Loading

Ketik untuk mencari

Analisa Yaman

Analisis Pidato Abdul-Malik Al-Houthi dan Proyek ‘Israel Raya’

Al-Houthi Sindir Pedas Saudi yang Hamburkan Uang untuk AS

POROS PERLAWANAN – Pidato Pemimpin Ansharullah Yaman, Abdul-Malik Al-Houthi, pada Kamis malam 28 Agustus, menyoroti petualangan Tel Aviv yang menurutnya telah melewati “semua garis merah”. Disiarkan oleh Al-Masirah, pidato ini memotret satu tesis besar, bahwa Gaza hanyalah laboratorium dari strategi ekspansi Israel yang lebih luas, menyasar Suriah, Lebanon, bahkan seluruh Levant.

Gaza: Strategi Penghancuran Total

Dalam pandangan Al-Houthi, serangan Israel di Jalur Gaza tidak sekadar operasi militer melawan Hamas, melainkan “pembantaian sistematis” terhadap seluruh masyarakat sipil.

“Musuh Zionis membantai penduduk Jalur Gaza setiap minggu… Mereka menargetkan dokter dan jurnalis. Tel Aviv bahkan tidak mengizinkan warga Palestina memancing di laut,” ungkapnya.

Laporan PBB turut mengonfirmasi kehancuran massif, dengan hampir 98 persen infrastruktur pertanian Gaza hancur, sementara blokade ketat membuat akses pangan, air, dan obat-obatan terputus. Dalam kerangka ini, pernyataan Al-Houthi menggarisbawahi proyek besar bahwa Israel tengah melakukan bentuk “pemusnahan sosial” terhadap penduduk Gaza.

Yerusalem dan Masjid Al-Aqsa: Simbol yang Digempur

Al-Houthi menyoroti intensitas penggalian arkeologis di bawah Masjid Al-Aqsa. Menurutnya, proyek itu bukan upaya ilmiah, melainkan strategi melemahkan simbol politik dan keagamaan umat Islam.

“Tel Aviv berusaha menghancurkan Masjid Al-Aqsa. Model kerja sama Otoritas Palestina dengan Zionis ingin diterapkan pula di Suriah dan Lebanon,” ujarnya.

Al-Aqsa di sini bukan hanya soal situs religius, melainkan titik pusat legitimasi. Siapa yang menguasai Al-Aqsa, dalam narasi Al-Houthi, berhak mengeklaim kendali atas Kawasan.

Suriah: Air sebagai Medan Baru Konflik

Bagian paling tajam dari pidato tersebut justru menyinggung Suriah. Al-Houthi menyorot tajam Israel yang tengah mengincar sumber daya air di selatan negeri itu sebagai alat tekanan geopolitik.

“Mungkin akan tiba saatnya rakyat Suriah terpaksa membeli setetes air dari sungai-sungai negeri mereka sendiri dengan harga yang mahal,” tegasnya.

Isu air sebagai senjata bukan hal baru. Israel memiliki sejarah panjang memanfaatkan Sungai Yordan, serta pernah berusaha menguasai Litani di Lebanon. Dalam konflik modern, kontrol atas air sering kali sama strategisnya dengan kendali atas minyak. Jika benar, peringatan Al-Houthi membuka babak baru konflik Levant, bukan hanya persoalam tanah, tapi juga soal kelangsungan hidup.

Lebanon: Melucuti Perlawanan atau Menyulut Perang?

Pidato Al-Houthi juga menyoroti dinamika Lebanon, yang menurutnya mulai menunjukkan “respons positif” terhadap instruksi Israel. Ia menyebut hal itu sebagai “keruntuhan moral” yang sejalan dengan visi Netanyahu tentang “Israel Raya”.

Konteks ini terkait tekanan untuk melucuti senjata Hizbullah, yang bagi sebagian pihak dianggap langkah menuju stabilitas, tetapi dalam perspektif Perlawanan justru membuka jalan bagi agresi Israel.

Rudal Yaman: Faktor Pengganggu Baru

Sebagai penutup, Al-Houthi menampilkan kekuatan militer Ansharullah. Ia mengeklaim Yaman kini memiliki teknologi hulu ledak klaster untuk rudal Palestine 2.

“Agresi rezim Zionis terhadap Yaman telah gagal,” ujarnya.

Pernyataan Al-Houthi ini selaras dengan fakta di lapangan. Sejak 2023, serangan drone dan rudal Ansharullah ke Laut Merah telah mengguncang jalur perdagangan global. Jika kemampuan balistik Yaman terus berkembang, Israel berhadapan dengan ancaman baru dari arah selatan, selain Gaza, Lebanon, dan Suriah.

Analisis POROS PERLAWANAN: Retorika Perlawanan atau Realitas Geopolitik?

Lewat pidatonya, Al-Houthi menegaskan reposisi Ansharullah sebagai aktor regional dalam Poros Perlawanan yang dipimpin Iran. Dalam bingkai ini, Israel dipandang bukan hanya lawan politik Palestina, melainkan proyek ekspansionis yang mengancam eksistensi tatanan Arab secara keseluruhan.

Kritik Al-Houthi terhadap negara-negara Arab yang membuka hubungan dengan Israel jelas diarahkan pada tren normalisasi pasca-Abraham Accords, mulai dari UEA, Bahrain, hingga potensi keterlibatan Arab Saudi. Dalam logika Ansharullah, langkah ini bukan terbatas pada diplomasi pragmatis, melainkan bentuk legitimasi terhadap proyek “Israel Raya”.

Normalisasi ini dianggap berbahaya karena mengikis solidaritas regional dan menggeser isu Palestina dari pusat perhatian dunia Arab. Dengan kata lain, Tel Aviv memperoleh ruang untuk menguatkan ambisi ekspansionisnya tanpa lagi menghadapi tekanan kolektif dari negara-negara sekitar.

Mengangkat isu Suriah dan sumber daya air menandai pergeseran geopolitik dari perebutan tanah ke perebutan sumber daya vital. Peringatan Al-Houthi tentang kemungkinan rakyat Suriah harus “membeli setetes air dari sungai mereka sendiri dengan harga mahal” mencerminkan kekhawatiran atas skema Israel untuk mengendalikan infrastruktur air di Levant.

Sejarah mencatat bahwa kontrol Israel atas Sungai Yordan dan ambisi terhadap Sungai Litani di Lebanon pernah menjadi sumber konflik. Jika air benar-benar menjadi tuas tekanan baru, maka konflik Kawasan akan memasuki fase yang lebih kompleks, melibatkan faktor lingkungan hidup sekaligus keamanan regional.

Yaman sebagai Faktor Penyeimbang

Dengan menonjolkan kemampuan rudal jarak jauh, Ansharullah berusaha memposisikan diri bukan sekedar milisi lokal di Sanaa, melainkan aktor regional yang mampu mengguncang kepentingan strategis Israel dan sekutunya. Serangan drone dan rudal Ansharullah di Laut Merah sejak 2023 sudah membuktikan kapasitas itu: jalur perdagangan global pun terguncang, dan biaya keamanan regional melonjak drastis.

Keberhasilan Militer Yaman memberi dimensi baru dalam kalkulasi Tel Aviv. Dari sekadar “front tambahan”, Yaman kini berkembang menjadi salah satu front utama yang memaksa Israel membagi fokusnya antara Gaza, Lebanon, Suriah, dan kini Laut Merah.

Dalam kerangka ini, pernyataan Al-Houthi bukanlah retorika emosional belaka. Pemimpin Ansharullah itu membingkai Gaza, Yerusalem, Suriah, dan Lebanon sebagai bagian dari satu proyek geopolitik: “Israel Raya”. Dengan itu, Al-Houthi mendorong narasi bahwa perlawanan harus lintas-batas, tak boleh berhenti di Gaza.

Selama Gaza terus terbakar, pidato semacam ini jelas akan menemukan pendengar yang siap menjadikannya doktrin, dan mungkin, peta jalan konflik berikutnya di Timur Tengah.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *