Pergeseran di Jantung Kekuasaan AS: Demokrat Mulai Goyah Dukung Israel di Tengah Genosida Gaza
POROS PERLAWANAN – Dilansir Al Mayadeen, di tengah bara pembantaian yang tak kunjung padam di Gaza, retakan mulai terlihat di dalam fondasi dukungan tradisional Amerika Serikat terhadap entitas Zionis. Suara-suara yang sebelumnya dibungkam oleh lobi pro-Israel kini mulai bergema di koridor Kongres, menandai pergeseran politik yang mengejutkan namun tak terelakkan. Sebagian kalangan Partai Demokrat mulai menolak memberikan dukungan buta kepada rezim penjajah Israel.
Krisis kemanusiaan yang kian dalam di Jalur Gaza, yang telah merenggut lebih dari 65.000 jiwa sejak 7 Oktober 2023, mendorong sejumlah anggota parlemen AS untuk mempertanyakan ulang peran Washington dalam menyokong mesin perang Zionis yang berdarah-darah. Bahkan senator-senator yang selama ini dikenal pro-Israel, seperti Senator Chris Coons mulai membuka peluang untuk membatasi penjualan senjata ke Tel Aviv.
“Untuk pertama kalinya, saya benar-benar mempertimbangkan untuk mendukung pembatasan penjualan senjata jika tidak ada perubahan arah dari pemerintah Israel,” ujar Coons, seorang Demokrat sentris dari Delaware, dalam wawancaranya dengan Axios di sela-sela Majelis Umum PBB.
Pernyataan itu memperkuat sinyal adanya gesekan serius antara nilai-nilai kemanusiaan dan kebijakan luar negeri Amerika yang selama ini tunduk pada agenda Zionisme internasional.
Penolakan Terhadap Aneksasi, Tekanan ke Netanyahu
Sebanyak 178 anggota DPR dari Partai Demokrat menandatangani surat kepada Perdana Menteri Benyamin Netanyahu yang berisi kecaman terhadap upaya “aneksasi” wilayah Tepi Barat yang terus berlangsung. Surat itu menegaskan bahwa langkah tersebut “melanggar hukum internasional dan merusak kebijakan bipartisan AS selama puluhan tahun”.
Ironisnya, surat ini dipimpin oleh Rep. Brad Schneider, yang dikenal sebagai tokoh pro-Israel garis keras. Namun tekanan moral dan kemarahan publik telah memaksa bahkan pendukung Zionis untuk mengambil jarak dari rezim penjajah yang kini secara terang-terangan melakukan genosida di depan mata dunia.
Pemimpin Minoritas DPR, Hakeem Jeffries, turut menandatangani surat tersebut dan menyuarakan kebutuhan mendesak untuk mengalirkan bantuan kemanusiaan ke Gaza, membebaskan tawanan, dan memulihkan gencatan senjata sebagai bagian dari jalan menuju apa yang ia sebut sebagai “perdamaian yang adil dan abadi”.
Namun, rakyat Palestina dan pendukung Perlawanan tahu betul bahwa tidak ada keadilan dalam perdamaian yang dibangun di atas reruntuhan rumah-rumah yang dihancurkan bom Amerika.
Kebangkitan Blok Progresif: Palestina Tak Lagi Ditinggalkan
Lebih jauh lagi, poros progresif dalam Partai Demokrat mulai mengambil langkah konkret untuk menghentikan suplai senjata ke entitas Zionis. Dalam langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya, Congressional Progressive Caucus (CPC), yang mewakili hampir 100 anggota parlemen menyatakan dukungan resmi terhadap RUU “Block the Bombs Act”, yang akan menghentikan pengiriman amunisi AS ke Israel, termasuk bom penghancur bunker dan peluru artileri 155mm.
“Amerika tidak bisa terus mengirim bom yang kami tahu akan digunakan untuk melakukan kekejaman di Gaza,” tegas Ketua CPC, Rep. Greg Casar.
Rep. Delia Ramirez dari Illinois menggambarkan RUU ini sebagai langkah minimum dalam menghadapi para pemimpin otoriter yang melakukan genosida dengan senjata buatan AS. “Pembunuhan anak-anak dengan dana pembayar pajak adalah kejahatan, bukan kebijakan luar negeri,” ujarnya tegas.
Wartawan investigatif Ryan Grim menyebut dukungan CPC terhadap RUU ini sebagai titik balik sejarah, menggarisbawahi bahwa era “progresif kecuali untuk Palestina” di dalam Partai Demokrat telah berakhir.
Pengakuan Kenegaraan Palestina: Progresif Desak Langkah Nyata
Tak hanya soal senjata, faksi progresif kini mendorong pengakuan kenegaraan Palestina oleh AS, mengikuti jejak negara-negara seperti Inggris, Prancis, dan Kanada. Sebanyak 46 anggota DPR telah menandatangani surat kepada Presiden Donald Trump dan Menlu Marco Rubio, menyerukan pengakuan resmi terhadap Palestina sebagai negara yang merdeka dan berdaulat.
Hal yang lebih mengejutkan, di antara penanda tangan surat itu terdapat nama-nama anggota parlemen Yahudi seperti Rep. Sara Jacobs, Jan Schakowsky, dan Becca Balint, yang memilih berdiri bersama keadilan daripada membisu di hadapan genosida. Senator independen Bernie Sanders bahkan menyebut agresi Israel di Gaza sebagai genosida yang disengaja.
Menurut sumber dari kalangan Demokrat progresif, banyak anggota yang mulai bersedia mengakui bahwa istilah “genosida” bukan lagi opini ekstrem, melainkan kenyataan pahit yang tak terbantahkan.
Kontras yang Mengerikan: Rakyat Gaza Dibantai, AS Siapkan $6 Miliar Senjata
Namun di sisi lain Washington, Pemerintahan Trump tetap bergeming. Gedung Putih dilaporkan sedang mengupayakan persetujuan Kongres atas kesepakatan senjata senilai $6 miliar dengan Israel, termasuk 30 helikopter tempur Apache dan ribuan kendaraan serbu infanteri.
Kesepakatan itu diajukan di saat serangan udara Israel membunuh ribuan perempuan dan anak-anak, dan ketika angka korban terus menanjak, hari demi hari. Genosida terus berlangsung, dan darah rakyat Gaza menjadi jaminan kontrak bisnis militer.
