai “tikus percobaan”.

Seorang perwira Israel lainnya yang pernah ditugaskan di Gaza selama sembilan bulan mengungkap istilah militer yang digunakan untuk praktik tersebut: “Tindakan ini kami sebut ‘tikus percobaan’ dan ‘perisai bencana’. Kami memaksa warga Palestina masuk ke rumah-rumah, untuk memastikan tak ada senjata atau pasukan Perlawanan di dalamnya,” ujarnya.

Hamas: Kejahatan Perang Israel Harus Diadili

Pernyataan dan pengakuan ini menegaskan pernyataan yang selama ini disuarakan oleh Hamas dan lembaga HAM internasional, yang menyebut praktik Militer Israel sebagai bentuk kejahatan perang sistematis.

Hingga kini, pihak berwenang Israel terus menolak membuka penyelidikan independen terhadap dugaan pelanggaran berat di Gaza. Kabinet Israel juga menolak permintaan untuk mengungkap fakta-fakta terkait operasi militer yang telah berlangsung lebih dari 19 bulan.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *