Brennan dan Zarif Ungkap Dimensi Politik JCPOA Lampaui Isu Nuklir
POROS PERLAWANAN — Surat kabar berbahasa Persia, Kayhan pada Rabu 10 Desember melaporkan bahwa mantan Direktur CIA, John Brennan dan mantan Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif menyampaikan pernyataan terpisah yang menunjukkan bahwa JCPOA memiliki fungsi politik yang lebih luas daripada perjanjian nuklir itu sendiri.
Dalam wawancara yang dikutip media tersebut, Brennan menyatakan Pemerintahan Obama merancang JCPOA sebagai instrumen untuk memengaruhi proses internal Iran dan mengarahkan keputusan strategis negara itu.
Menurut laporan Kayhan, Brennan menjelaskan bahwa isu nuklir digunakan sebagai titik masuk untuk mendorong perubahan perilaku Pemerintah Iran, dengan dukungan para ahli dan sekutu Barat. Ia menggambarkan JCPOA sebagai bagian dari kerangka strategi yang lebih besar, bukan murni penyelesaian sengketa teknis.
Kayhan juga mengutip pernyataan Zarif dalam sebuah forum di Doha, di mana ia menyebut JCPOA berasal dari perubahan strategi Iran “dari perlawanan ke kompromi”. Zarif dikabarkan mengakui bahwa pelanggaran perjanjian dimulai pada masa Pemerintahan Barack Obama, dan Iran telah mengaktifkan mekanisme penyelesaian sengketa sejak 2016.
Dalam laporannya, Kayhan menambahkan bahwa Zarif menyoroti minimnya hasil ekonomi perjanjian tersebut. Ia menyebut hanya 18 dari 118 pesawat yang disetujui untuk pembaruan armada udara memperoleh lisensi, serta menegaskan bank-bank besar Eropa tetap enggan bekerja sama dengan Iran akibat sanksi AS. Zarif juga menyatakan Eropa tidak dapat diandalkan dalam mempertahankan komitmen JCPOA.
Kayhan menyimpulkan bahwa rangkaian pernyataan Brennan dan Zarif menunjukkan dimensi strategis JCPOA yang lebih luas daripada yang selama ini disampaikan secara resmi, serta menghidupkan kembali perdebatan mengenai dampak politik perjanjian tersebut terhadap struktur kebijakan Iran.
