Perwakilan Eropa: Rencana Trump–Netanyahu Bukan untuk Perdamaian di Gaza
POROS PERLAWANAN – Anggota Parlemen Eropa asal Spanyol, Irene Montero mengecam keras serangan terbaru Israel terhadap Jalur Gaza. Ia menegaskan bahwa rencana bersama Presiden AS, Donald Trump dan Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu tidak pernah dimaksudkan untuk menciptakan perdamaian, melainkan untuk mendominasi Palestina dan membungkam perlawanan rakyat.
Dalam unggahan di akun X (dulu Twitter), Montero menulis: “(Rezim) Israel kembali membombardir Gaza karena mereka memang tidak menginginkan perdamaian”.
Montero juga menilai keterlibatan Spanyol dalam mendukung rencana perdamaian versi Trump sebagai tindakan memalukan.
“Sungguh memalukan bahwa Pemerintah Spanyol berpartisipasi dalam sandiwara ini dan menjadi kaki-tangan Trump serta Netanyahu dalam kejahatan ini,” ujarnya.
Montero menambahkan bahwa dunia internasional harus bersikap tegas terhadap Rezim Zionis. Ia menekankan bahwa untuk menghentikan genosida dan membebaskan Palestina, dunia perlu memperlakukan Israel sebagaimana Eropa memperlakukan Rezim Nazi di masa lalu.
Gencatan Senjata Diuji Kembali
Menurut laporan IRNA pada Selasa 21 Oktober, gencatan senjata di Gaza kembali terguncang pada Minggu lalu ketika Israel melancarkan serangan udara mendadak di Rafah, wilayah selatan Gaza.
Serangan itu terjadi di tengah laporan bahwa Amerika Serikat menekan Tel Aviv agar tidak menutup perlintasan dan tetap mengizinkan bantuan kemanusiaan masuk ke wilayah yang terkepung tersebut.
Namun, pada Minggu malam, Militer Israel mengumumkan bahwa mereka melanjutkan gencatan senjata setelah melakukan “serangan tepat sasaran” terhadap posisi Hamas.
Juru Bicara Militer, Avichay Adraee menyatakan bahwa pasukan Israel tetap berkomitmen terhadap perjanjian, tetapi akan menanggapi keras setiap pelanggaran.
Tekanan AS dan Kebuntuan Negosiasi
Sementara itu, media Israel melaporkan bahwa dua Utusan AS untuk Wilayah Pendudukan, Steve Witkoff dan Jared Kushner, telah memperingatkan Netanyahu agar tidak mengambil tindakan yang dapat membahayakan gencatan senjata. Utusan itu menegaskan bahwa “membahayakan kesepakatan adalah hal yang sama sekali tidak dapat diterima”.
Channel 12 Israel mengutip sumber yang mengatakan bahwa para Utusan AS mendesak Netanyahu untuk segera memulai tahap kedua perjanjian gencatan senjata.
Namun, seperti dilaporkan Al-Quds Al-Arabi, negosiasi menuju tahap kedua itu mengalami kebuntuan akibat tindakan sabotase Israel.
Sumber Palestina yang dikutip media tersebut menyebut bahwa Israel menuntut agar semua jenazah tentaranya dikembalikan terlebih dahulu sebelum melanjutkan pembahasan lanjutan.
Syarat itu ditolak oleh faksi-faksi Palestina, yang menilai langkah tersebut hanya upaya licik Israel untuk menunda pelaksanaan kesepakatan. Mereka meminta para mediator mendesak AS agar memaksa Israel mematuhi komitmennya.
Hingga kini, Rezim Zionis dilaporkan terus menghambat pelaksanaan tahap pertama dan berulang kali melanggar perjanjian, sehingga prospek perdamaian Gaza kembali dipertanyakan.
