Dukungan Jerman untuk Israel dalam Perang 12 Hari Lampaui Statemen Politik-Diplomatik
POROS PERLAWANAN – Dilansir Tehran Times, pada bulan Juni 2025 silam, Jerman merupakan salah satu dari sedikit negara yang mendukung serangan Israel terhadap situs-situs sipil, nuklir, dan militer Iran, dan mungkin yang paling vokal di antara mereka. Kanselir Jerman, Friedrich Merz telah memicu kemarahan baik warga Iran maupun warga Jerman selama konflik tersebut, ketika ia membela agresi Israel dengan menyatakan bahwa Israel “sedang melakukan ‘pekerjaan kotor’ untuk negara-negara Barat.”
Merz juga menyatakan bahwa ia telah diberitahu tentang serangan ilegal tersebut sebelumnya. Ia menambahkan bahwa “tidak menyerang orang Iran bukanlah pilihan bagi orang Israel,” yang, menurut klaimnya, memiliki hak untuk “membela diri.” Israel melakukan agresi tersebut hingga menewaskan lebih dari 1.000 orang Iran dalam prosesnya, dengan klaim bahwa agresi tersebut bertujuan untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir.
Namun, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) tidak menemukan bukti bahwa Iran sedang bergerak menuju senjata nuklir—fakta yang baru-baru ini diulang oleh Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi, pekan lalu. Keputusan Israel untuk melancarkan perang total terhadap Iran membawa Kawasan ke ambang perang besar yang, jika tidak diredam, akan memiliki dampak jangka panjang tidak hanya bagi Timur Tengah, tetapi juga bagi dunia Barat; sebuah fakta yang disadari sepenuhnya oleh Jerman ketika mendukung tindakan tersebut.
Informasi baru yang diperoleh oleh Tehran Times mengungkapkan, dukungan Jerman terhadap Israel selama Perang 12 Hari melampaui pernyataan politik dan diplomatik. Pada hakikatnya, Berlin memainkan peran aktif dalam membantu Israel mencapai tujuan perangnya dengan mengirimkan pasukan ke Tanah Pendudukan.
Seorang serdadu Militer Israel yang mengetahui hal tersebut telah memberi tahu intelijen Iran bahwa sekelompok pasukan Jerman ditempatkan di Israel atas permintaan Rezim selama Perang 12 hari. Keterlibatan mereka dalam operasi militer dilandasi kesepakatan yang mewajibkan Israel untuk merahasiakan keterlibatan Jerman. Kesepakatan tersebut dibuat secara rahasia antara Jerman dan Israel, tetapi telah diperoleh oleh pihak Iran.
Bantuan Jerman kepada Israel menandai kali kedua Berlin bergabung dengan pihak penyerang terhadap Iran. Berlin juga memasok senjata kimia kepada diktator Irak, Saddam Hussein, yang digunakan selama invasi Irak ke Iran pada tahun 1980-an.
Tehran Times memahami bahwa pasukan Jerman menerima kompensasi finansial atas layanan mereka kepada Israel, namun memilih untuk meninggalkan Tanah Pendudukan segera setelah perang berakhir, meskipun mereka awalnya berjanji untuk tetap tinggal. Seiring eskalasi konflik dan Iran menargetkan beberapa situs militer dan sensitif, Israel menyadari bahwa pasukan Jerman enggan melanjutkan keterlibatan mereka.
Menurut evaluasi Israel yang bocor, kepergian pasukan Jerman membuat rezim tersebut cemas. Namun, Rezim Zionis puas dengan cara Prancis berpartisipasi dalam perang atas nama Israel.
Masih belum jelas apakah {arlemen Jerman menyetujui penempatan pasukan tersebut. Pemerintah Jerman secara konstitusional dilarang mengirim pasukan ke perang di negara lain atas inisiatif sendiri dan secara hukum diwajibkan untuk mendapatkan suara mayoritas di Bundestag terlebih dahulu. Sistem ini sengaja ditetapkan setelah Perang Dunia II untuk mencegah Badan Eksekutif memulai perang secara sepihak.
Tehran Times telah diberitahu bahwa rincian mengenai nama personel Jerman yang terlibat, sifat kerja sama, dan dokumen pendukung telah diserahkan kepada Iran.
Pengungkapan ini terjadi saat Israel menghadapi apa yang disebut media Ibrani sebagai “krisis mata-mata.” Menurut laporan dari Badan Keamanan Dalam Negeri Israel (SHINBET), kasus mata-mata di Israel meningkat sekitar 400 persen pada tahun 2024. Angka tersebut diperkirakan akan meningkat lebih lanjut pada paruh pertama tahun 2025. Beberapa warga Israel telah ditangkap atas tuduhan spionase dalam beberapa bulan terakhir. Rezim Zionis mengaitkan hampir semua kasus tersebut dengan Iran. Menteri Intelijen Iran, Esmaeil Khatib, menyatakan bahwa sejumlah besar warga Israel bekerja sama dengan Iran, baik untuk uang maupun karena kebencian terhadap PM Israel Benjamin Netanyahu.
