Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Gaza Hancur di Bawah Genosida: Dua Tahun Perlawanan dalam Neraka Blokade dan Bom

POROS PERLAWANAN – Dilansir Al Mayadeen, dua tahun penjajahan brutal dan agresi tanpa henti oleh rezim Zionis telah menjadikan Jalur Gaza sebagai ladang penderitaan tak berujung. Dalam laporan terbarunya, Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) membeberkan kenyataan mengejutkan. Gaza telah berubah menjadi kuburan massal terbuka dan kamp pengungsian raksasa di bawah langit yang terus bergemuruh oleh ledakan.

Lebih dari 66.100 nyawa melayang, termasuk 18.430 anak-anak, dalam dua tahun terakhir. Angka ini bukan sekadar statistik melainkan ini adalah cerita tentang keluarga yang dilenyapkan, sekolah yang menjadi puing, dan masa depan yang dikoyak tanpa belas kasih.

Gaza kini nyaris rata dengan tanah. Serangan biadab telah menghancurkan hampir 80 persen bangunan, termasuk fasilitas vital UNRWA yang seharusnya menjadi tempat perlindungan terakhir bagi rakyat yang diusir dari rumahnya. Setidaknya 845 pengungsi tewas saat berlindung di fasilitas PBB, dan lebih dari 370 staf UNRWA gugur dalam tugas kemanusiaan mereka. Saat agresi mencapai puncaknya, satu juta jiwa terpaksa berlindung di ruang-ruang yang seharusnya menjadi sekolah dan kantor.

Sistem kesehatan Gaza kini hanya bayangan dari apa yang dulu ada. Dari 22 pusat layanan kesehatan PBB, hanya empat yang masih berfungsi sebagian pada Oktober 2025. Rumah sakit kolaps, obat-obatan lenyap, dan lebih dari 790 serangan tercatat terhadap tenaga medis dan fasilitas kesehatan. Namun, UNRWA tetap bertahan, memberikan lebih dari 10 juta layanan kesehatan dasar, serta mempertahankan vaksinasi bagi lebih dari 300.000 anak.

Namun penyakit tetap merajalela di antaranya diare akut, kudis, infeksi pernapasan, dugaan meningitis, hingga tuberkulosis dan sindrom langka Guillain-Barré menyebar luas di tengah keterbatasan air bersih dan sanitasi. Kelaparan pun menjalar dan telah dikonfirmasi di wilayah Gaza, dengan lebih dari 455 kematian terkait gizi buruk, termasuk 150 anak-anak. Rezim Zionis memperketat blokade sejak Maret 2025, menutup total akses bantuan makanan.

Lahan pertanian hancur, di mana 98 persen wilayah pertanian rusak atau tidak bisa diakses. Infrastruktur air dan sanitasi juga porak poranda. Tercatat 90 persen sistem WASH lumpuh, menyebabkan setengah juta perempuan dan anak perempuan tanpa akses terhadap kebersihan menstruasi. Sementara 60 persen rumah tangga tanpa sabun, dan 40 persen hidup di dekat limbah terbuka.

Di tengah reruntuhan, pendidikan pun lumpuh. Sejumlah 660.000 anak tak bisa belajar untuk tahun ketiga berturut-turut. Meskipun 92 persen sekolah rusak berat, namun UNRWA tetap berjuang melalui pembelajaran jarak jauh dan kegiatan edukatif di kamp pengungsian bagi lebih dari 290.000 anak. Setengah juta anak menerima bantuan psikososial, berusaha menjaga akal sehat mereka di tengah gempuran bom dan trauma.

Namun semua ini terancam berhenti, akses kemanusiaan terus diblokir, dan serangan terhadap sekolah dan rumah sakit terus terjadi. UNRWA memperingatkan jika blokade tak dicabut dan dunia tetap bungkam, Gaza akan memasuki babak kelaparan dan kehancuran yang lebih dalam.

Tags: