Hamas Serukan Gerakan Anti-Zionis Menyusul Eskalasi Kejahatan Israel di Tepi Barat
POROS PERLAWANAN – Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) mengecam keras meningkatnya kejahatan dan tindakan represif rezim Zionis terhadap warga Palestina di Tepi Barat. Dalam pernyataan resminya pada Sabtu 18 Oktober, Hamas menyerukan pembentukan Gerakan Rakyat Anti-Zionis secara menyeluruh di seluruh wilayah Tepi Barat untuk menanggapi peningkatan kekerasan dan penindasan yang dilakukan oleh pasukan Pendudukan dan para pemukim ilegal.
Menurut laporan Kantor Berita Shehab Palestina, Hamas menegaskan bahwa meningkatnya serangan para penjajah dan pemukim tidak akan mematahkan semangat perlawanan rakyat Palestina.
“Agresi ini tidak akan mampu menundukkan kehendak rakyat kami atau mengusir mereka dari Tanah Airnya. Justru, kekejaman ini hanya akan memperluas gelombang kemarahan publik dan memperkuat perlawanan di seluruh Tepi Barat”, tegas pernyataan tersebut.
Genosida Gaza dan Dampaknya ke Tepi Barat
Hamas menyoroti bahwa meningkatnya kejahatan di Tepi Barat terjadi hanya berselang beberapa bulan setelah berakhirnya dua tahun genosida brutal di Jalur Gaza.
Dalam pandangan Hamas, serangan terbaru menunjukkan pola sistematis upaya Zionis memperluas dominasi dan “mengisraelisasi” Tepi Barat, baik melalui kekuatan militer maupun dukungan politik dari pemerintahan sayap kanan ekstrem di Tel Aviv.
“Kekerasan di Tepi Barat adalah babak lanjutan dari proyek penjajahan. Namun rakyat Palestina tidak akan gentar. Kejahatan ini hanya akan berbalik menjadi bumerang bagi para penjajah dan pemukim”, demikian isi lanjutan pernyataan Hamas.
Gerakan itu juga menegaskan bahwa mimpi Israel untuk sepenuhnya menguasai Tepi Barat “tidak akan pernah terwujud”, karena perlawanan rakyat semakin solid dan meluas lintas wilayah, dari Hebron hingga Nablus, dari Ramallah hingga Yerusalem Timur.
Seruan untuk Mobilisasi Rakyat Palestina
Di bagian penutup pernyataannya, Hamas menyerukan pembentukan gerakan rakyat luas untuk menghadang agresi para pemukim bersenjata dan pasukan Pendudukan.
“Kami menyerukan kepada seluruh rakyat Palestina untuk terus bangkit, melawan dengan segala kemampuan, dan mempertahankan desa, kota besar, serta perkampungan di Tepi Barat dari serangan pemukim dan Militer Zionis”, tulis Hamas dalam pernyataan yang dikutip Shehab News Agency.
Eskalasi Terbaru: Serangan terhadap Anak Palestina dan Gangguan Panen Zaitun
Eskalasi kekerasan di Tepi Barat kian nyata dalam beberapa hari terakhir. Sumber-sumber lokal melaporkan bahwa pasukan Pendudukan Israel menggerebek rumah keluarga Muhammad Bejahat al-Halaq, bocah Palestina berusia 11 tahun dari desa al-Rihiyyah, selatan Hebron, yang gugur akibat tembakan langsung tentara Israel dua hari lalu.
Menurut saksi mata, pasukan Zionis mengepung dan menggeledah rumah korban, serta menginterogasi anggota keluarganya selama berjam-jam, menciptakan ketegangan dan trauma psikologis mendalam bagi warga sekitar.
Selain itu, pemukim Zionis kembali melakukan tindakan provokatif terhadap warga Palestina yang sedang memanen zaitun, sumber ekonomi utama bagi banyak keluarga di Tepi Barat. Insiden terbaru terjadi di desa Makhmas, sebelah utara Yerusalem yang Diduduki, di mana pemukim bersenjata, dengan dukungan pasukan Israel, mencegah warga memetik hasil panen mereka.
Tindakan itu menambah panjang daftar serangan terhadap para petani Palestina selama musim panen tahun ini, yang sering digunakan sebagai momentum intimidasi sistematis untuk memaksa warga meninggalkan lahan mereka.
Konteks Lebih Luas: Dari Gaza ke Tepi Barat
Analis regional menilai bahwa peningkatan kekerasan di Tepi Barat adalah strategi lanjutan Israel untuk mengalihkan tekanan politik dan diplomatik setelah kegagalan militernya di Gaza. Meski secara militer Israel memiliki dominasi penuh, namun secara politik dan moral mereka menghadapi kekalahan citra internasional akibat ekspos berulang terhadap kejahatan perang yang dilakukan terhadap warga sipil.
Dalam konteks ini, seruan Hamas untuk “Gerakan Anti-Zionis” bukan hanya reaksi spontan, melainkan sinyal konsolidasi perlawanan lintas wilayah Palestina, sekaligus pesan bahwa “babak Gaza” belum selesai, hanya berpindah front.
Kesimpulan
Pernyataan Hamas memperlihatkan bahwa perlawanan rakyat Palestina tidak terbatas pada Jalur Gaza, melainkan berkembang sebagai front kesadaran nasional di seluruh Tepi Barat. Sementara Rezim Zionis terus memperluas tindakan militernya, semangat rakyat Palestina kian terpantik untuk menegaskan hak mereka atas Tanah Air yang dijajah.
Eskalasi ini menandai bahwa “gencatan senjata” yang dipropagandakan Donald Trump ternyata belum berarti penghentian penjajahan, tetapi hanya jeda di antara babak-babak baru perlawanan.
