Israel Jadikan Wacana Negosiasi Gencatan Senjata sebagai Kedok untuk Lanjutkan Kejahatannya di Gaza
POROS PERLAWANAN – Di balik wacana perundingan gencatan senjata, Israel kembali menjadikan jalur diplomasi sebagai kedok untuk melancarkan pembantaian baru di Kota Gaza dan wilayah utara. Rencana pendudukan skala besar dipersiapkan, lengkap dengan strategi perang psikologis yang menjerumuskan warga sipil ke dalam lingkaran penderitaan tanpa ujung.
Menurut Tasnim News Agency pada Senin 18 Agustus, Militer Israel dalam dua pekan terakhir gencar melancarkan perang psikologis terhadap warga Gaza. Selama tiga hari terakhir, sejumlah perwira dan komandan militer bahkan secara terbuka mengumumkan rencana pendudukan Kota Gaza.
Israel juga mulai memasukkan tenda serta infrastruktur dasar melalui perlintasan Karam Abu Salem dengan dalih membangun “kamp kemanusiaan” bagi warga Gaza utara. Namun, publik mengingat bahwa sejak Mei lalu, pusat-pusat serupa di selatan dan tengah Gaza justru berubah menjadi perangkap mematikan yang menewaskan pengungsi kelaparan.
Media Ibrani melaporkan bahwa wilayah yang dipersiapkan untuk menampung hingga satu juta pengungsi kali ini adalah Rafah, kota yang kini terkepung di bawah kontrol Militer Israel.
Kepala Staf IOF, Eyal Zamir, telah mengonfirmasi rencana detail pendudukan, sementara Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, disebut akan meninjau persetujuan akhir dalam waktu dekat.
Skema Evakuasi dan Serangan Darat
Harian Ibrani Richet Kan menyebut Israel telah menyiapkan beberapa tahap operasi: pembangunan “kompleks kemanusiaan” di Gaza selatan, evakuasi massal setelah dua pekan, lalu pengepungan dan serangan darat bertahap terhadap Kota Gaza. Operasi itu diproyeksikan berlangsung hingga empat bulan, disertai bombardir udara besar-besaran.
Israel juga mengirim pesan ancaman kepada mediator agar menekan Hamas kembali ke meja perundingan. Pesan itu menegaskan fase pertama pendudukan akan segera dimulai jika tuntutan Israel tidak dipenuhi.
Bagi warga Gaza, rencana baru ini hanya membangkitkan trauma lama. Mereka mengingat kengerian pengepungan Jabalia, Beit Lahia, dan Beit Hanoun, di mana warga sipil tewas dibantai atau terkubur di bawah reruntuhan.
“Pengungsian adalah kematian perlahan,” ujar warga Gaza utara, Abu Muhammad Sami kepada Al-Akhbar. “Rumah saya sudah hancur, tapi saya lebih baik mati di sini daripada mengungsi. Gaza selatan sudah penuh sesak, tidak ada lagi ruang hidup.”
Negosiasi sebagai Topeng
Pada level politik, Kelompok Perlawanan Palestina menggelar pertemuan di Kairo. Menurut Al-Akhbar, Israel mengajukan syarat berat: pelucutan senjata Perlawanan, penyingkiran pemimpin politik Hamas, pembebasan seluruh tahanan Israel, kontrol Militer atas seperempat wilayah Gaza, serta pembentukan pemerintahan baru yang mau berkompromi.
Delegasi Hamas menolak syarat tersebut. Khalil al-Hayyah menegaskan Hamas menginginkan proses politik yang mengarah pada pembentukan negara Palestina, bukan sekadar penyerahan sepihak.
Analisis
Lebih dari 22 bulan perang menunjukkan pola yang berulang: Israel menjadikan perundingan sebagai selubung bagi operasi militer yang semakin brutal. Negosiasi digunakan untuk meredam opini publik internasional, sementara di lapangan, pembantaian dan pendudukan terus berjalan. Dengan kata lain, gencatan senjata bagi rakyat Gaza lebih sering berarti jeda yang dimanfaatkan penjajah untuk menyiapkan kejahatan berikutnya.
