Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Chicago Dilanda Kerusuhan, Warga Terlibat Bentrok Melawan Pasukan Keamanan

POROS PERLAWANAN — Menukil laporan Kayhan pada Kamis 16 Oktober, pasukan penegak hukum Federal di Chicago menembakkan gas air mata dan bentrok dengan pengunjuk rasa yang memprotes penangkapan terkait kebijakan imigrasi.

Kebijakan deportasi besar-besaran terhadap imigran ilegal, yang menjadi landasan kebijakan imigrasi Presiden Donald Trump, berakar sejak masa jabatan pertamanya yang dimulai pada 20 Januari 2017. Saat itu, Trump menerbitkan sejumlah perintah eksekutif seperti larangan perjalanan dari negara-negara mayoritas Muslim serta peningkatan operasi deportasi oleh Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai (ICE).

Meski diklaim untuk melindungi keamanan nasional, kebijakan tersebut sejatinya menjadi bagian dari pertunjukan politik Trump guna memikat basis pemilihnya. Obsesi patologisnya terhadap simbol kekuatan, seperti pembangunan tembok perbatasan, memperlihatkan bahwa ia memperlakukan kebijakan imigrasi layaknya panggung reality show, di mana para imigran digambarkan sebagai “penjahat” dalam skenario yang disutradarainya sendiri.

Janji Kampanye dan “The Great Trump Show”

Dalam kampanye 2024, Trump berjanji melaksanakan deportasi terbesar dalam sejarah Amerika. Klimaksnya terjadi pada 18 November 2024, ketika, setelah memenangkan Pemilu, ia mengumumkan keadaan darurat nasional dan menyatakan akan menggunakan militer untuk melaksanakan deportasi massal.

Langkah tersebut, lebih menyerupai adegan film Hollywood ketimbang kebijakan negara, mencerminkan ketertarikan obsesif Trump terhadap pamer kekuatan militer. Bagi Trump, Militer bukan alat pertahanan negara, melainkan properti panggung untuk melayani narasi politiknya sendiri.

Implementasi nyata rencana itu dimulai pada 20 Januari 2025, ketika deportasi meningkat secara drastis. Pemerintahannya menggunakan kekuatan Militer dan memperbesar anggaran ICE untuk mempercepat pengusiran imigran. “The Great Trump Show” ini tidak hanya menghabiskan sumber daya keuangan dan manusia, tetapi juga menghancurkan keluarga, mengganggu perekonomian, dan memperkuat sentimen rasisme terhadap imigran berkulit berwarna.

Kecelakaan yang Memicu Protes

Kerusuhan di Chicago bermula dari sebuah insiden pada Selasa pagi, ketika terjadi kejar-kejaran antara Agen Federal dan kendaraan tersangka di kawasan timur kota. Pengejaran tersebut berakhir dengan kecelakaan yang menarik perhatian warga sekitar.

Rekaman yang diperoleh CBS News Chicago menunjukkan kerumunan warga mendekati lokasi sebelum petugas menembakkan gas air mata untuk membubarkan mereka. Beberapa saat kemudian, bentrokan pecah antara warga dan aparat.

Menurut Departemen Keamanan Dalam Negeri AS, insiden itu bermula ketika seorang pengemudi menabrak kendaraan patroli perbatasan, memicu pengejaran. Polisi Chicago mengonfirmasi bahwa mereka menerima laporan tabrak lari di dekat perbatasan Indiana sekitar pukul 11.00 pagi, namun menegaskan tidak ada petugas lokal yang terlibat dalam operasi Federal tersebut.

Kerumunan warga kemudian melempar benda ke arah aparat setelah beredar kabar bahwa salah satu korban tabrakan adalah imigran yang sedang ditahan. Sebagai respons, Agen Federal menembakkan gas air mata ke arah massa. Sejumlah warga, mayoritas anak muda, dilaporkan ditangkap.

Gedung Dikepung, Kota Seperti Zona Perang

Menurut laporan IRNA, Agen Federal mengepung sebuah gedung berlantai lima menggunakan truk dan helikopter, kemudian melakukan operasi penyisiran dari rumah ke rumah. Aksi ini menambah kesan bahwa Chicago tengah berubah menjadi lokasi syuting film laga, persis seperti yang disukai presiden yang gemar menjadikan kebijakan sebagai pertunjukan.

Associated Press melaporkan bahwa penggunaan gas kimia di jalan-jalan kota telah berlangsung berulang kali dalam sepekan terakhir, menandakan intensitas tindakan aparat yang meningkat.

Unjuk Kekuatan yang Menggerus Kekuatan

Donald Trump, dengan hasrat berlebih untuk memamerkan kekuasaan lewat aksi militer dalam menegakkan kebijakan imigrasinya, justru tengah meruntuhkan fondasi kekuatan jangka panjang Amerika Serikat. Pendekatan teatrikal ini, yang lebih menyerupai serial televisi daripada kebijakan negara, tidak hanya memboroskan sumber daya, tetapi juga melemahkan ekonomi akibat hilangnya tenaga kerja murah dan terampil, serta mencoreng citra Amerika di mata dunia.

Di balik seluruh kebijakan tersebut, tersimpan lapisan rasisme yang menggambarkan imigran kulit berwarna sebagai ancaman. Akibatnya, ketegangan sosial meningkat, institusi melemah, dan keamanan nasional sejati justru kian tergerus.

Kegagalan Senat dan Krisis Pemerintahan

Sementara itu, Al Jazeera melaporkan bahwa penutupan Pemerintah Federal terus berlanjut setelah Senat AS kembali gagal meloloskan RUU pendanaan Pemerintah, kegagalan kedua dalam beberapa pekan terakhir.

Kebuntuan politik antara Partai Demokrat dan Republik memperpanjang krisis Pemerintahan. Ketua DPR AS, James Michael Johnson menuding Partai Demokrat sengaja mempertahankan penutupan ini demi mendorong legalisasi imigran ilegal dan membatalkan reformasi yang dilakukan Partai Republik. Ketidakmampuan dua partai besar mencapai kesepakatan anggaran memperlihatkan bahwa krisis politik dan sosial Amerika kini merembet ke pusat kekuasaan itu sendiri.

Penutup

Chicago kini menjadi simbol ironis dari Amerika di bawah bayang-bayang Trump: negara adidaya yang berubah menjadi panggung pertunjukan politik berbiaya tinggi. Gas air mata, helikopter, dan retorika nasionalis bukan lagi alat keamanan, melainkan properti sebuah drama kekuasaan, dan dunia menonton dengan rasa getir.

Tags: