Loading

Ketik untuk mencari

Lebanon

Sekjen Hizbullah: Perlawanan Tak Hanya Kukuh di Medan Perang, Tapi Juga di Ranah Sipil dan Politik

Sekjen Hizbullah: Perlawanan Tak Hanya Kukuh di Medan Perang, Tapi Juga di Ranah Sipil dan Politik

POROS PERLAWANAN – Dalam pidato peringatan syahadah Sayyid Hasan Nasrallah dan Sayyid Hashim Shafiudin pada Sabtu malam 27 September, Syekh Naim Qasim mengatakan bahwa perang yang dilancarkan oleh Israel, dengan dukungan tanpa syarat dari AS dan Eropa, bertujuan untuk menghancurkan Perlawanan guna memaksakan “Israel Raya” di wilayah tersebut.

Dilansir al-Mayadeen, Sekjen Hizbullah itu menampik apa yang dianggap sebagai kemenangan oleh musuh-musuh. Ia menegaskan bahwa Hizbullah tetap memegang inisiatif dan bertahan meskipun terjadi pembunuhan-pembunuhan. “Musuh gagal menghancurkan Hizbullah, baik melalui pembunuhan, perang, maupun politik.”

Terkait situasi saat ini, Syekh Qasim mengatakan pelanggaran Israel terus berlanjut meskipun ada perjanjian gencatan senjata yang disepakati pada 27 November 2024. Hal ini, kata Syekh Naim, merupakan upaya Israel-AS untuk mencapai via jalur politik apa yang tidak dapat mereka capai melalui medan perang.

Syekh Qasim menegaskan bahwa rakyat pro-Perlawanan tetap teguh dalam menentang agresi Israel, berdiri kokoh di desa-desa mereka di selatan Lebanon, dan mempertahankan warisan para syuhada.

Dia menekankan bahwa keteguhan Perlawanan tidak hanya terlihat di medan perang, tetapi juga dalam kehidupan sipil. Syekh Qasim lalu menyoroti rekonstruksi 400.000 rumah, penyelenggaraan pemilihan umum tingkat kota yang sukses, dan kehadiran politik gerakan yang terus berlanjut sebagai bukti ketahanan.

“Kami telah mencapai pemulihan militer dan siap mempertahankan Lebanon dari musuh Israel kapan pun,” tambahnya.

Mengacu pada posisi AS terbaru, ia mengatakan, “Pernyataan Barrack (Utusan Khusus AS) dengan jelas menunjukkan bahwa Washington ingin melucuti senjata Hizbullah. Barrack juga menyatakan bahwa AS tidak akan mempersenjatai Militer Lebanon untuk menghadapi Israel.”

Syekh Qasim menegaskan bahwa Hizbullah tak akan membiarkan senjata Perlawanan dilucuti. Ia bertekad untuk menghadapi setiap proyek yang pada akhirnya melayani entitas Israel, “bahkan jika proyek tersebut disamarkan dengan kedok nasional.”

Saat bicara tentang Lebanon, Syekh Naim Qasim menyerukan kepada Pemerintah agarbertanggung jawab dalam mengalokasikan anggaran untuk rekonstruksi dan melanjutkan inisiatif tersebut.

Dia menekankan bahwa kedaulatan nasional harus menjadi prioritas utama Pemerintah. Kedaulatan ini hanya dapat terwujud dengan mengusir Israel dari wilayah Lebanon.

“Kami menyerukan persatuan domestik dan bekerja untuk kebangkitan Lebanon di semua bidang; Lebanon harus kuat dan Perlawanan harus menjadi dasar kekuatan tersebut,” tandasnya.

“Kita tidak boleh menyerah pada ancaman agresi. Kita harus menghadapi mereka dengan mempersiapkan diri untuk konfrontasi, bukan dengan menyerah.”

Syekh Naim Qasim kembali menekankan seruannya untuk implementasi Perjanjian Taif. Menurutnya, perjanjian tersebut menjamin pembebasan dan mengakui peran Perlawanan dalam mewujudkan pembebasan. Ia juga mendesak reformasi politik yang diusulkan dalam Perjanjian Taif, termasuk penghapusan kuota konfesional dan pembentukan Senat.

“Kami menuntut penerapan ketentuan Perjanjian Taif mengenai penyelenggaraan pemilu berdasarkan penghapusan kuota konfesional dan pemilihan Senat. Kami mendukung penyelenggaraan pemilu parlemen sesuai jadwal.”

Menyindir tindakan Pemerintah baru-baru ini, ia menyebut dua keputusan Pemerintah terkait senjata Hizbullah sebagai “dosa besar.” Ia memperingatkan agar tidak mencoba memprovokasi Militer Lebanon untuk melawan rakyatnya sendiri.

“Mereka ingin Militer Lebanon bertempur melawan rakyatnya sendiri. Kami berdiri teguh di belakang Militer dan mendukungnya untuk menghadapi musuh yang sesungguhnya.”

Di akhir pidatonya, Syekh Naim Qasim menegaskan kembali bahwa Palestina tetap menjadi inti perjuangan Perlawanan. Ia menyampaikan apresiasi kepada Perlawanan di Gaza dan Palestina yang “menghadapi pendudukan atas nama seluruh dunia.”

Dengan kata-kata ini, Syekh Naim Qasim mengaitkan keteguhan Lebanon dengan Poros Perlawanan yang lebih luas. Ia berjanji bahwa pengorbanan para syuhada akan tetap hidup melalui rakyat yang tidak akan menyerahkan senjatanya maupun meninggalkan perjuangan.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *