Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Operasi Sunyi Zionis: Kerahkan AI untuk Tutupi Pembantaian di Gaza

POROS PERLAWANAN ­– Dilansir Al Mayadeen, Rezim Pendudukan Zionis kembali meningkatkan kontrol totaliternya atas ruang digital dengan memperkenalkan sistem kecerdasan buatan (AI) bernama Morpheus, sebuah teknologi yang dirancang untuk menyaring setiap unggahan tentara Israel dan menghapus konten yang berpotensi membuka kejahatan perang mereka di hadapan dunia. Langkah ini menjadi bukti terbaru bahwa Tel Aviv semakin terdesak oleh bukti digital yang terus menumpuk terkait pembantaian sistematis terhadap rakyat Palestina.

Menurut berbagai sumber pengamat, Rezim Zionis mengembangkan Morpheus dengan dalih mencegah tentaranya “secara tidak sengaja membocorkan informasi sensitif”. Namun di balik alasan keamanan, sistem ini pada dasarnya bertugas menghapus jejak visual dan tekstual yang dapat digunakan untuk membongkar kejahatan perang, operasi pemusnahan, serta pola pembantaian yang dilakukan pasukan Pendudukan.

Dalam fase pilot yang dilaksanakan beberapa bulan terakhir, Morpheus telah diterapkan pada sekitar 45.000 personel Militer Israel. Hasilnya mencatat ribuan kasus di mana tentara diperintahkan menghapus video, foto, maupun komentar yang mereka unggah di platform daring. Dengan kata lain, Rezim kini secara resmi mempersenjatai AI untuk mensterilkan internet dari bukti kekejaman mereka sendiri.

Bukti Digital Membanjiri Mahkamah Internasional

Tindakan panik Tel Aviv terjadi seiring meningkatnya pengajuan hukum internasional terhadap tentara-tentara mereka yang bangga memamerkan aksi pembantaian di media sosial. Salah satu contohnya datang dari Hind Rajab Foundation (HRF), yang pada bulan ini mengajukan gugatan pidana di Republik Ceko terhadap seorang tentara Israel bernama Noam Tsuriely.

HRF menyerahkan dokumentasi lengkap mulai dari video, potongan musik yang merayakan genosida, hingga foto operasi militer destruktif Tsuriely dalam berbagai penyerbuan ke Gaza. Semua itu diambil dari unggahan pribadinya sendiri, yang kemudian disusun oleh pengacara Jan Taubl sebagai bukti kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan tindakan genosida.

LSM yang berbasis di Brussels itu memang dikenal secara khusus mengarsipkan konten yang dibagikan tentara Israel di TikTok, Instagram, hingga YouTube. Dokumentasi digital itulah yang kemudian menjadi materi utama dalam pengajuan raksasa ke Mahkamah Pidana Internasional pada Oktober 2024, yang menargetkan 1.000 personel Israel dengan 8.000 bukti mencengangkan, dari laporan saksi hingga analisis forensik media sosial.

Sementara Itu, Perempuan Palestina Dibungkam

Ketika Rezim Zionis sibuk membersihkan jejak kejahatan tentaranya, mereka justru memperluas penindasan terhadap warga Palestina. Pusat Palestina untuk Alunan Bakar melaporkan peningkatan tajam penangkapan perempuan dan anak perempuan Palestina di bawah tuduhan absurd “hasutan melalui media sosial”.

Sejak awal genosida Gaza pada Oktober 2023, lebih dari 600 perempuan Palestina ditahan. Dalam periode yang sama, agresi Israel telah menewaskan hampir 70.000 warga Palestina dan melukai sedikitnya 171.000 lainnya, angka yang mencerminkan skala penghancuran sistematis terhadap populasi sipil.

IOF Perketat Akses Digital Para Perwira

Tak hanya prajurit berpangkat rendah, perangkat pengawasan digital kini diperluas ke tingkat komando. Pasukan Pendudukan Israel dilaporkan bersiap memberlakukan aturan baru yang mewajibkan perwira berpangkat Letnan Kolonel ke atas menggunakan iPhone untuk komunikasi resmi, sambil melarang perangkat lain demi “keamanan informasi”.

Langkah ini muncul setelah operasi Badai Al-Aqsa mengungkap betapa rapuhnya sistem siber Israel, yang disebut kerap menjadi sasaran penyusupan.

Kecemasan Rezim Zionis Semakin Nyata

Dalam beberapa tahun terakhir, Militer Israel menjalankan simulasi dan pelatihan melawan teknik rekayasa sosial, termasuk skenario “hot honey” untuk mencegah kebocoran informasi sensitif. Namun semua itu menegaskan satu hal: Rezim Zionis semakin takut pada kebenaran yang mereka ciptakan sendiri.

Hari ini, ketika dunia menyaksikan genosida secara langsung melalui unggahan para pelakunya sendiri, Rezim Pendudukan berusaha mati-matian menekan tombol hapus. Meski begitu, jejak digital kekejaman itu sudah telanjur terpampang dan tidak ada AI yang mampu menutupinya sepenuhnya.

Tags: