Israel Akui Bunuh Anak-anak di Lebanon dengan Dalih ‘Berada di Dekat Lokasi Serangan’
POROS PERLAWANAN – Militer Israel menuai kecaman luas setelah mengakui bahwa tiga anak yang tewas dalam serangannya di Lebanon selatan terbunuh karena berada “di dekat lokasi target”. Pernyataan tersebut dianggap sebagai justifikasi atas pembunuhan warga sipil tak bersalah.
Menurut laporan Tasnim News Agency pada Senin 22 September, Militer Israel menyampaikan “penyesalan” atas jatuhnya korban sipil dalam serangan udara terhadap sebuah mobil di kota Bint Jbeil, Lebanon selatan. Namun, pernyataan itu sekaligus membenarkan tewasnya tiga anak-anak dengan alasan mereka berada di sekitar titik serangan.
Ketua Parlemen Lebanon, Nabih Berri mengutuk keras serangan tersebut yang menewaskan lima orang, termasuk anak-anak. Ia mempertanyakan: “Apakah anak-anak Lebanon dianggap ancaman eksistensial bagi Israel? Ataukah justru tindakan rezim itu sendiri yang menjadi ancaman nyata bagi perdamaian dan keamanan internasional?”
Dana Anak-anak PBB (UNICEF) juga mengecam serangan Israel, menegaskan bahwa serangan tersebut mengakibatkan tewasnya empat anggota keluarga, termasuk tiga anak-anak.
Sementara itu, Anggota Parlemen dari blok Loyalitas terhadap Perlawanan, Hassan Fadlallah menuding Komite Pemantau Gencatan Senjata gagal menjalankan perannya. Menurutnya, Komite tersebut hanya menjadi “saksi palsu” atas pelanggaran berulang Israel yang tidak pernah memberi jaminan keamanan bagi Lebanon.
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan bahwa serangan pesawat tak berawak Israel di Bint Jbeil menewaskan lima orang, tiga di antaranya anak-anak. Aksi ini dinilai melanggar perjanjian gencatan senjata serta Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701.
Serangan tersebut menambah panjang daftar korban sipil dalam konflik, sementara Israel dituding terus melanjutkan operasi militer yang telah menewaskan puluhan ribu warga sipil di Gaza dan Lebanon.
