Israel Gempur Homs, Ketegangan Memuncak Jelang Pertemuan Diplomatik Suriah-Israel
POROS PERLAWANAN – Dilansir Al Mayadeen, serangan udara kembali mengguncang Suriah setelah jet tempur Israel meluncurkan agresi ke wilayah pedesaan Homs pada Senin malam 8 September. Serangan ini dilancarkan dari wilayah udara utara Lebanon, menurut laporan koresponden Al Mayadeen, yang menyebutkan bahwa ledakan terdengar di beberapa titik sekitar kota Homs.
Kantor berita resmi Suriah, SANA membenarkan adanya serangan tersebut, namun belum merilis detail terkait target yang disasar maupun jumlah korban jiwa atau kerusakan yang ditimbulkan. Meskipun demikian, serangan ini menjadi bagian dari pola intensif serangan udara Israel ke berbagai wilayah di Suriah dalam beberapa bulan terakhir.
Kementerian Luar Negeri Suriah dengan tegas mengutuk serangan ini. Dalam pernyataan resminya, Pemerintah Suriah menyebut tindakan Israel sebagai “pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan Suriah dan ancaman serius bagi stabilitas Kawasan”.
“Agresi ini merupakan bentuk arogansi militer dan pelanggaran terhadap hukum internasional. Kami menyerukan kepada komunitas internasional untuk mengambil sikap yang jelas dan tegas terhadap tindakan Israel yang terus-menerus memprovokasi,” ujar Juru Bicara Kemenlu Suriah.
Menariknya, serangan ini terjadi di saat isu rencana pertemuan diplomatik antara pejabat tinggi Suriah dan Israel mulai mencuat ke permukaan. Menurut laporan dari Israel Broadcasting Corporation (KAN), pertemuan antara Menteri Luar Negeri Suriah, Asaad al-Shaibani, dan Menteri Urusan Strategis Israel, Ron Dermer, dijadwalkan berlangsung dalam pekan ini, dengan mediasi dari Amerika Serikat.
Pertemuan ini disebut-sebut akan membahas pengaturan keamanan baru, termasuk stabilisasi wilayah selatan Suriah, reaktivasi perjanjian pelepasan pasukan, dan upaya mencegah konflik di kawasan Dataran Tinggi Golan yang masih berada di bawah pendudukan Israel.
Namun, di dalam negeri Suriah, muncul kekhawatiran bahwa perundingan ini dapat menjadi bentuk normalisasi tersembunyi yang menguntungkan pihak Israel. Waktu serangan yang berdekatan dengan rencana pertemuan justru menimbulkan kecurigaan bahwa Israel menggunakan kekuatan militer sebagai alat tekanan politik dalam proses negosiasi.
Dengan situasi yang semakin memanas, masa depan hubungan kedua negara tetap dipenuhi ketidakpastian, sementara rakyat Suriah kembali harus menghadapi dampak langsung dari konflik yang belum juga mereda.
