Loading

Ketik untuk mencari

Amerika Yaman

Korps Marinir AS: Kita Mesti Belajar dari Taktik-taktik Istimewa Yaman

Korps Marinir AS: Kita Mesti Belajar dari Taktik-taktik Istimewa Yaman

POROS PERLAWANAN – “Kita harus membuang kesombongan dan belajar dari apa yang telah ditunjukkan oleh orang-orang Yaman.” Ini adalah bagian dari laporan Korps Marinir AS (MCA) yang ditulis  Kapten Tyler C. Gunn dan ditujukan kepada para komandan serta pejabat militer tinggi negara tersebut.

Fars melaporkan, MCA adalah organisasi profesional nirlaba yang didirikan lebih dari 100 tahun yang lalu, dengan tujuan utama mendukung pengembangan profesionalisme, pendidikan, dan pelestarian warisan marinir.

Laporan ini ditulis enam bulan setelah berakhirnya konflik antara AS dan pasukan Yaman, kesepakatan yang mengakhiri konflik selama 18 bulan dan memaksa Donald Trump menarik pasukan AS dari Laut Merah tanpa raihan apa pun.

Menurut laporan al-Masirah, organisasi ini telah menerbitkan serangkaian evaluasi yang belum pernah ada sebelumnya mengenai kinerja pasukan Yaman di Laut Merah; evaluasi yang menyoroti, inovasi sistem operasi pasukan Yaman dan metode pelaksanaan operasi berbiaya rendah, sebagai faktor yang telah membebani AS dengan biaya yang sangat tinggi.

Dalam laporan ini, MCA menyatakan bahwa pasukan Yaman telah memberikan “pelajaran operasional yang tak terduga” dan meski “tanpa memiliki kapal perang atau pasukan udara,” tapi mampu “menantang Angkatan Laut AS dan membebankan biaya miliaran Dolar bagi mereka.”

Ini menunjukkan bahwa pasukan Yaman secara terus-menerus telah memaksa AS untuk mengalihkan sebagian besar kekuatan maritim dan udaranya ke “medan samping”, padahal Yaman tidak memiliki perangkat strategis utama.

Menurut laporan organisasi tersebut, cara kerja Yaman di bidang maritim dan biaya besar yang ditanggung AS telah memberikan Angkatan Laut AS “kesempatan langka untuk mengevaluasi serius metode operasionalnya sendiri.”

MCA menegaskan bahwa tujuan dari evaluasi ini bukanlah untuk menyanjung pasukan Yaman, melainkan untuk mengekstrak pelajaran operasional dan menyesuaikan struktur militer AS dengan pertempuran di masa depan.

Dalam penilaian ini dijelaskan bahwa pasukan Yaman, dengan memanfaatkan “asimetri”, “daya tahan”, dan “kemampuan adaptasi”, mampu menciptakan dampak yang melampaui ukuran klasik mereka. Hal ini, menurut lembaga tersebut, harus dipertimbangkan oleh Unit Pesisir Marinir AS dalam rancangan struktur mereka di masa depan.

Dalam bagian lain dari laporan tersebut disebutkan, Yaman telah mencapai hasil yang strategis dengan alat-alat yang sangat murah. Sebagai contoh, pencegatan satu drone senilai 10.000 Dolar milik Yaman memaksa AS untuk meluncurkan rudal senilai 4 juta Dolar.

Analisis ini menunjukkan bahwa pasukan Yaman telah menggunakan taktik “penumpukan drone” untuk menguras sistem pertahanan sebelum serangan utama. Selain itu, ditekankan bahwa dalam banyak operasi, tujuan pasukan Yaman bukanlah untuk menimbulkan kerugian langsung, melainkan untuk menciptakan situasi pertahanan yang permanen, mahal, dan tidak berkelanjutan bagi AS.

“Angkatan Laut AS harus memanfaatkan pengalaman Yaman dalam penggunaan umpan, sistem nirawak, dan amunisi pengalih perhatian untuk menciptakan “ambiguitas operasional” hingga dapat menembus lapisan pertahanan musuh,” tegas MCA.

MCA mengakui dalam penilaian ini bahwa AS, meskipun memiliki kemampuan intelijen dan pemantauan canggih (ISR), tidak dapat menargetkan landasan-landasan peluncur rudal dan drone Yaman.

Dalam laporan ini juga disebutkan, beragam ancaman dari Yaman telah memaksa kapal-kapal AS untuk menggunakan amunisi yang sangat presisi dan mahal. Hal ini yang disebut lembaga tersebut sebagai “hal yang mengkhawatirkan”, karena tren ini memungkinkan Yaman untuk menciptakan “dampak strategis yang nyata”.

Dalam laporan ini ditekankan bahwa operasi militer Yaman telah menyebabkan penarikan dan relokasi kapal-kapal perang AS serta sekutu NATO di Laut Merah.

Menurut penilaian ini, Yaman telah menunjukkan bahwa untuk inovasi operasional, tidak selalu diperlukan sumber daya besar, karena sebuah pola pikir “inovatif dan nonkonvensional” dapat memainkan peran penentu.

Di bagian lain disebutkan bahwa pengalaman Yaman sekali lagi membuktikan bahwa “kuantitas dan keragaman” dapat mengungguli “kualitas semata.” Pasukan Yaman telah membuktikan slogan “melakukan hal-hal besar dengan sumber daya terbatas”; slogan yang justru telah digembor-gemborkan para marinir AS sendiri selama bertahun-tahun.

“Kita tidak pernah membayangkan akan meniru taktik kelompok-kelompok Yaman, tetapi hari ini kita melakukannya.”

Evaluasi ini pada akhirnya mengajukan pertanyaan berikut: “Apa yang telah ditunjukkan oleh Yaman saat ini dapat kita manfaatkan. Tetapi apakah kita memiliki kerendahan hati yang diperlukan untuk mempelajarinya?”

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *