Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Yedioth Ahronoth: Israel Siapkan Serangan ke Gaza dan Pembunuhan Pemimpin Hamas sebelum 7 Oktober

POROS PERLAWANAN — Surat kabar berbahasa Ibrani Yedioth Ahronoth melaporkan pada Selasa 9 Desember, mengutip sejumlah perwira Militer Israel, bahwa Tel Aviv telah menyiapkan rencana untuk membunuh Mohammed Deif dan Yahya Sinwar serta melancarkan serangan ke Gaza sebelum operasi Hamas pada 7 Oktober 2023.

Pengakuan ini dinilai penting karena menjawab berbagai keraguan terkait rangkaian peristiwa menjelang serangan tersebut. Laporan itu dikutip Kayhan pada Rabu 10 Desember. Menurut Yedioth Ahronoth, rencana tersebut mencakup operasi kejutan yang dimulai dengan pembunuhan dua pemimpin Hamas itu, disusul invasi darat terbatas ke Jalur Gaza.

Kesaksian para perwira senior kepada Komite Torgman yang memeriksa investigasi kegagalan Israel pada 7 Oktober, menyebut rencana tersebut merupakan salah satu isu paling sensitif dalam dua tahun menjelang perang. Komando Selatan dilaporkan telah menyusun rencana operasional, tetapi tidak dieksekusi karena fokus Militer tertuju pada front utara, sementara kepemimpinan politik disebut “secara konsisten” menolak operasi di Gaza pada masa tenang.

Intelijen yang diekstraksi dari komputer Hamas selama perang menunjukkan Gerakan itu berniat melancarkan serangan antara Paskah 2023 dan peringatan “Hari Kemerdekaan” Israel, bertepatan dengan meningkatnya keretakan internal di Israel akibat kontroversi reformasi peradilan. Komite Torgman juga memeriksa rencana balasan yang dibahas setahun sebelum serangan 7 Oktober, termasuk rencana pembunuhan terhadap Sinwar dan Deif yang sebagian detailnya pernah diungkap Yedioth Ahronoth pada Maret lalu.

Seorang perwira senior menyatakan Komando Selatan tidak hanya menyiapkan rencana terbatas, tetapi juga rencana komprehensif empat tahap: pembunuhan terhadap Deif, Sinwar, dan dua hingga tiga komandan brigade Hamas; pemboman seluruh pangkalan militer Hamas yang terdeteksi Shin Bet dan intelijen Militer; serangan udara bertahap ke pusat komando Hamas dan Jihad Islam; serta pengerahan tiga divisi reguler, 162, 36, dan 98 untuk operasi darat terbatas membersihkan area peluncuran roket.

Laporan itu menyebut selama bertahun-tahun kepemimpinan politik Israel, di bawah Perdana Menteri Benyamin Netanyahu, mendukung keberlanjutan kekuasaan Hamas di Gaza. Rencana-rencana tersebut tidak bertujuan menggulingkan Hamas, melainkan merusak kemampuan militernya dan menghambat kemajuan jangka panjangnya. Staf Umum, berdasarkan rekomendasi Departemen Operasional dan Intelijen, disebut menolak baik inisiatif terbatas maupun luas dalam periode satu setengah tahun sebelum Operasi Banjir Al-Aqsa. Kanal 12 Israel sebelumnya juga melaporkan rencana serupa.

Israel Akui Banyak Sandera Tewas Akibat Tembakan Sendiri

Dalam perkembangan lain, mantan Kepala Urusan Tahanan Israel, Nitzan Allon mengungkap bahwa sebagian besar sandera Israel di Jabalia, Gaza utara, tewas bukan oleh Hamas, tetapi akibat tembakan pasukan Israel sendiri. Pernyataan itu disampaikan dalam wawancara dengan Yedioth Ahronoth, sebagaimana dilaporkan Fars.

Allon mengatakan banyak sandera dipindahkan ke Gaza dalam keadaan hidup, namun tewas dalam pertempuran sengit dan operasi darat Israel. Ia mencontohkan kematian Tamir Nimrudi dalam serangan udara ke sebuah bangunan yang tidak diketahui tentara menampung sandera, serta enam sandera lain yang tewas dalam dua insiden terpisah di Khan Yunis dan Rafah.

Ia menjelaskan markas pelacakan sandera dibentuk segera setelah 7 Oktober, tetapi menghadapi “kekacauan luas” dalam pengumpulan data. Dari 3.146 orang yang awalnya dinyatakan hilang, jumlah itu kemudian dikonfirmasi menjadi 251. Upaya pelacakan disebut sangat rumit karena Hamas terus memindahkan sandera. Allon menegaskan ketakutan sandera terhadap serangan udara Israel berulang kali muncul dalam kesaksian para sandera yang dibebaskan.

Tags: