Video Baru Tawanan Israel: Kami Tawanan Netanyahu, Bukan Hamas
POROS PERLAWANAN — Dilansir Al Mayadeen, Gaza kembali menjadi sorotan internasional setelah sayap militer Hamas, Brigade al-Qassam merilis sebuah video terbaru yang menampilkan dua tawanan Israel di Jalur Gaza. Rekaman yang dipublikasikan melalui kanal Telegram kelompok itu pada Jumat 28 Agustus diberi judul tegas: “Waktu Habis…!” dan memuat pesan emosional dari salah satu tawanan, Guy Gilboa-Dalal.
Dalam video tersebut, Dalal menyampaikan permohonan langsung kepada pemerintah Israel dan komunitas pemukim agar segera menghentikan serangan militer terhadap Gaza. Ia memperingatkan bahwa kelanjutan agresi tidak hanya membahayakan jutaan warga sipil Palestina, tetapi juga mengancam nyawa para tawanan Israel yang masih ditahan, termasuk dirinya.
Serangan Jadi Hukuman Mati
Rekaman yang bertanggal 28 Agustus 2025 itu memperlihatkan Dalal mengendarai kendaraan di tengah puing-puing Kota Gaza. Ia juga tampak berinteraksi dengan sesama tawanan, menggambarkan bagaimana mereka harus bertahan hidup di tengah krisis kemanusiaan yang akut.
“Kami hidup tanpa makanan, gas, air, dan listrik. Saya bersama para tawanan lain, serta dua juta penduduk Gaza, mengalami penderitaan yang sama,” ujarnya.
Menurut pengakuannya, para pejuang al-Qassam telah memperingatkan bahwa tawanan tidak akan dipindahkan jika Israel tetap menggempur Gaza. “Artinya, setiap serangan baru sama saja dengan hukuman mati bagi kami,” kata Dalal, dan menambahkan bahwa lebih dari delapan tawanan berada bersamanya, menunggu nasib di tengah situasi yang semakin genting.
Sindiran Pedas untuk Netanyahu
Dalal juga melontarkan kritik tajam terhadap kepemimpinan Israel. Dengan nada sarkastik, ia berterima kasih kepada Perdana Menteri Benyamin Netanyahu karena hanya memberinya makanan sederhana seperti roti, keju, dan mi instan. “Terima kasih telah memberi kami energi untuk bertahan hidup, sementara putramu sedang berpesta barbekyu di Miami,” katanya.
Ia menegaskan bahwa pemerintah Israel telah meninggalkan para tawanan dan tidak peduli pada korban jiwa. “Ini semua gara-gara pemerintah. Mereka tidak peduli dengan kematian tentara maupun tawanan,” lanjutnya.
Ajakan untuk Protes
Dalam bagian lain, Dalal menyebut kondisi saat ini sebagai kesempatan terakhir bagi tawanan untuk diselamatkan. Ia mendesak komunitas pemukim Israel agar melakukan aksi besar-besaran menekan pemerintah.
“Proteslah dalam jumlah besar, turun ke jalan, hentikan perang ini. Ciptakan kekacauan, karena jika tidak, kami akan tetap di sini,” pintanya. Ia juga memanggil nama mantan tawanan lainnya agar turut bersuara di publik.
“Tawanan Netanyahu, Bukan Hamas”
Dalal menutup pesannya dengan menegaskan bahwa hambatan utama pembebasan tawanan bukanlah Hamas, melainkan pemerintah Israel sendiri. “Kami adalah tawanan Netanyahu, Ben-Gvir, dan Smotrich, yang telah berbohong dan tidak ingin kami pulang,” katanya.
Video itu memperlihatkan Dalal berada di Gaza City, di bawah suara dentuman bom dan tembakan. Ia menggambarkan ketakutan mereka yang kini berada dekat garis depan pertempuran. “Kami takut. Ada ledakan dan pesawat tempur di atas kami. Tolong, bawa kami pulang.”
Pesan tersebut tidak hanya menyingkap penderitaan para tawanan, tetapi juga mencerminkan krisis politik internal Israel. Kritik keras Dalal menambah tekanan pada Rezim Netanyahu, yang semakin dipandang menjalankan perang demi tujuan politik, tanpa memperhitungkan penderitaan rakyat maupun tawanan.
