Hamas: Kami Tidak akan Memberi Musuh Satu pun Alasan untuk Lanjutkan Perang
POROS PERLAWANAN — Juru Bicara Hamas, Hazem Qassim menegaskan bahwa Gerakan Perlawanan Palestina tidak akan memberi satu pun alasan bagi musuh untuk melanjutkan agresinya. Merujuk pada sejarah panjang pelanggaran perjanjian oleh Rezim Pendudukan, ia menegaskan bahwa pihaknya tetap memegang teguh komitmen terhadap gencatan senjata, seraya menyerukan kepada para mediator internasional agar menekan Israel untuk mematuhi kesepakatan yang telah disepakati.
Dalam pernyataannya yang dikutip Kantor Berita Tasnim pada Rabu 15 Oktober, Qassim menegaskan: “Para mediator harus mewajibkan Israel melaksanakan gencatan senjata. Kami akan mematuhi komitmen kami dan tidak akan memberi musuh satu pun alasan untuk melanjutkan perang.”
Tahap Pertama Selesai, Fase Kedua Dimulai
Menyusul kesepakatan pertukaran tahanan dalam kerangka gencatan senjata di Jalur Gaza beberapa hari terakhir, Qassim menjelaskan bahwa Hamas telah melaksanakan seluruh kewajiban yang tercantum dalam perjanjian, termasuk menyerahkan tawanan Zionis yang masih hidup serta berupaya menemukan dan menyerahkan jenazah mereka yang telah tewas.
Dalam wawancara dengan Al-Arabi Al-Jadeed pada Selasa malam, ia menegaskan: “Hamas telah melakukan semua yang diminta, sesuai isi perjanjian. Kami bekerja keras untuk menyelesaikan fase pertama ini agar agresi Rezim Pendudukan dan perang genosida terhadap Gaza benar-benar berakhir.”
Menurut Qassim, tahap pertama gencatan senjata yang meliputi pertukaran tahanan dan penarikan pasukan Pendudukan kini hampir rampung. Selanjutnya, Gaza akan memasuki fase kedua, yang mencakup penataan urusan internal Palestina, pembentukan Pemerintahan Sementara, proses rekonstruksi, serta pengaturan bantuan kemanusiaan.
“Ini adalah isu sensitif dan penting,” tegasnya, “yang membutuhkan perspektif nasional yang menyeluruh. Kita harus menyelesaikannya terlebih dahulu di antara sesama rakyat Palestina sebelum berinteraksi dengan pihak luar.”
Ia menjelaskan bahwa fase kedua akan segera dimulai setelah fase pertama tuntas, proses yang kini didukung oleh sejumlah negara yang sebelumnya bertemu di Sharm el-Sheikh.
“Israel Selalu Melanggar Perjanjian”
Ketika ditanya soal potensi pelanggaran Israel terhadap kesepakatan ini, seperti yang kerap terjadi sebelumnya, Qassim menjawab tanpa ragu: “Penjajah selalu melanggar perjanjian. Itu adalah kebijakan konsisten mereka.”
Ia menegaskan bahwa sejak awal Hamas telah menekankan pentingnya keterlibatan aktif pihak-pihak internasional dalam memantau perilaku Israel dan menekan mereka agar tidak mengingkari isi perjanjian.
“Kami akan melakukan semua yang diminta dari kami,” lanjutnya, “dan menutup setiap celah yang bisa dijadikan alasan bagi Pendudukan untuk melanjutkan agresi atau memicu perang baru.”
Rekonstruksi Gaza: Prioritas yang Tak Dapat Ditawar
Menanggapi rumor mengenai konflik internal di Jalur Gaza pascagencatan senjata, Qassim menepisnya tegas.
“Tidak ada konflik internal di Gaza,” ujarnya. “Yang terjadi adalah langkah-langkah administratif dan keamanan untuk mengendalikan situasi, terutama menghadapi infiltrasi elemen-elemen yang bekerja sama dengan penjajah.”
Ia menambahkan bahwa percepatan rekonstruksi dan penyaluran bantuan kemanusiaan merupakan salah satu tuntutan utama Hamas dalam setiap negosiasi. Hamas, katanya, sepenuhnya sadar bahwa isu rekonstruksi sering dijadikan alat tawar atau tekanan politik oleh Israel.
“Kami telah mendengar posisi yang jelas dari banyak negara bahwa Gaza berhak atas rekonstruksi cepat dan tulus. Karena itu, kami akan bekerja sama dengan semua pihak untuk memastikan hak rakyat Gaza dipenuhi, terutama mengingat kehancuran total yang mereka alami.”
Senjata Perlawanan dan Persatuan Nasional
Menanggapi pertanyaan seputar isu pelucutan senjata, yang kerap dimunculkan dalam kerangka “rencana Trump”, Qassim menyebut bahwa hal itu memerlukan pendekatan politik yang cermat dan berpijak pada persatuan nasional Palestina.
“Ada banyak isu yang menuntut kesepahaman politik bersama, soal senjata Perlawanan, pengelolaan Jalur Gaza, dan masa depan Pemerintahan Palestina pascaperang. Semua harus dibicarakan dengan kepala dingin, dalam kerangka nasional yang inklusif.”
Dialog Nasional sebagai Jalan Keluar
Menutup pernyataannya, Juru Bicara Hamas itu menegaskan pentingnya dialog nasional yang serius dengan seluruh kekuatan politik Palestina, termasuk Fatah, Otoritas Palestina, dan petinggi Organisasi Pembebasan Palestina (PLO).
“Melalui dialog nasional yang jujur dan menyeluruh, kita dapat menemukan pendekatan politik yang menghapus semua alasan bagi penjajah untuk melanjutkan agresi atau menghindari tanggung jawab atas gencatan senjata ini,” pungkasnya.
Hamas kini menempatkan dirinya di persimpangan sejarah: antara menjaga gencatan senjata dan mempertahankan harga diri Perlawanan. Di satu sisi, Gaza menunggu dimulainya rekonstruksi; di sisi lain, bayang-bayang pelanggaran Israel terus menghantui.
Namun pesan Hazem Qassim jelas, bahwa Perlawanan tidak akan memberi musuh satu pun alasan untuk melanjutkan perang.
