Loading

Ketik untuk mencari

Oseania & Asia

Pakar Politik Irak: Operasi Badai Al-Aqsa Mengembalikan Palestina ke Pusat Perhatian Dunia

POROS PERLAWANAN — Pakar Politik Irak, Salam Adel menegaskan bahwa Operasi Badai Al-Aqsa tidak hanya mengguncang kekuatan Militer Israel, tetapi juga mengembalikan isu Palestina ke pusat perhatian dunia internasional, sekaligus menyingkap kemunafikan moral Barat dalam isu hak asasi manusia.

Dalam wawancara dengan Kantor Berita Mehr pada Rabu 8 Oktober, Adel menjelaskan bahwa operasi yang diluncurkan pada 7 Oktober dua tahun lalu “bukan semata-mata peristiwa militer, melainkan titik balik dalam kesadaran global terhadap realitas pendudukan dan perlawanan”.

“Selama beberapa dekade, rezim Zionis membangun citra sebagai kekuatan militer dan intelijen yang tak tertandingi. Namun dalam satu pagi, Operasi Badai Al-Aqsa menghancurkan mitos itu sepenuhnya,” ujar Adel.

Menurutnya, operasi tersebut membuka mata dunia terhadap kejahatan perang yang selama ini ditutupi, penghancuran rumah sakit, sekolah, masjid, serta pembunuhan terhadap anak-anak dan perempuan yang mengguncang kredibilitas moral negara-negara pendukung Israel.

Perlawanan sebagai Sistem Kesadaran

Adel menekankan bahwa setelah serangan tersebut, Poros Perlawanan di Kawasan menjadi lebih terkoordinasi. Konsep “kesatuan medan” yang sebelumnya hanya slogan politik, kini telah menjelma menjadi realitas strategis.

“Perlawanan saat ini tidak lagi bergantung semata pada kekuatan senjata, tetapi pada kesadaran dan manajemen jangka panjang. Mereka telah membangun sistem pencegahan timbal balik yang membatasi kemampuan Israel untuk memulai perang,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa Israel kini kehilangan superioritas psikologisnya bahkan sebelum kekuatan militernya merosot. “Citra Militer yang tak terkalahkan runtuh, dan sistem pertahanan yang dibanggakan Tel Aviv terbukti rapuh di hadapan kreativitas Perlawanan,” ujarnya.

 

Krisis Internal Israel

Dalam pandangan Adel, dampak terdalam dari Operasi Badai Al-Aqsa justru terjadi di dalam Israel sendiri. Ia menyebut masyarakat Israel kini mengalami perpecahan paling tajam sejak 1948.

“Elite politik saling menyalahkan, kepercayaan publik terhadap Militer menurun drastis, dan Kabinet Netanyahu terjebak dalam krisis legitimasi internal serta isolasi eksternal,” katanya.

Menurutnya, Rezim Netanyahu saat ini “beroperasi berdasarkan logika bertahan hidup, bukan logika pemerintahan,” sementara para pemukim kehilangan rasa aman dan kepercayaan terhadap “negara”.

 

Awal Era Baru Kesadaran Global

Menutup wawancara, Adel menegaskan bahwa Badai Al-Aqsa harus dipahami sebagai awal kebangkitan baru, baik bagi Palestina maupun opini publik dunia.

“Ini bukan semata konfrontasi bersenjata, melainkan momen lahirnya kembali kesadaran manusia. Dunia kini melihat bahwa dominasi dapat dilawan, dan Palestina kembali menjadi tolok ukur keadilan global,” pungkasnya.

Tags: