Gaza Membara: Israel Deklarasikan Kota Gaza sebagai Zona Tempur, Warga Mengungsi dalam Ketakutan
POROS PERLAWANAN – Dilansir Al Mayadeen, kekerasan kembali memuncak di Jalur Gaza setelah pasukan Pendudukan Israel (IOF) secara resmi menyatakan Kota Gaza sebagai “zona tempur berbahaya”. Keputusan ini memperburuk kondisi kemanusiaan yang sudah sangat kritis, di mana ratusan ribu warga Palestina terpaksa mengungsi di tengah gempuran tanpa henti.
Setidaknya 41 warga Palestina dilaporkan tewas sejak Jumat 29 Agustus, akibat rentetan serangan udara dan penembakan yang dilakukan oleh pasukan Israel, menurut laporan dari koresponden Al Mayadeen. Sementara itu, puluhan lainnya menderita luka-luka, termasuk mereka yang tengah mengantre bantuan kemanusiaan di wilayah selatan Wadi Gaza.
Di Rumah Sakit al-Awda di Nuseirat, petugas medis melaporkan menerima empat jenazah korban dan merawat sepuluh korban luka. Serangan juga menghantam kamp pengungsi al-Bureij, menewaskan dua orang saat pesawat tempur membom reruntuhan rumah keluarga Qreinawi.
Kekerasan berlanjut di Rafah, tempat dua warga Palestina tewas akibat tembakan saat menunggu distribusi bantuan. Di daerah Mawasi Khan Younis, serangan drone kembali melukai beberapa warga sipil.
Meski tekanan internasional terus meningkat, termasuk seruan dari PBB untuk menghentikan kekerasan dan memperingatkan ancaman kelaparan, Israel justru memperluas operasi militernya di Kota Gaza. IOF mengumumkan bahwa mulai Jumat pagi, jeda taktis militer tidak lagi berlaku di wilayah tersebut.
Hampir satu juta warga Palestina kini berada di Provinsi Gaza, yang mencakup Kota Gaza dan wilayah utara. Banyak dari mereka telah kehilangan rumah dan keluarga, dipaksa berpindah-pindah demi keselamatan yang belum tentu ada.
“Kami lelah. Sudah lima kali saya mengungsi sejak perang dimulai. Kini saya harus meninggalkan lagi sisa rumah dan kenangan saya,” ujar salah satu pengungsi, Abdul Karim Al-Damagh (64), yang diwawancarai AFP.
Sementara itu, warga kamp Jabalia, Mohammed Abu Qamar (42) menggambarkan ketidakpastian yang mencekam: “Kami berjalan tanpa arah, tak tahu apakah akan selamat atau tewas di jalan.”
Dengan meningkatnya serangan, ketakutan dan rasa kehilangan menjadi realitas yang tak terelakkan bagi rakyat Gaza.
