Ironi Suriah Selatan: Dari Benteng Perlawanan Menjadi Arena Pelesiran Zionis
POROS PERLAWANAN – Suriah Selatan hari ini lebih mirip halaman rekreasi tentara Zionis ketimbang tanah berdaulat. Kendaraan lapis baja mereka bebas keluar masuk Daraa, Quneitra, hingga Cekungan Yarmouk, seakan-akan sedang melakukan tur wisata militer dengan rute eksklusif: “Menjelajahi Sisa-sisa Negeri yang Pernah Bernama Suriah”.
Televisi Suriah pada Rabu 19 Agustus, melaporkan bahwa enam kendaraan Israel dengan santai menyusup ke desa Sisun. Sementara itu, di pinggiran Ain Dhikr, pasukan Zionis kembali menduduki bekas barak Brigade ke-112. Dan anehnya, laporan ini disampaikan tanpa nada marah, seolah-olah tentara Zionis hanyalah rombongan peziarah yang sedang transit.
Lebih mengejutkan lagi, agresi ini terjadi di tengah obrolan manis tentang normalisasi. Ya, normalisasi adalah kata kunci favorit para pejabat yang lebih sibuk mencari tempat duduk di ruang perjamuan politik daripada menjaga integritas negaranya. Ahmad al-Sharaa dan kolega tampaknya begitu tergesa-gesa menyiapkan kursi bagi Netanyahu, bahkan ketika kursi rakyatnya sendiri sudah lama dilucuti.
Air, Tanah, dan Ilusi Diplomasi
Cekungan Yarmouk bukan sekadar wilayah terpencil. Itu adalah jalur air vital bagi Suriah dan Yordania. Sungai Yarmouk yang menghidupi jutaan orang, kini lebih terlihat sebagai hadiah bonus bagi Zionis dengan air mengalir, tanah terbuka, dan perlawanan diam. Ketika rezim Israel memperluas agresinya ke sumber daya strategis ini, reaksi Damaskus justru datang dalam bentuk diplomasi manis, bukan perlawanan.
Apakah ini cerdik? Tentu saja. Cerdik, jika yang dimaksud adalah cerdik menyerahkan kedaulatan sendiri sambil berharap bisa duduk di meja makan bersama penjajah.
Gencatan Senjata: Dari Perjanjian Jadi Lelucon
Pemerintah al-Jolani berdalih bahwa kontak dengan Israel sebatas “urusan keamanan”, bahkan menyinggung soal menghidupkan kembali perjanjian gencatan senjata 1974. Ironinya, perjanjian itu sudah lama mati, dilanggar, dan dikubur oleh Zionis sendiri. Menghidupkannya kembali kini hanya bisa disebut satu hal: nekrofilia politik.
Bagaimana mungkin Anda bernegosiasi dengan pihak yang setiap hari menghancurkan desa, menangkap warga sipil, dan merambah zona penyangga yang sudah jelas tertera di dokumen perjanjian? Logikanya sederhana: jika Israel tidak menghormati perjanjian saat Anda punya tentara, mengapa mereka akan menghormatinya saat Anda tak punya daya?
Kompromi ala Damaskus
Sumber-sumber Ibrani sudah membocorkan bahwa draft kompromi siap diteken pada akhir tahun ini. Artinya, Zionis menulis peta agresi, sementara Damaskus menyiapkan pena emas. Semua ini dibungkus dalam narasi “rekonsiliasi formal”, padahal yang terjadi sebenarnya adalah penyerahan resmi sisa-sisa martabat.
Tak mustahil, suatu hari nanti kita akan membaca tajuk berita seperti ini: “Damaskus Resmi Menormalisasi Hubungan dengan Tel Aviv, Disaksikan Pasukan Israel yang Baru Selesai Patroli di Pinggiran Ibu Kota”.
Normalisasi atau Penyerahan?
Apa yang terjadi di Suriah Selatan hari ini tidak bisa direduksi dengan istilah invasi militer. Ini adalah invasi makna, invasi logika, bahkan invasi harga diri. Tentara Zionis tak hanya menaklukkan tanah, tetapi juga menundukkan nalar sebagian elite Damaskus.
Dengan kata lain: jika agresi militer disebut “kunjungan”, jika pelanggaran kedaulatan disebut “urusan keamanan”, dan jika penyerahan martabat disebut “normalisasi”, maka sejarah Suriah akan dikenang bukan sebagai kisah perlawanan, melainkan kisah ironis tentang sebuah bangsa yang rela menyalami tangan penjajah, bahkan saat tangan itu masih berlumuran darahnya sendiri.
Pertemuan Paris: Dari Bayangan Samar ke Terang
Seakan belum cukup, laporan terbaru menyebutkan adanya pertemuan tingkat tinggi antara Menteri Luar Negeri Pemerintah Sementara Suriah, Asad Shaibani, dan Menteri Urusan Strategis Israel, Ron Dermer, di Paris. Pertemuan itu dihadiri pula oleh pejabat intelijen Suriah, Prancis, dan utusan Donald Trump. Artinya, negosiasi “bayangan” kini resmi naik kelas, dari ruang belakang menuju meja utama.
Menurut sumber media regional, agenda pertemuan tak main-main: pencegahan kembalinya Iran dan pembentukan Hizbullah di Suriah, serta normalisasi Damaskus–Tel Aviv. Kehadiran nama Netanyahu dan bahkan Donald Trump jelas menunjukkan bahwa skenario ini bukan urusan bilateral semata, melainkan bagian dari arsitektur geopolitik yang lebih besar.
Delegasi Suriah mencoba terlihat tegas dengan menyodorkan tiga pilar: penolakan pemecahan wilayah, penegasan Sweida sebagai bagian tak terpisahkan dari Suriah, dan langkah-langkah pengurangan ketegangan. Sekilas terdengar nasionalis. Namun fakta bahwa garis merah ini dinegosiasikan di hadapan rezim Zionis, membuatnya tampak lebih sebagai kosmetik politik ketimbang komitmen sejati.
Ah, tampaknya Damaskus rela menukar darah rakyatnya dengan kursi di meja jamuan penjajah; sebuah kursi yang barangkali megah, namun diduduki di atas kuburan sendiri.
