Sebelum Badai al-Aqsa, Proses Normalisasi Saudi-Israel Jauh Lebih Dekat dari yang Dibayangkan
POROS PERLAWANAN – Sebuah surat kabar Israel melaporkan bahwa kesepakatan yang dicapai sebelum Operasi Badai al-Aqsa pada 7 Oktober 2023 jauh melampaui yang digambarkan sebelum ini.
Diberitakan Fars, Times of Israel mengutip dari dokumen-dokumen baru bahwa menjelang operasi Hamas pada 7 Oktober, AS dan Arab Saudi telah mencapai kesepahaman bersama dan kesepakatan mengenai konsesi yang harus diberikan Israel kepada Palestina, agar Riyadh dapat menormalisasi hubungannya dengan Tel Aviv.
Menurut laporan investigasi, Presiden AS saat itu, Joe Biden, dan Arab Saudi telah menyiapkan dokumen bersama pada musim panas 2023 mengenai “jalur Palestina” dari kesepakatan normalisasi.
Keberadaan dokumen ini menunjukkan bahwa kedua belah pihak telah jauh lebih maju dalam negosiasi mereka daripada yang diperkirakan sebelumnya.
Namun, beberapa bulan kemudian, ketika Hamas melancarkan Operasi Badai al-Aqsa, kemajuan rencana normalisasi antara Arab Saudi dan Israel terhenti.
Times of Israel menggambarkan konsesi yang diminta AS dan Arab Saudi dari Israel terkait isu Palestina “relatif ringan” dibandingkan dengan tuntutan Palestina.
Konsesi paling signifikan di antaranya adalah penyerahan kendali Israel atas lebih banyak wilayah di Tepi Barat ke Otoritas Palestina.
Penyerahan ini akan dilakukan dengan mengubah klasifikasi wilayah Tepi Barat, sebagai berikut:
Mengubah sebagian wilayah Area C (di bawah kendali keamanan dan sipil penuh Israel) menjadi Area B (yang di situ Otoritas Palestina hanya memiliki wewenang terbatas).
Mengubah sebagian wilayah Area B menjadi Area A (yang di situ Otoritas Palestina memiliki kendali keamanan dan pemerintahan penuh).
Meskipun kedua pihak telah sepakat mengenai konsesinya, masih ada perbedaan pendapat antara AS dan Arab Saudi mengenai jadwal pengakuan Washington terhadap negara merdeka Palestina. Riyadh bersikeras bahwa pengakuan tersebut harus dilakukan dalam waktu yang lebih singkat.
Namun, konsensus yang cukup telah tercapai, sehingga Antony Blinken, Menteri Luar Negeri AS saat itu, merencanakan kunjungan awal ke Israel pada awal Oktober 2023 (sebelum operasi Hamas) menyampaikan dokumen yang disepakati dengan Riyadh kepada Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
Blinken mengharapkan Netanyahu untuk menambahkan amandemen dan syaratnya sendiri pada dokumen tersebut, yang menurut pandangan Washington, kemungkinan besar akan menunda pembentukan negara Palestina secara tak terbatas, atau bahkan menyingkirkan ide tersebut sama sekali.
Namun, Israel juga mengetahui negosiasi antara AS dan Arab Saudi. Israel merasa cukup nyaman dengan “konsesi ringan” bagi Palestina, sehingga Kementerian Luar Negeri Israel telah menyiapkan draf perjanjian normalisasi dengan Arab Saudi.
Menurut Times of Israel, rencana Blinken sepenuhnya terganggu oleh operasi Hamas pada 7 Oktober 2023. Peristiwa ini memaksa Washington untuk menghentikan upayanya memediasi kompromi dan fokus pada pengelolaan perang yang terjadi di Gaza.
Joe Biden dan stafnya berulang kali menyatakan bahwa motivasi Hamas dalam operasi tersebut adalah menggagalkan upaya AS dalam menormalisasi hubungan antara Israel dan Arab Saudi.
Laporan investigasi dari Times of Israel ini menunjukkan betapa sebenarnya kedua pihak sudah sangat dekat untuk menandatangani kesepakatan tersebut.
