Ekspansi Ilegal Israel Ancam ‘Jalur Penghidupan’ Vital Suriah dan Aset Hidrologis Kawasan
POROS PERLAWANAN – Situasi di Suriah selatan kembali memanas seiring meningkatnya operasi militer Israel serta ekspansi kehadiran ilegalnya di Provinsi Quneitra, Daraa, dan wilayah dataran tinggi di sekitarnya.
Laporan lapangan sebagaimana dilansir Tehran Times pada Senin 24 November, menyebutkan bahwa pasukan Pendudukan Israel (IOF) bergerak dari Tal Ahmar Barat menuju Tal Ahmar Timur di Quneitra menggunakan kendaraan lapis baja dan tank. Pergerakan ini memperkuat pola pendirian posisi militer permanen di bukit-bukit strategis.
Aktivasi ulang Brigade Cadangan Hod Ha-Hanit di bawah Divisi 210 menandai pergeseran operasi dari serangan sporadis menuju penempatan permanen jangka panjang. Unit IOF dilaporkan melakukan operasi penyisiran dan penahanan berskala luas, termasuk penangkapan warga sipil di Khan Arnabah.
Sejak keruntuhan Pemerintahan Suriah sebelumnya pada akhir 2024, pelanggaran Israel terhadap kedaulatan Suriah meningkat drastis. Ratusan insiden penangkapan, pendirian jalur militer, hingga pembentukan pos pemeriksaan baru disebut telah mengubah peta kawasan selatan tanpa dasar hukum.
Menteri Keamanan Israel, Israel Katz menegaskan bahwa pasukan IOF akan tetap berada di Gunung Hermon dan dalam “zona keamanan” di Suriah selatan untuk waktu yang tidak ditentukan, meski wilayah tersebut diakui secara internasional sebagai bagian dari Suriah.
Dalam konteks ini, kunjungan terbaru Perdana Menteri Benyamin Netanyahu ke kawasan selatan Suriah, ditemani pejabat militer dan intelijen senior dipandang sebagai upaya memamerkan kontrol atas wilayah yang sedang mengalami penyelarasan ulang politik. Kunjungan itu dilakukan hanya beberapa jam setelah Netanyahu menunda sidang kasus korupsi dan beberapa hari setelah pertemuan diplomatik antara Presiden Suriah, Ahmad al-Sharaa dan Presiden AS, Donald Trump.
Di balik retorika keamanan yang dipromosikan Rezim Israel, terdapat kepentingan strategis yang jauh lebih konkret: sumber daya air. Suriah selatan menyimpan aset hidrologis penting bagi Levant.
Koridor Quneitra–Daraa mencakup Bendungan al-Mantara—bendungan terbesar di Quneitra—yang memasok delapan waduk lain. Anak sungai Ruqqad dan Cekungan Yarmouk menjadi sumber utama pasokan air bagi ratusan ribu warga Suriah untuk pertanian dan kebutuhan permukiman.
Sejumlah laporan menunjukkan bahwa Israel berupaya mengambil alih kendali atas sumber-sumber air ini, membatasi akses Suriah dan memperketat pengaruh terhadap Suriah dan Yordania. Petani di Lembah Ruqqad mengaku kini harus menggali sumur lima kali lebih dalam dibanding satu dekade lalu, mencerminkan meningkatnya tekanan terhadap sumber air akibat pendudukan.
Penguasaan Jabal al-Sheikh, cekungan sekitarnya, serta sistem Sungai Yarmouk memberi Israel kemampuan pengawasan dan kontrol sumber daya yang tak tertandingi, termasuk dalam agenda energi Kawasan.
Dengan meningkatnya persaingan jalur energi dan pipa regional, pengamanan sumber air Suriah selatan telah menjadi prioritas strategis bagi Israel. Pendudukan ini tidak hanya mencederai kedaulatan Suriah, tetapi merupakan bagian dari aksi yang lebih luas untuk menguasai aset alam paling vital di Kawasan tersebut.
Dengan mengencangkan cengkeraman atas sumber air itu, Israel memperlemah daya tawar Suriah dan negara-negara Arab di sekitarnya, menjadikan air sebagai instrumen tekanan geopolitik, serta memosisikan diri untuk mengendalikan masa depan hidrologi Levant.
