Loading

Ketik untuk mencari

Lebanon

Legislator Hizbullah: Tak Satu pun Pejabat AS Berhak Hina Militer Lebanon

Legislator Hizbullah: Tak Satu pun Pejabat AS Berhak Hina Militer Lebanon

POROS PERLAWANAN – Anggota Fraksi al-Wafa dan Ketua Komisi Media dan Komunikasi di Parlemen Lebanon, Ibrahim al-Moussawi dengan keras mengkritik sikap arogan AS terhadap Militer negara tersebut.

Fars memberitakan, al-Moussawi menekankan bahwa Pemerintah AS telah melampaui batas dalam memperlakukan Lebanon dengan sikap arogannya. AS disebutnya berusaha secara terang-terangan untuk mengendalikan Beirut dengan campur tangan dalam penentuan musuh dan kawan, serta membatasi peran Tentara Nasional Lebanon, sementara Israel terus melakukan agresi harian terhadap tanah dan rakyat Lebanon.

Menurut kutipan Fars dari al-Manar, al-Moussawi mengatakan bahwa seluruh rakyat Lebanon mesti mengecam upaya untuk melemahkan kemerdekaan, kedaulatan, dan martabat Lebanon, serta upaya menyerang Militer Lebanon yang memiliki konsensus nasional dan peran alami dalam mempertahankan negara.

Legislator Hizbullah tersebut menegaskan bahwa logika AS yang bersifat memaksakan kehendak dan intimidasi sepenuhnya ditolak. Ia juga menyatakan bahwa upaya Washington untuk menekan Militer guna menciptakan perpecahan, sebagai bagian dari proyek “Israel Raya”, harus dikecam dan ditolak.

Al-Moussawi menekankan bahwa tidak ada satu pun pejabat AS yang berhak menghina Militer Lebanon, komandannya, dan perannya dalam menjaga negara dalam kerangka pelaksanaan perjanjian yang ditaati oleh Lebanon. Sementara di sisi lain, pejabat AS itu tetap diam terhadap pelanggaran berulang yang dilakukan Israel.

Dia menyatakan bahwa AS secara terang-terangan memeras Militer Lebanon dan memanfaatkan kekacauan domestik Lebanon untuk melayani kepentingan Rezim Zionis. Menurut al-Moussawi, seharusnya sikap AS ini mendorong semua warga Lebanon untuk bersatu dalam menolak dan mengutuk tuntutan serta pemerasan tersebut.

Sehubungan dengan ini, surat kabar al-Akhbar dengan mengutip sumber-sumber tepercaya, telah melaporkan bahwa pembatalan perjalanan Panglima Militer Lebanon, Rodolph Haikal ke AS “bukan hanya terkait dengan pernyataan Militer Lebanon yang menentang tindakan agresif Rezim Zionis, melainkan dilatarbelakangi memburuknya hubungan antara dia dan Utusan AS, Morgan Ortagus”.

Di hadapan beberapa politisi Lebanon, Ortagus menuding Haikal tidak memenuhi komitmennya dalam menghadapi Hizbullah.

Kegusaran Ortagus ini semakin memuncak setelah laporan Haikal disampaikan kepada Kabinet. Dalam laporan tersebut, Haikal menyoroti “hinaan berulang terhadap Militer Lebanon, baik dalam hal keamanan maupun politik, serta bagaimana personel tentara di selatan Lebanon dianiaya dan diserang oleh Israel”.

Ia juga mengemukakan kemungkinan bahwa Militer bakal menghentikan semua operasinya di selatan Sungai Litani akibat tindakan Israel yang selalu berusaha merintangi.

Laporan ini kemudian disampaikan kepada Pemerintah AS oleh “informan” di dalam Pemerintah Lebanon.

Tags: