Loading

Ketik untuk mencari

Asia Barat

Financial Times: Zionis Pelan-pelan Mulai Runtuh

POROS PERLAWANAN – Hari ini, dunia menyaksikan sebuah perubahan besar yang mungkin akan tercatat dalam sejarah, perubahan sikap masyarakat internasional terhadap rezim Zionis Israel. Jika dahulu propaganda Zionisme berhasil menempatkan Israel sebagai “korban” dalam konflik Timur Tengah, maka setelah perang Gaza, topeng itu tercabut. Kini, di mata dunia, Israel bukan lagi korban, melainkan pelaku kejahatan genosida.

Laporan Financial Times yang dinukil Tasnim News Agency pada Senin 22 September menegaskan bahwa isolasi internasional terhadap Israel semakin dalam dari hari ke hari. Gelombang kebencian publik, terutama setelah gambar-gambar penderitaan rakyat Gaza tersebar luas, melahirkan gerakan global yang tak bisa dibendung: boikot multilateral terhadap Israel.

Di Eropa dan Amerika, arena budaya, akademik, dan olahraga kini menjadi medan baru perlawanan. Ribuan seniman, sutradara, dan musisi menolak bekerja sama dengan institusi Israel. Nama-nama besar seperti Javier Bardem hingga James Blake menjadikan panggung seni sebagai podium solidaritas. Di stadion sepak bola, dari Galatasaray hingga klub-klub Italia, spanduk “Free Palestine” berkibar, sementara asosiasi olahraga menuntut agar Israel diusir dari kompetisi internasional. Bahkan perdana menteri Spanyol secara terbuka menyerukan larangan total tim Israel di ajang olahraga dunia.

Gerakan ini bukan hanya ekspresi emosional. Ini adalah strategi tekanan rakyat yang mengingatkan dunia pada era apartheid Afrika Selatan. Sama seperti dulu, masyarakat sipil internasional yang mengguncang fondasi rezim apartheid, kini giliran Israel menghadapi badai moral dan politik yang sama.

Lebih jauh, perubahan sikap publik Barat terlihat nyata di jalanan kota-kota besar. Di jantung New York, papan reklame raksasa menyebut Israel melakukan genosida, sesuatu yang tak terbayangkan satu dekade lalu. Di London, konser “Together for Palestine” menyatukan artis, aktivis, dan masyarakat dalam solidaritas yang melintasi batas agama maupun bangsa. Hal yang lebih penting adalah bahwa bendera Palestina kini berkibar di Eropa dengan bangga, sementara simbol Zionis justru dikibarkan diam-diam, disembunyikan karena takut menjadi sasaran amarah rakyat.

Inilah yang disebut oleh Financial Times dan Washington Post sebagai “momen balik sejarah”. Narasi Zionis runtuh bukan karena diplomasi resmi, melainkan karena rakyat dunia sudah muak melihat rumah sakit dihancurkan, anak-anak kelaparan, dan keluarga Palestina yang dibantai.

Israel, meski terus menyangkal tuduhan genosida, tak bisa menutupi kenyataan bahwa dukungan global kian menipis. Beberapa negara sudah menghentikan penjualan senjata kepada Tel Aviv, universitas-universitas Eropa memutuskan kerja sama akademik, bahkan para analis Israel sendiri memperingatkan bahwa mereka kini “ditolak dunia” dan berada di ambang kehancuran.

Inilah paradoks terbesar: selama puluhan tahun, Zionisme berinvestasi besar dalam propaganda, membungkus penjajahan sebagai “pertahanan diri”. Namun, perang Gaza membuka mata dunia. Seorang pencari perdamaian tidak akan membunuh anak-anak kelaparan. Seorang korban tidak akan membom rumah sakit. Kini, masyarakat Barat mulai membaca ulang sejarah, mempertanyakan siapa yang sebenarnya teroris, siapa yang penjajah, siapa yang melawan demi kebebasan.

Israel bisa saja berbangga dengan kekuatan militernya. Namun di medan yang jauh lebih menentukan, medan opini publik internasional rezim ini sudah kalah telak. Jalan menuju isolasi total telah terbuka. Dunia tidak lagi memandang mereka sebagai korban, melainkan sebagai penjahat yang harus diadili sejarah.

Cepat atau lambat, sebagaimana nasib apartheid Afrika Selatan, Israel akan dipaksa menghadapi penghakiman moral global. Tidak ada propaganda yang bisa menutupi gambar anak-anak kurus kering, rumah sakit yang luluh lantak, dan keluarga-keluarga yang terkubur di bawah puing-puing Gaza.

Inilah akhir dari narasi palsu Zionisme. Inilah saat ketika dunia bersatu menyatakan bahwa sebuah rezim yang berlandaskan penindasan tidak pantas hidup berdampingan dengan bangsa-bangsa merdeka.

Pada akhirnya, sebagaimana sejarah selalu berpihak pada yang tertindas, maka keyakinan itu kini menjadi jelas, bahwa Palestina akan merdeka. Zionisme akan runtuh. Sedangkan nama Israel akan tercatat bukan sebagai negara yang bertahan, melainkan sebagai simbol arogansi yang tumbang di hadapan kebenaran.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *