Pengakuan Mantan Pejabat Mossad: Iran dan Bayang-Bayang Kesalahan Hitung Israel
POROS PERLAWANAN – Pengakuan Mantan Pejabat Mossad tentang Ketahanan Iran dan Kerapuhan Asumsi Strategis Tel Aviv.
Ketika Persepsi Bertabrakan dengan Realitas
Dalam sebuah wawancara langka dengan surat kabar Yedioth Ahronoth, Peneliti Senior di Institute for National Security Studies (INSS) dan mantan kepala Divisi Iran di Mossad, Dr. Sima Shine menyampaikan peringatan yang mengguncang persepsi lama di kalangan keamanan Israel: “Iran jauh lebih tangguh dan mampu daripada yang kita perkirakan.”
Pernyataan ini, datang dari seseorang yang pernah menjadi otak analisis Mossad tentang Iran, terdengar seperti wake-up call bagi Tel Aviv. Ia menandai perubahan mendasar dalam cara elite Israel membaca kekuatan lawan utamanya di Kawasan.
Ketahanan di Tengah Tekanan
Shine menilai banyak pengambil keputusan Israel masih terjebak pada asumsi bahwa sanksi ekonomi akan melumpuhkan Iran. Namun, menurutnya, Iran telah beradaptasi secara struktural terhadap tekanan itu.
“Bahkan dengan masalah ekonomi mereka, Iran tetap negara dengan minyak, gas, dan populasi lebih dari 90 juta, lebih besar dari Jerman. Mereka benar-benar kekuatan regional dengan potensi besar.”
Dalam dua dekade terakhir, Iran mengembangkan jaringan front companies dan jalur keuangan alternatif melalui negara Teluk seperti UEA, untuk menghindari embargo.
Laporan investigatif menunjukkan bahwa lebih dari 50% komponen elektronik dalam drone dan rudal Iran, termasuk yang digunakan Rusia di Ukraina berasal dari produsen Barat.
Bagi Shine, hal ini menunjukkan satu hal, bahwa mekanisme sanksi global terhadap Iran telah bocor secara sistemik.
Kerapuhan Tekanan Barat
Soal ancaman sanksi snapback baru yang digagas AS, Shine bersikap skeptis. Ia menilai efektivitasnya tergantung pada kemauan politik Washington dan keterlibatan aktif Eropa. Namun realitas multipolar saat ini membuat tekanan terkoordinasi hampir mustahil.
“Rusia, Tiongkok, dan bahkan India memiliki kepentingan langsung dalam perdagangan energi dengan Iran,” jelasnya.
“Beberapa negara Teluk pun menjadi rute transit ekonomi dan perbankan bagi Teheran.”
Kondisi ini menegaskan pergeseran kekuatan global: AS tidak lagi bisa memobilisasi dunia untuk menekan satu negara sebagaimana di era unipolar pasca-1991. Iran berhasil memanfaatkan celah geopolitik antara Barat dan Timur untuk bertahan hidup, bahkan memperkuat posisinya.
Kegagalan Membaca Ketahanan Sosial Iran
Salah satu pengakuan paling signifikan dari Shine menyentuh dimensi sosial-politik Iran.
“Selama Perang Dua Belas Hari, saya mendengar orang berkata bahwa jika Iran diserang dengan keras, rakyat akan memberontak. Tapi itu tidak terjadi, mungkin malah sebaliknya.”
Kalimat ini menghantam jantung strategi Israel selama bertahun-tahun. Tekanan eksternal justru memperkuat kohesi nasional Iran, bukan melemahkannya.
Rakyat Iran terbiasa hidup di bawah krisis, sanksi, dan ancaman. Mereka tidak melihat penderitaan sebagai tanda kelemahan, melainkan sebagai simbol kemandirian nasional.
Inilah dimensi yang selama ini gagal dibaca oleh mesin Intelijen Israel, bahwa ketahanan sosial tidak bisa diukur dengan grafik ekonomi.
Negosiasi yang Mandek dan Kegelisahan Israel
Dalam pembahasan mengenai prospek negosiasi nuklir baru antara Washington dan Teheran, Shine menegaskan jurang yang hampir mustahil dijembatani.
“Tuntutan minimum AS tidak sejalan dengan tuntutan maksimum Iran. Hak memperkaya uranium bagi Iran bukan hanya teknis, tetapi simbol kedaulatan nasional.”
Lebih dari itu, menurut Shine, fokus utama Iran kini bukan hanya pencabutan sanksi, melainkan jaminan keamanan dari serangan Militer AS atau Israel. Teheran menuntut komitmen non-agresi sebagai prasyarat, sesuatu yang belum pernah diberikan oleh Washington.
Bagi Shine, sikap ini menunjukkan bahwa Iran kini bernegosiasi dari posisi percaya diri, bukan dari posisi terpojok.
Titik Lemah Israel: Daya Tahan
Menariknya, Shine juga menyoroti masalah internal Israel.
“Iran memiliki kapasitas bertahan, bahkan di tengah kekurangan,” katanya. “Pertanyaannya: berapa lama Israel dapat menanggung perang berlarut, dengan populasi kecil dan sumber daya terbatas?”
Pernyataan itu menyiratkan keletihan strategis Israel, kesadaran bahwa perang panjang dengan Iran bukan hanya risiko militer, melainkan juga ujian sosial, ekonomi, dan psikologis yang mungkin tak seimbang antara kedua negara.
Pergulatan antara Persepsi dan Realitas
Pengakuan Shine menjadi cermin yang jarang: Israel, untuk pertama kalinya, dihadapkan pada musuh yang tidak lagi bisa dijatuhkan melalui tekanan ekonomi atau serangan udara terbatas.
Iran telah menjelma menjadi kekuatan regional dengan kemampuan beradaptasi politik, ekonomi, dan militer yang tinggi.
Di tengah dunia yang semakin multipolar, pernyataan Shine mencerminkan lebih dari sekadar analisis, ia adalah refleksi atas pergeseran tatanan kekuasaan global.
Akhir dari Ilusi Keunggulan
“Konflik dengan Iran bukan lagi tentang siapa yang bisa menyerang lebih keras, tetapi siapa yang bisa bertahan lebih lama.”
Kalimat ini, yang diucapkan Shine, terdengar seperti epitaf bagi ilusi lama di Tel Aviv.
Israel, dengan semua keunggulan teknologinya, kini menghadapi lawan yang memahami strategi, sabar menunggu momentum, dan mampu mengubah tekanan menjadi energi ketahanan.
Dalam lanskap Timur Tengah yang terus bergeser, mungkin inilah realitas baru yang paling sulit diterima, bahwa kekuatan sejati kini diukur bukan dari seberapa besar serangan yang bisa dilakukan, melainkan seberapa lama sebuah bangsa bisa bertahan di bawah tekanan.
Catatan:
Tulisan ini disusun berdasarkan wawancara eksklusif Yedioth Ahronoth dengan Peneliti Senior INSS dan mantan Kepala Divisi Iran di Mossad, Dr. Sima Shine, yang dilansir oleh surat kabar Kayhan pada Senin 6 Oktober. Analisis ini disajikan dalam konteks geopolitik kontemporer Timur Tengah, tanpa mengubah substansi pandangan narasumber.
