Saeed Khatibzadeh di KTT Pugwash Dunia: Timur Tengah dalam Kondisi ‘Perang Permanen’ Akibat Ulah Amerika dan Israel
POROS PERLAWANAN — Dalam pidatonya di Pugwash Global Summit, Wakil Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Saeed Khatibzadeh memperingatkan tentang kekacauan yang belum pernah terjadi sebelumnya akibat kebijakan Amerika Serikat dan sekutunya di Kawasan, termasuk Rezim Zionis. Ia menilai kebijakan tersebut telah menimbulkan dampak destruktif terhadap stabilitas internasional.
Menurut laporan IRNA pada Minggu 9 November, Khatibzadeh yang juga Kepala Pusat Studi Politik dan Internasional Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan dalam pidatonya bahwa tatanan internasional dalam beberapa tahun terakhir menghadapi dua tren besar yang bertentangan dengan hukum internasional dan berpotensi menimbulkan kekacauan global.
“Pertama, di bawah tekanan dan rekayasa politik Barat, kita menyaksikan pergeseran dari tatanan berbasis hukum menuju tatanan berbasis aturan (rules-based order), yang telah menimbulkan ketidakstabilan mendasar dalam sistem internasional,” ujar Khatibzadeh.
“Lebih mengkhawatirkan lagi, dengan kebijakan Amerika Serikat dan beberapa agen regionalnya seperti Rezim Zionis, penggunaan kekuatan secara terang-terangan kini telah melahirkan tatanan berbasis kekuasaan (power-based order), yang secara inheren anti-perdamaian, anti-stabilitas, dan mengancam prinsip dasar hukum internasional.”
Khatibzadeh menekankan bahwa transisi dari tatanan berbasis hukum ke tatanan berbasis kekuatan merupakan ancaman terbesar bagi masa depan keamanan dan hubungan internasional, yang harus segera dihentikan dan dibalik arah prosesnya.
“Prinsip-prinsip hukum internasional yang jelas seperti kedaulatan nasional, integritas teritorial, dan hak asasi manusia telah diabaikan. Dunia kini menyaksikan genosida nyata di Gaza dan Palestina, sebuah kejahatan yang menyingkap wajah sejati tatanan global saat ini,” tegasnya.
Menurut Khatibzadeh, Timur Tengah telah mengalami militerisasi dan sekuritisasi ekstrem, sehingga kawasan tersebut kini berada dalam kondisi perang permanen, di mana kekerasan bukan lagi pengecualian, melainkan menjadi norma politik.
Diplomat senior Iran itu juga menegaskan bahwa serangan AS dan Israel terhadap Iran merupakan pengkhianatan terhadap jalur diplomasi dan bukti bahwa hukum internasional sedang berada di ambang krisis.
“Serangan terhadap Iran tidak terjadi karena kurangnya diplomasi atau ancaman dari program nuklir damai Iran. Sebaliknya, hal itu berakar pada ambisi geopolitik Rezim Zionis dan upaya AS untuk menegakkan hegemoni serta menjamin superioritas militer dan intelijen Israel di Kawasan, upaya yang jelas telah gagal total,” ujarnya.
Khatibzadeh menilai bahwa maraknya pelanggaran hukum dan logika kekerasan tidak hanya menghancurkan keamanan regional, tetapi juga menggerus kepercayaan terhadap diplomasi internasional. Kondisi ini, katanya, bahkan menggugat legitimasi tatanan internasional pasca-Perang Dunia II.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa persoalan Palestina adalah akar dari seluruh krisis di kawasan Timur Tengah.
“Tanpa keadilan dan kesetaraan bagi rakyat Palestina serta pembentukan negara Palestina yang bersatu, perdamaian abadi tidak akan pernah terwujud,” kata Khatibzadeh.
“Pembentukan Pengadilan Nuremberg Timur Tengah untuk mengadili para pelaku kejahatan terhadap kemanusiaan dan genosida di Palestina adalah kebutuhan nyata dan bersejarah.”
Khatibzadeh menutup pidatonya dengan menekankan pentingnya harapan dalam politik dan diplomasi, namun menegaskan bahwa harapan harus dibangun di atas realitas lapangan dan pendekatan baru yang berpijak pada keadilan, bukan kekuasaan.
