Setelah Pembantaian 60.000 Warga Palestina, Trump: Kami Ingin Membantu Rakyat Gaza
POROS PERLAWANAN — Presiden Amerika Serikat, Donald J. Trump, kembali melontarkan retorika demagogis, mengeklaim kepedulian terhadap rakyat Gaza di tengah keterlibatan langsung Washington dalam agresi militer yang menewaskan lebih dari 60.000 warga sipil Palestina.
Dalam wawancaranya dengan Axios yang dikutip Al Jazeera pada Jumat 1 Agustus, Trump menyatakan, “Kami ingin membantu rakyat Gaza, dan ini seharusnya sudah dilakukan sejak lama.”
Pernyataan ini disampaikan tak lama setelah laporan independen mengonfirmasi bahwa serangan Israel yang didukung penuh oleh AS telah menyebabkan kehancuran massif di Jalur Gaza, termasuk pemusnahan infrastruktur sipil, rumah sakit, sekolah, serta pembantaian massal terhadap perempuan dan anak-anak.
AS Sponsor Utama Agresi Zionis
Washington tercatat sebagai penyokong utama mesin perang Israel. Dukungan itu meliputi miliaran Dolar bantuan militer tahunan, veto terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB yang mengecam Israel, serta perlindungan diplomatik terhadap kejahatan perang di forum internasional.
Namun, dalam wawancara yang sama, Trump mengalihkan isu dengan menyalahkan pihak Palestina. Tanpa menyebut blokade Israel atau pengeboman rumah sakit dan jalur distribusi pangan, ia berkata: “Saya prihatin dengan laporan kelaparan di Gaza.”
“Namun bantuan yang dikirim dicuri oleh Hamas,” tambahnya, sebuah tudingan ngawur yang berulang kali dikutip tanpa verifikasi independen, dan telah digunakan untuk membenarkan penghentian bantuan kemanusiaan.
60.000 Tewas, Trump Bicara Bantuan
Fakta di lapangan menunjukkan dimensi kehancuran yang jauh lebih nyata ketimbang klaim simpati tersebut. Menurut laporan dari organisasi hak asasi manusia dan data PBB, lebih dari 60.000 warga Palestina terbunuh dalam agresi Israel yang berlangsung selama berbulan-bulan. Sebagian besar korban adalah warga sipil tak bersenjata.
Beberapa jam sebelum pernyataan Trump, seorang pejabat senior UNICEF menyampaikan bahwa Gaza telah melampaui batas krisis kemanusiaan: “Satu dari tiga warga Gaza tidak makan selama berhari-hari. Kami membutuhkan akses penuh melalui perlintasan darat untuk membanjiri Gaza dengan bantuan.”
Ia juga menegaskan: “Anak-anak kelaparan dan sekarat. Ribuan mengalami malnutrisi berat. Situasi ini memburuk setiap menit.”
UNRWA: Bantuan Udara Gimmick Mahal
Komisaris Jenderal UNRWA, Philippe Lazzarini mengkritik keras solusi pengangkutan bantuan lewat udara.
“Drop bantuan udara 100 kali lebih mahal daripada truk, dan hanya membawa setengah dari kapasitasnya.”
“Jika ada kemauan politik untuk menyetujui cara yang tidak efisien ini, maka seharusnya ada pula kemauan yang sama untuk membuka perlintasan darat,” tegasnya.
Retorika Lama, Kepedulian Semu
Ini bukan pertama kalinya Trump mengeklaim mendukung rakyat Gaza. Pada awal Agustus 2018, ia menyatakan, “Kami mengalokasikan $60 juta untuk Gaza dua minggu lalu. Tapi tidak ada yang berterima kasih kepada kami.”
Ucapan ini disampaikan tanpa menyebut bahwa dalam periode yang sama, Pemerintahannya menghentikan seluruh pendanaan untuk UNRWA, Badan PBB yang menjadi tulang punggung pelayanan kesehatan dan pendidikan bagi pengungsi Palestina sekaligus mempercepat pemindahan kedutaan besar AS ke Yerusalem, yang memicu gelombang kemarahan dan protes di dunia Islam.
Saat ditanya mengenai kemungkinan peralihan dari pendekatan bertahap ke kesepakatan menyeluruh terkait Gaza, Trump hanya menjawab singkat: “Anda akan segera melihatnya.”
Penutup: Siapa yang Sebenarnya Membantu Gaza?
Di balik retorika Trump, Gaza tetap dikepung, dibombardir, dan dikondisikan untuk kelaparan massal. Bantuan yang dijanjikan tidak pernah menjadi kenyataan. Hal yang terjadi justru perluasan normalisasi, penghapusan isu Palestina dari prioritas diplomatik, serta konsolidasi poros agresor.
Sementara itu, rakyat Gaza bertahan dalam situasi yang oleh PBB digambarkan sebagai “tak lagi layak huni”. Sementara dunia, termasuk media arus utama, terus dibius oleh narasi palsu dari para arsitek pembantaian.
