Gaza: Hidup yang Hilang, Angka yang Membeku
POROS PERLAWANAN – Di Gaza, angka kematian terus bertambah: 62.966 orang tewas, lebih dari 159 ribu luka-luka. Namun di balik statistik itu ada wajah-wajah, keluarga, dan cerita yang kini terhenti.
Kantor Berita Shehab Palestina melaporkan dengan menukil Kementerian Kesehatan Gaza, bahwa pada Kamis 28 Agustus sedikitnya 71 warga Palestina tewas dalam rentang 24 jam. Dari jumlah itu, 21 orang meregang nyawa ketika sedang mengantre bantuan makanan, sebuah barisan yang seharusnya menjadi simbol harapan, namun justru berubah menjadi garis akhir kehidupan.
Di rumah sakit yang sudah tak layak disebut rumah sakit, para dokter bekerja tanpa obat, tanpa listrik, dan sering kali tanpa tidur. Mereka harus memilih siapa yang bisa ditolong dan siapa yang harus dibiarkan pergi, keputusan yang sepintas terkesan “tak manusiawi”, namun terpaksa dilakukan setiap hari.
Sejak 18 Maret 2025, gelombang serangan baru menelan lebih dari 11 ribu jiwa. Setiap ledakan berarti rumah yang hancur, keluarga yang tercerai, atau anak-anak yang kini yatim. Gaza berubah menjadi tempat di mana setiap suara sirene bisa berarti kehilangan berikutnya.
Di balik reruntuhan, orang-orang masih mencari. Ada yang menggali dengan tangan kosong, berharap menemukan anggota keluarga, entah hidup atau setidaknya tubuh untuk dimakamkan.
Angka-angka dari Kementerian Kesehatan Palestina terdengar dingin, tapi di Gaza, setiap angka adalah nama, adalah wajah, adalah kehidupan yang tak akan kembali. Dunia terus mencatat statistik, sementara di dalam tembok blokade, manusia terus jatuh berguguran satu demi satu.
