Dubes Venezuela: Saya Datang ke Najaf dan Karbala untuk Doakan Negara Kami yang Tengah Hadapi Ancaman Amerika
POROS PERLAWANAN – Di saat Venezuela bergulat dengan beragam tantangan politik dan ekonomi serta ancaman militer AS, Dubes negara Amerika Latin itu untuk Irak, Arturo Anibal menziarahi tempat-tempat suci di Najaf dan Karbala. Dia memandang kunjungan itu sebagai kesempatan untuk memohon kedamaian dan mendoakan bangsanya.
“Kami datang ke Provinsi Najaf dan Karbala untuk mengunjungi tempat-tempat suci, juga demi memohon kedamaian untuk Venezuela dan Amerika Selatan, yang Venezuela adalah bagian darinya,” kata Anibal di makam Imam Husain as., Fars melaporkan.
“Kami datang ke tempat suci ini untuk mendoakan negara kami yang tengah menghadapi ancaman,” imbuhnya.
Anibal lalu memaparkan pertemuannya dengan para Gubernur Najaf dan Karbala serta pembicaraannya dengan mereka terkait penguatan hubungan Baghdad-Caracas.
Sebelum ini, Presiden Venezuela Nicolás Maduro menyatakan bahwa negaranya memiliki sekitar 5.000 rudal antipesawat buatan Rusia yang siap digunakan untuk menghadapi potensi ancaman Militer Amerika Serikat di Laut Karibia.
Mengutip laporan AFP pada Rabu 22 Oktober, Maduro dalam sebuah upacara yang dihadiri pejabat tinggi Militer Venezuela menegaskan bahwa Caracas memiliki sistem rudal permukaan-ke-udara jarak pendek Igla-S buatan Rusia. “Sebanyak lima ribu unit rudal tersebut telah ditempatkan di posisi pertahanan udara utama untuk menjamin perdamaian,” ujarnya.
Pernyataan ini disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan antara Caracas dan Washington. Amerika Serikat menuduh Maduro melakukan kecurangan dalam pemilihan presiden Venezuela tahun lalu, serta mengaitkannya dengan kelompok “Kartel Matahari”, yang dituding memfasilitasi perdagangan narkotika ke AS.
“Venezuela kini menghadapi ancaman terbesar yang pernah dihadapi benua kami dalam satu abad,” tegas Maduro.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Venezuela, Vladimir Padrino López menuduh Amerika Serikat telah melancarkan “perang yang tidak dideklarasikan” terhadap Caracas melalui pengerahan kapal perangnya di Laut Karibia.
