Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

200.000 Ton Bom untuk Membungkam Gaza, Dunia Masih Diam

POROS PERLAWANAN – Dilansir Al Mayadeen, dua tahun sudah Gaza dibakar oleh mesin perang Zionis, dan dunia masih memilih diam. Ketika genosida memasuki tahun ketiga, derita rakyat Palestina semakin dalam dengan anak-anak kelaparan, rumah-rumah hancur, dan tanah yang pernah subur kini berubah menjadi kuburan massal di bawah langit yang penuh drone dan rudal.

Menurut laporan terbaru dari Kantor Media Pemerintah Gaza, agresi brutal Israel sejak 7 Oktober 2023 telah menjatuhkan lebih dari 200.000 ton bahan peledak ke wilayah sempit Gaza yang setara dengan bom-bom pemusnah massal yang menghancurkan setiap sudut kehidupan.

Lebih dari 76.600 warga Palestina telah gugur atau hilang, dengan 67.139 kematian dikonfirmasi di rumah sakit, dan hampir 9.500 orang masih tertimbun di bawah puing-puing. Dari jumlah itu, lebih dari 20.000 anak-anak dan 12.500 perempuan menjadi syuhada. Sebanyak 2.700 keluarga dihapus dari catatan sipil, hilang tak bersisa, dan lebih dari 6.000 keluarga hanya menyisakan satu anggota yang hidup.

Ini bukan lagi sekadar konflik, ini adalah pemusnahan sistematis. Sebuah genosida yang didokumentasikan, tetapi terus dibiarkan.

Gaza Dihancurkan, Warganya Diusir Berkali-kali

Hampir 90 persen infrastruktur Gaza kini hancur lebur. Tanah-tanah yang dulu dihuni rakyat Palestina kini berada di bawah pendudukan Militer Zionis. Lebih dari 2 juta warga sipil dipaksa mengungsi, sebagian besar lebih dari satu kali, dalam kondisi mengenaskan tanpa jaminan keamanan, makanan, atau tempat tinggal.

Zona yang disebut “aman” oleh penjajah, seperti al-Mawasi, dibom lebih dari 130 kali. Tidak ada tempat yang benar-benar aman di Gaza. Zionis tidak hanya menjatuhkan bom, mereka menjatuhkan kelaparan, penyakit, dan keputusasaan.

Rumah Sakit Runtuh, Bayi Tak Tertolong

Sistem kesehatan Gaza telah kolaps total. Dari 38 rumah sakit dan 96 klinik, hampir semuanya kini tak dapat beroperasi. Sebanyak 197 ambulans hancur, dan lebih dari 1.600 tenaga medis gugur di medan kemanusiaan. Mereka dibunuh bukan karena membawa senjata, tapi karena membawa nyawa dalam tandu.

Laporan juga mencatat 254 wartawan, 140 anggota pertahanan sipil, dan 540 pekerja bantuan tewas dibombardir saat menjalankan tugas.

Sementara itu, 650.000 anak-anak di Gaza kini menghadapi kelaparan akut. Obat-obatan langka, susu formula tak tersedia, dan 22.000 pasien yang butuh perawatan ke luar negeri terjebak, terkunci dalam pengepungan tanpa ampun.

Pendidikan Hancur, Budaya Dilenyapkan

Gaza bukan hanya dihancurkan fisiknya, melainkan pendidikan dan budayanya juga menjadi target utama. Laporan menyebut 95 persen sekolah rusak, dengan 165 lembaga pendidikan luluh lantak. Sejumlah 13.500 siswa, 830 guru, dan hampir 200 akademisi dan peneliti terbunuh dalam dua tahun terakhir.

Tempat ibadah pun tak luput dari kezaliman. Sebanyak 835 masjid dihancurkan, beberapa gereja ikut rusak, dan bahkan kuburan dibuldoser oleh buldoser-buldoser Zionis. Tidak hanya yang hidup yang diserang, bahkan yang telah wafat pun tidak diberikan tempat untuk beristirahat dengan damai.

Kerugian Menggunung, Blokade Masih Mengunci

Pemerintah Gaza mencatat total kerugian langsung mencapai 70 miliar Dolar, dengan 28 miliar Dolar di sektor perumahan, 5 miliar Dolar dalam kesehatan, dan 4 miliar Dolar dalam pendidikan. Hampir semua lahan pertanian dan perikanan hancur, memusnahkan tulang punggung ketahanan pangan Palestina.

Lebih dari 2,4 juta penduduk Gaza kini bergantung sepenuhnya pada bantuan kemanusiaan, yang justru dihalangi masuk oleh blokade Zionis. Para pejabat PBB telah berulang kali memperingatkan ancaman kelaparan massal, namun resolusi untuk menghentikan genosida berulang kali kandas di Dewan Keamanan karena veto dan perpecahan politik.

“Sebelum Gaza Hilang Sepenuhnya”

Pemerintah Gaza mengakhiri laporannya dengan seruan mendesak kepada komunitas internasional untuk bertindak sebelum Gaza hilang sepenuhnya dari peta dunia.

Seruan ini bukan lagi tentang diplomasi atau kecaman kosong. Ini adalah permintaan terakhir dari rakyat yang sedang disapu bersih. Dunia ditantang untuk membuktikan apakah nilai-nilai kemanusiaan masih hidup, atau telah mati bersama anak-anak Gaza yang dikubur dalam diam. Selama dunia terus memilih bisu, maka Gaza akan terus menjerit di bawah puing-puingnya.

Tags: