Mantan Staf Obama Nilai Doktrin ‘Holocaust’ Gagal Pengaruhi Kaum Muda AS
POROS PERLAWANAN – Dilansir Al Mayadeen, mantan penulis pidato Presiden AS Barack Obama, Sarah Hurwitz mengutarakan kekhawatirannya bahwa generasi muda di Amerika Serikat semakin terpapar gambar-gambar kehancuran di Gaza melalui media sosial, yang mengubah pemahaman mereka tentang sejarah Yahudi dan Holocaust.
Berbicara di KTT Federasi Yahudi Amerika Utara 2025 baru-baru ini, Hurwitz mengatakan bahwa akses ke konten tak tersensor di internet, termasuk rekaman warga Palestina yang dibantai dan terluka parah, memengaruhi cara generasi muda menafsirkan dinamika kekuasaan global. Ia menjelaskan bahwa orang-orang saat ini dapat membentuk opini di luar saluran media tradisional, yang selama ini dianggap sebagai penjaga informasi.
Hurwitz menilai bahwa penjabaran Holocaust yang luas, yang bertujuan untuk memperkuat kesadaran tentang antisemitisme, dalam beberapa kasus justru telah berkontribusi pada pergeseran ini. Dia mencatat bahwa banyak anak muda telah mulai “memandang Palestina sebagai korban”. Dia sepenuhnya mengabaikan genosida yang sedang berlangsung di Gaza; genosida yang membuat generasi muda menarik paralel antara ketidakadilan masa lalu dan masa kini.
“Mereka berpikir bahwa pelajaran dari Holocaust adalah… kamu melawan orang-orang kuat yang menyakiti orang-orang lemah,” katanya.
Dia menambahkan bahwa video-video penderitaan di Gaza, di mana puluhan ribu warga Palestina telah tewas akibat aksi brutal Israel sejak Oktober 2023, membuat generasi muda sulit menerima pesan resmi yang berusaha memisahkan ketidakadilan sejarah yang dialami komunitas Yahudi dari peristiwa saat ini. Menurut pernyataannya, isu utama bagi audiens muda adalah dampak manusiawi yang mereka saksikan setiap hari secara online, bukan argumen geopolitik.
Hurwitz memperingatkan bahwa pergeseran ini telah meningkatkan ketegangan di dalam komunitas Yahudi, karena sebagian pemuda Amerika menolak upaya untuk menggambarkan konflik hanya melalui lensa keamanan kolektif Yahudi. Tantangannya, katanya, terletak pada mengatasi kontras yang mencolok antara penggambaran historis Yahudi sebagai minoritas yang tertindas dan realitas perjuangan Palestina serta kekejaman yang dihadapi oleh rakyat Palestina.
Dia juga mengkritik algoritma media sosial karena menyoroti penderitaan rakyat Palestina dan memperlihatkan kekejaman Rezim Israel. Hurwitz mengabaikan bahwa pasukan Pendudukan Israel memang sedang membantai rakyat Palestina.
Hurwitz juga sepenuhnya mengabaikan kelaparan dan agresi, serta genosida yang sedang berlangsung terhadap rakyat Palestina, demi memperkuat argumen bahwa Holocaust bukanlah tentang “besar versus kecil”, memberikan aspek rasial pada penindasan, dan berusaha memastikan bahwa hanya komunitas atau etnis tertentu yang berhak menyebut diri mereka sebagai korban penindasan atau menghadapi ketidakadilan yang serius.
Seorang cendekiawan Yahudi-Amerika terkemuka, Norman Finkelstein, yang orang tuanya selamat dari kamp konsentrasi Nazi, telah mengkaji secara mendalam penggunaan politik Holocaust dalam bukunya tahun 2000, “The Holocaust Industry”. Dalam karya tersebut, Finkelstein berargumen bahwa tragedi sejarah tersebut kadang-kadang digunakan dengan cara yang menempatkan penderitaan Yahudi sebagai sesuatu yang unik dan tak tertandingi, yang menurutnya menjadi hambatan bagi advokasi hak asasi manusia universal.
Bagi Hurwitz, masalahnya bukan genosida di Gaza itu sendiri, melainkan fakta bahwa orang-orang di seluruh dunia, termasuk pemuda Yahudi, terpapar pada kejahatan yang dilakukan oleh agresi Israel, sehingga genosida tersebut bukan tindakan tidak manusiawi, melainkan bencana hubungan masyarakat. Tidak lebih dan tidak kurang.
