Loading

Ketik untuk mencari

Lebanon

Serangan Udara Israel Meluas di Lebanon, Nabih Berri Singgung Komite Mekanisme

POROS PERLAWANAN — Menanggapi rangkaian serangan udara luas yang dilancarkan Rezim Zionis pada Rabu di Lembah Bekaa dan sejumlah wilayah di Lebanon selatan, Ketua Parlemen Lebanon menyatakan bahwa agresi tersebut merupakan pesan politik dari Israel kepada Konferensi Paris, sekaligus sindiran terhadap pertemuan Komite Mekanisme yang dijadwalkan berlangsung esok Kamis.

Menurut Kantor Berita Tasnim pada Kamis 18 Desember, seiring berlanjut dan meluasnya agresi Zionis terhadap Lebanon dalam konteks pelanggaran berulang atas perjanjian gencatan senjata, sejumlah sumber Lebanon melaporkan terjadinya serangan udara baru oleh Rezim Zionis di berbagai wilayah negara tersebut.

Koresponden Al-Nashra di kawasan Bekaa melaporkan bahwa pesawat tempur Israel melancarkan tiga serangan udara di pinggiran Hermel, tepatnya di wilayah Zaghreen, serta satu serangan tambahan di pinggiran Buda, sebelah barat Baalbek.

Media Lebanon juga memberitakan serangkaian serangan udara Israel di kawasan Jabour, Qatrani, dan sepanjang Sungai Litani di daerah Zutar, Lebanon selatan.

Sementara itu, koresponden Al-Nashra di Lebanon selatan melaporkan bahwa sebuah drone Israel menembakkan dua rudal ke arah kota Taybeh. Pada saat yang sama, sebuah drone Israel terlihat terbang rendah di atas wilayah Beirut dan pinggiran selatannya.

Menanggapi eskalasi agresi tersebut, Ketua Parlemen Lebanon, Nabih Berri, dengan nada sarkastik dan merujuk pada pertemuan Komite Mekanisme yang bertugas mengawasi pelaksanaan gencatan senjata, menyatakan bahwa serangan ini merupakan pesan Israel kepada Konferensi Paris yang didedikasikan untuk mendukung Angkatan Bersenjata Lebanon. Ia menambahkan bahwa lingkaran serangan udara tersebut dapat dipandang sebagai “penghormatan” Israel terhadap pertemuan Komite Mekanisme yang akan digelar keesokan harinya.

Beberapa hari sebelumnya, Nabih Berri dalam pidatonya pada pertemuan Komite Mekanisme menegaskan bahwa langkah pertama yang harus diwujudkan adalah gencatan senjata yang nyata, serta kesiapan Israel untuk menarik diri setidaknya dari salah satu wilayah yang masih didudukinya.

Ia menegaskan bahwa tanpa pemenuhan syarat tersebut yakni kepatuhan Rezim Israel terhadap gencatan senjata, Lebanon tidak dapat menerima kelanjutan pertemuan. Menurutnya, dialog hanya dapat berlangsung apabila terdapat komitmen nyata, jika tidak maka tidak akan ada negosiasi sama sekali.

Berri juga menekankan bahwa Lebanon telah memenuhi seluruh kewajibannya berdasarkan perjanjian gencatan senjata. Tentara Lebanon telah ditempatkan di wilayah selatan, menjalankan tugasnya secara penuh, serta membersihkan seluruh kawasan di selatan Sungai Litani. Sebaliknya, Rezim Zionis, menurutnya, tidak mematuhi satu pun kewajibannya dan terus melancarkan agresi terhadap Lebanon tanpa henti.

Di bawah bayang-bayang keterlibatan Amerika Serikat dan sejumlah pihak internasional, serta sikap pasif Pemerintah Lebanon, agresi berulang Rezim Zionis terhadap negara ini kian dinormalisasi. Dalam beberapa pekan terakhir, Israel secara signifikan memperluas serangan militernya terhadap Lebanon, bersamaan dengan peningkatan tekanan dan ancaman politik Amerika Serikat yang bertujuan mendorong Lebanon menuju normalisasi hubungan dengan musuh Zionis.

Sementara itu, Pemerintah Lebanon dinilai belum mengambil langkah tegas terhadap pelanggaran gencatan senjata yang terus-menerus dilakukan Israel, dan masih menggantungkan harapan pada intervensi Amerika Serikat, pihak yang justru dituding telah memberikan lampu hijau bagi kelanjutan agresi Israel terhadap Lebanon.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *