Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Trump Tekan Maduro: Ultimatum untuk Mundur atau Hadapi Serangan AS

POROS PERLAWANAN – Para komentator politik di Amerika Serikat kembali memperdebatkan stabilitas mental dan karakter kepemimpinan Donald Trump setelah muncul laporan mengenai percakapannya dengan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Sebagian pengamat berpendapat bahwa Trump bersifat impulsif dan mudah dipengaruhi oleh pihak terakhir yang berbicara dengannya, sebuah pola yang sering muncul dalam masa pemerintahannya.

Mengutip Tehran Times pada Selasa 2 Desember, Faramarz Kouhpayeh menulis bahwa isu ini bukan hal baru. Diskursus serupa mengemuka ketika Trump menyatakan minatnya membeli Greenland, saat ia menerapkan tarif agresif terhadap negara sekutu, atau ketika ia memperuncing tekanan terhadap Iran bersama Israel pada pertengahan tahun. Kini, perhatian kembali tertuju pada kesiapan Trump untuk mengambil langkah militer terhadap Venezuela.

Selama beberapa minggu, Pemerintahan Trump telah mengerahkan kekuatan militer di kawasan Karibia. Selain itu, pasukan AS mengeklaim telah menargetkan kapal-kapal yang dianggap terlibat dalam penyelundupan narkotika dari Venezuela menuju AS. Namun, sampai saat ini Pemerintah Amerika tidak memberikan bukti publik terkait klaim tersebut. Beberapa pengamat hukum bahkan menilai bahwa otoritas yang memberikan perintah operasi semacam itu bisa saja melanggar hukum internasional.

Ketegangan meningkat setelah Trump mengeluarkan pernyataan di platform Truth Social: “Kepada semua Maskapai, Pilot, Pengedar Narkoba, dan Pelaku Perdagangan Manusia, anggap wilayah udara di atas dan sekitar Venezuela ditutup sepenuhnya”.

Pernyataan itu muncul tak lama setelah laporan bahwa Trump berbicara melalui telepon dengan Maduro, menawarkan pilihan, mundur dari jabatan dan meninggalkan Venezuela dengan aman, atau menghadapi kemungkinan serangan. Laporan yang beredar menyebut bahwa Maduro menolak tekanan tersebut dan tampil di publik sambil menyampaikan bahwa Venezuela tetap “tak tersentuh dan tak tergoyahkan”.

Taktik Tekanan yang Berulang

Tekanan tinggi yang kini diarahkan pada Caracas mengingatkan banyak pihak pada cara Trump menangani Iran. Pada Juni lalu, saat ketegangan meningkat, sejumlah pejabat Iran menerima pesan peringatan dari pihak asing agar meninggalkan negara mereka. Meskipun demikian, kepemimpinan Iran memilih untuk tidak tunduk pada tekanan tersebut dan merespons dengan cara yang membuat AS dan Israel akhirnya menerima gencatan sementara.

Maduro, dalam surat yang dikirim kepada OPEC, menegaskan bahwa tujuan AS sebenarnya bukan soal demokrasi atau hak asasi manusia, melainkan penguasaan atas cadangan minyak Venezuela, yang merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Pemimpin oposisi yang didukung Washington bahkan telah beberapa kali menyatakan bahwa sumber daya energi Venezuela akan “lebih mudah diakses” jika ia berkuasa.

Polanya Bukan Baru

Di Amerika sendiri, sejumlah warga memandang Trump sebagai anomali. Namun di Amerika Latin dan Asia Barat, perilaku AS dinilai sudah lama mengikuti pola yang sama; tekanan ekonomi, disusul intimidasi, dan jika gagal, opsi militer. Jika Pemerintahan Venezuela sampai tumbang akibat intervensi luar, itu akan menjadi kali ke-41 Washington menggulingkan pemerintahan di Amerika Selatan.

Penulis mencatat bahwa perbedaannya hanya pada gaya. Presiden-presiden AS sebelumnya lebih pandai membungkus tindakan agresif dengan bahasa diplomatik. Barack Obama, misalnya, memproyeksikan citra moderat meski kebijakan luar negerinya tetap meninggalkan jejak konflik di sejumlah kawasan. Namun setelah dua tahun pembantaian di Gaza yang didukung AS dan terekam luas melalui media sosial, narasi “hak asasi manusia” yang dahulu menjadi alat pembenaran kini semakin sulit dipertahankan.

Perlawanan Venezuela dan Iran

Venezuela hari ini mengikuti langkah Iran: memilih untuk tidak tunduk pada tekanan Washington. Pemimpin Revolusi Islam Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menegaskan dalam pidato televisinya bahwa Iran tidak akan terpengaruh oleh “kebisingan” politik dari musuh-musuhnya, kebisingan yang mencakup ancaman, sanksi, dan kampanye “Tekanan Maksimum”.

Narasi tersebut serupa dengan situasi Venezuela, yang memproyeksikan sikap bertahan dan menolak tekanan luar. Dalam kedua kasus, Washington menggunakan pola yang berulang; ancaman, isolasi ekonomi, lalu eskalasi militer. Namun, efektivitas pola itu tampak semakin terbatas karena dunia kini memiliki tingkat visibilitas dan akses informasi yang jauh lebih tinggi dibandingkan dua dekade lalu.

Pada akhirnya, pesan yang muncul dari tulisan ini jelas, tekanan internasional hanya efektif terhadap pihak yang bersedia tunduk. Negara yang memilih melawan, selama memiliki dukungan internal yang memadai dan posisi geopolitik yang kokoh, dapat menggagalkan intimidasi tersebut.

Di mata banyak negara di Global South, pola perilaku Amerika sudah dikenali lama, dan tidak lagi mengejutkan dunia.

Tags: