Laporan Terbaru Channel 13: Serangan Rudal Iran ke Kilang Haifa ‘Guncang’ Rezim Israel
POROS PERLAWANAN — Setelah sebulan penyensoran ketat, jaringan Zionis Channel 13 akhirnya menayangkan laporan tentang kerusakan parah yang ditimbulkan oleh serangan rudal Iran terhadap kilang Haifa, demikian dilaporkan harian Kayhan pada Sabtu 26 Juli.
Jaringan tersebut mengungkapkan: “Dalam kabut perang, kerusakan akibat kebakaran di kilang-kilang minyak telah disembunyikan sejak awal konflik dengan Iran. Pukulan hebat menghantam pembangkit listrik—bangunan yang Anda lihat di depan kita. Kedua cerobong asap itu merupakan bagian dari ketel uap pembangkit listrik. Faktanya, inilah sumber energi utama untuk seluruh pabrik. Bangunan yang meledak itu adalah jembatan pipa utama yang mengangkut material antardivisi, dan area operasional kapal tanker produk minyak. Ketiga titik ini, yang diserang secara bersamaan, telah melumpuhkan kilang Bazan”.
Kilang Bazan adalah satu dari hanya dua kilang di Israel yang memproduksi bensin, solar, bahan bakar jet, hingga gas untuk memasak. “Sehari sebelum insiden, Menteri Perlindungan Lingkungan mengunjungi lokasi. Saya sempat mempresentasikan skenario yang ternyata menjadi kenyataan keesokan harinya. Saya bilang, jika terjadi serangan langsung, musuh tahu tepat sasaran mana yang harus dihantam, dengan tujuan utama: polusi dan kebakaran. Dan itulah yang terjadi.”
Serangan terhadap pembangkit listrik langsung melumpuhkan pasokan listrik dan produksi uap kilang, membuat seluruh fasilitas tidak beroperasi.
Kini, ancaman ledakan tidak hanya membayangi lokasi produksi di Haifa, tetapi telah merembet hingga ke ruang rapat pemerintah di Yerusalem.
Selama proses rekonstruksi, tingkat polusi udara justru meningkat. Mengingat pola angin di wilayah tersebut, seluruh kota metropolitan di sekitarnya yang berpenduduk lebih dari satu juta jiwa, terancam menghirup udara tercemar. Dalam beberapa minggu terakhir, warga melaporkan mata perih dan bau menyengat.
Kementerian Energi memperingatkan: jika perbaikan tidak segera dilakukan, akan terjadi kelangkaan bahan bakar untuk ambulans, truk pendingin, bus, hingga kendaraan militer. Kilang Bazan pada praktiknya telah ditutup bukan oleh Israel, bukan oleh pemerintah, tetapi oleh Iran.
Kini Israel berada di persimpangan jalan: Apakah harus menghabiskan ratusan juta Shekel dan waktu berbulan-bulan untuk merekonstruksi kilang, atau mengikuti keputusan pemerintah dan mempercepat evakuasi?
Untuk jangka pendek, pemerintah mengandalkan cadangan bahan bakar darurat. Namun, pihak kilang memperingatkan bahwa sanksi internasional atau perang lanjutan dapat memutus pasokan bahan bakar, menjadikan produksi dalam negeri sebagai kebutuhan vital.
Namun persoalan belum berakhir.
Pelabuhan Haifa Menolak Kargo Darurat untuk Kilang Bazan
Awal pekan ini, sebuah kapal yang membawa 200 ton pipa untuk renovasi kilang Bazan tiba di Pelabuhan Haifa. Meski tergolong sebagai kargo darurat, pelabuhan menolak menerimanya. Kapal tersebut kemudian dialihkan ke galangan Israel terdekat.
Catatan: 200 ton pipa setara dengan lebih dari dua kilometer jaringan pipa mengindikasikan tingkat kerusakan yang signifikan.
Ironisnya, saat itu hanya tiga kapal yang mengantre di Pelabuhan Haifa. Menurut Otoritas Pengiriman dan Pelabuhan, kapal pengangkut pipa seharusnya mendapat prioritas bongkar. Namun, pihak pelabuhan menyatakan kekurangan tenaga kerja parah, dan mengarahkan kapal tersebut ke pelabuhan tetangga yang sudah memiliki 38 kapal dalam antrean.
Pelabuhan tetangga tersebut memang beroperasi di lima dermaga secara bersamaan dan membuka shift malam untuk mengurangi antrean. Namun, keputusan tersebut membuat banyak importir geram. Mereka mempertanyakan: Mengapa 38 kapal lainnya harus tertunda? Mengapa Pelabuhan Haifa tidak merekrut lebih banyak tenaga kerja?
Para importir menuduh pelabuhan lebih memilih menyewakan ruang kontainernya untuk penyimpanan mobil, ketimbang membongkar barang penting seperti biji-bijian, besi, dan bahan bakar, karena alasan keuntungan. Kini, pelabuhan meminta izin pemerintah untuk menarik dana sebesar 2,8 miliar Shekel guna membayar utang.
