UEA dan Arab Saudi Tak Berani Lagi Terlibat Konflik Langsung dengan Yaman
POROS PERLAWANAN – Sebuah perusahaan intelijen risiko asal Inggris secara terang-terangan mengakui fakta pahit bagi rezim Teluk: kekuatan militer Yaman telah menumbuhkan efek jera yang membuat Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) tak berani lagi terjun ke medan perang langsung.
Menurut laporan Al-Masirah pada Rabu 20 Agustus, lembaga Verisk Maplecroft menegaskan bahwa kemampuan militer Yaman kini menjadi faktor penentu yang menahan Saudi dan UEA.
Hal yang membuat pengakuan ini semakin telak adalah reputasi Verisk Maplecroft. Perusahaan intelijen risiko global tersebut biasanya memberi layanan analisis untuk korporasi besar lintas sektor dari energi, pertambangan, IT, ritel, asuransi, jasa keuangan, manufaktur, hingga otomotif dengan dukungan data geospasial dan riset keberlanjutan. Sebagai bagian dari raksasa Verisk (Nasdaq:VRSK), suaranya menjadi rujukan perusahaan multinasional, bukan propaganda politik. Dengan kata lain, ketakutan terhadap Yaman diakui dalam bahasa dingin dunia korporasi: analisis risiko.
Kontras ini menampar Saudi dan UEA yang selama bertahun-tahun membakar ratusan miliar Dolar untuk membeli jet tempur, rudal, dan sistem pertahanan canggih Barat. Semua perlengkapan modern itu ternyata tak sanggup meredam serangan Yaman, yang justru semakin berani menarget jantung infrastruktur lawan.
Dalam konteks regional, laporan Maplecroft juga menyebut gencatan senjata di Gaza berpotensi mengurangi ketegangan. Namun, justru operasi militer Yaman yang sukseslah yang menebar ketakutan hingga Washington ikut berhitung ulang.
Seorang pejabat Amerika Serikat, dikutip Al-Monitor, menegaskan bahwa Pentagon sama sekali tidak terlibat, baik dalam bentuk dukungan intelijen maupun logistik pada serangan Israel terbaru terhadap fasilitas listrik di selatan Sanaa. Pernyataan ini menunjukkan satu hal, bahkan AS tak mau terseret lebih jauh ke kubangan yang bernama “konflik dengan Yaman”.
