Menteri Intelijen Iran: Rezim Zionis Alami Krisis Infiltrasi Akibat Operasi Iran
POROS PERLAWANAN – Menteri Intelijen Iran, Hujjatul Islam Sayyid Ismail Khatib menyatakan bahwa Rezim Zionis kini menghadapi “epidemi infiltrasi dan spionase” yang melibatkan Iran. Pernyataan tersebut disampaikan dalam kunjungan kerjanya ke Kohgiluyeh dan Boyer Ahmad, bertepatan dengan peringatan Hari-hari Fathimiyah dan kesyahidan Sayyidah Fathimah az-Zahra (s.a), pada Minggu 23 November.
Mengutip laporan Kayhan, Khatib menegaskan bahwa keberhasilan Iran dalam Perang Dua Belas Hari melawan Rezim Zionis dan Amerika Serikat mencerminkan peningkatan kemampuan strategis dan militer Iran. Menurutnya, kekuatan misil Iran terbukti mampu menargetkan pusat-pusat vital, sekaligus membantah proyeksi para analis militer Rezim Zionis.
Krisis Internal di Tubuh Rezim Zionis
Merujuk pada laporan terbaru, Khatib mengatakan bahwa Rezim Zionis sendiri mengakui melemahnya sistem keamanannya. Ia mencontohkan penangkapan seorang perwira Angkatan Udara Zionis yang diduga memata-matai untuk Iran serta kebocoran dokumen rahasia, termasuk dokumen terkait energi nuklir. Ia menilai insiden tersebut sebagai indikasi melemahnya posisi Rezim Zionis di tingkat internasional.
Khatib juga menyoroti kuatnya respons rakyat Iran dalam Perang Dua Belas Hari. Upaya musuh untuk menggoyahkan modal sosial Iran, katanya, justru menghasilkan konsolidasi nasional. “Solidaritas rakyat dari berbagai etnis dan agama membentuk aliansi yang harus dijaga,” ujarnya.
Operasi Musuh dan Respons Iran
Menurut Khatib, musuh memobilisasi kelompok Takfiri dan ISIS dari Suriah, mencoba menyelundupkan senjata, membangun jaringan lewat pendanaan fiat maupun mata uang kripto, serta melancarkan serangan siber berskala besar. Ia menyebut seluruh upaya tersebut berhasil digagalkan berkat koordinasi aparat militer, kepolisian, intelijen, keamanan, dan lembaga peradilan.
Menurutnya, popularitas Iran di mata masyarakat dunia meningkat, meski selama bertahun-tahun menghadapi kampanye Iranofobia dan Islamofobia. Dijelaskannya bahwa dukungan lebih dari 120 negara selama Perang Dua Belas Hari merupakan indikator kuatnya posisi Iran.
Pengorbanan dan Kontinuitas Kepemimpinan
Khatib mengenang gugurnya sejumlah komandan Iran dalam Pertahanan Suci akibat penggunaan teknologi militer Barat oleh musuh. Namun menurutnya, kepemimpinan yang berkesinambungan memastikan stabilitas strategis Iran.
Perubahan Kebijakan Amerika
Khatib lebih lanjut menyatakan bahwa Amerika Serikat kini mengubah strategi terhadap Iran: dari subversif menjadi bertahan. Ia menyebut perubahan ini sebagai “kemenangan strategis” bagi Iran, karena menandakan kegagalan pendekatan sebelumnya.
Ia memperingatkan fokus baru musuh ialah upaya melemahkan ketahanan internal Iran melalui jejaring yang dibangun dari luar negeri namun tidak memperoleh dukungan publik. “Institusi keamanan harus waspada dan melindungi seluruh lapisan masyarakat,” katanya.
Ancaman Perpecahan Sosial
Khatib menilai musuh berupaya menebar perpecahan dan ketidakstabilan ideologis di dalam negeri, khususnya melalui media digital. Karena itu, ia meminta lembaga negara serta institusi sosial dan keagamaan menjaga kohesi nasional dan meminimalkan potensi gesekan internal.
Ia juga mengingatkan bahwa tekanan ekonomi dan sanksi internasional menciptakan ruang bagi ketidakpuasan, yang dapat dimanfaatkan musuh untuk memperlemah kepercayaan publik terhadap Pemerintah. Ia mengkritik pihak-pihak yang dinilainya “mengabaikan capaian Pemerintah Persatuan” dan memperbesar rasa putus asa.
Persatuan Nasional sebagai Prioritas
Menutup pernyataannya, Khatib menegaskan pentingnya menjaga persatuan nasional dan menghindari polarisasi sosial, sektarian, maupun etnis. Ia menilai Pemimpin Tertinggi sebagai poros stabilitas dan kemenangan Iran, dan memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap kepemimpinan negara sejalan dengan kepentingan Amerika Serikat dan Rezim Zionis.
