Hizbullah Rilis Biografi Syahid Haitsam Ali al-Thabathabai
POROS PERLAWANAN – Dilansir Al Mayadeen, Hizbullah Lebanon telah merilis biografi Komandan Militer seniornya yang telah syahid, Haitsam Ali al-Thabathabai, yang biasa dipanggil dengan sebutan “Sayyid Abu Ali”. Dia gugur pada Minggu 23 November akibat serangan udara Israel di pinggiran selatan Beirut. Operasi tersebut juga menewaskan beberapa rekan seperjuangannya.
Lahir pada 5 November 1968 di kawasan al-Bashoura, Beirut, Sayyid Abu Ali bergabung dengan Perlawanan Islam sejak awal berdirinya. Selama puluhan tahun, ia menjadi tokoh kunci dalam Gerakan tersebut, menjalani pelatihan militer dan kepemimpinan yang intensif, serta naik pangkat hingga memegang beberapa tanggung jawab paling vital dalam organisasi.
Sayyid Abu Ali ikut serta dalam berbagai operasi strategis, terutama misi elite yang menargetkan pasukan Pendudukan Israel dan kolaboratornya sebelum pembebasan selatan Lebanon pada 2000 silam. Ia memainkan peran kunci di lapangan dalam menangkis serangan Israel terhadap Lebanon selama perang 1993 dan 1996.
Dari 1996 hingga 2000, ia memimpin Poros Nabatieh, saat ia termasuk di antara para komandan operasi penangkapan pasukan musuh di Berkat al-Naqar, yang terletak di Ladang Shebaa.
Setelah pembebasan selatan Lebanon pada 2000 hingga 2008, ia memimpin Poros Khiam, tempat ia memainkan peran yang menentukan selama pertempuran dalam Perang 33 Hari. Ia mengarahkan beberapa operasi strategis terpenting Perlawanan di front tersebut.
Setelah syahidnya Komandan Hajj Imad Mughniyah, Sayyid Abu Ali ditunjuk sebagai Kepala Pasukan Intervensi Perlawanan dan memainkan peran kunci dalam pembentukan dan pengembangan pasukan elite Brigade Ridhwan.
Dia juga ditugaskan untuk mengemban tugas kepemimpinan tingkat tinggi di berbagai front Poros Perlawanan.
Pada 2023, dia memimpin komando operasional dalam Perlawanan Islam selama Pertempuran Operasi Badai al-Aqsa. Pada tahun berikutnya, selama Pertempuran Rakyat Perkasa pada 2024, dia mengawasi dan mengarahkan operasi Perlawanan.
Setelah Pertempuran Rakyat Perkasa, dia mengambil alih kepemimpinan militer penuh dalam Perlawanan Islam.
Sebelumnya, Hizbullah telah mengumumkan syahidnya Komandan Militer senior Haitsam Ali al-Thabathabai, yang juga dikenal sebagai Sayyid Abu Ali, yang syahid dalam serangan udara Israel di Haret Hreik di pinggiran selatan Beirut.
Pada Minggu sore kemarin, serangan udara Israel menargetkan lantai keempat dan kelima sebuah bangunan sipil di Jalan al-Areed di Haret Hreik. Menurut Kementerian Kesehatan Lebanon, lima orang gugur dan 28 orang luka-luka dalam serangan tersebut.
Dalam pernyataan resmi, Hizbullah mengucapkan belasungkawa atas kepergian seorang komandan militer besar, memuji dedikasi seumur hidup al-Thabathabai terhadap Gerakan Perlawanan di Lebanon dan perannya dalam menghadapi Pendudukan Israel.
Pernyataan tersebut menambahkan bahwa al-Thabathabai bergabung dengan saudara-saudaranya yang syahid setelah penantian panjang untuk bertemu dengan Allah Yang Maha Kuasa, mengikuti jalan yang ditandai oleh “jihad, ketulusan, dan keteguhan hati”.
Dia diakui sebagai salah satu pemimpin pendiri struktur militer Hizbullah dan memainkan peran kunci dalam pembentukan awal dan pertumbuhan selanjutnya.
“Dia tidak pernah lelah atau goyah dalam mempertahankan Tanah Air dan rakyatnya”, bunyi pernyataan tersebut. “Sejak awal Gerakan Perlawanan, dia meletakkan dasar bagi Gerakan yang tetap kuat, bermartabat, dan mampu melindungi Tanah Air serta meraih kemenangan”.
Hizbullah menekankan bahwa syahidnya al-Thabathabai akan semakin meneguhkan para pejuang Perlawanan dan memperkuat tekad mereka untuk terus melawan musuh Israel dan pendukungnya, AS. Kelompok Perlawanan tersebut berjanji untuk meneruskan warisannya dan warisan semua komandan mereka yang telah gugur.
