Cengkeraman Gurita Zionis di Tanduk Afrika: Menguak Aliansi Gelap Tel Aviv-Hargeisa di Teluk Aden
POROS PERLAWANAN – Dilansir Al Mayadeen, di tengah genosida yang terjadi setelah di Jalur Gaza dan agresi brutal di Tepi Barat, entitas Zionis Israel kini tengah melancarkan manuver ekspansi baru yang mengancam stabilitas kawasan Tanduk Afrika. Dengan kedok “diplomasi” Menteri Luar Negeri Rezim Pendudukan, Gideon Saar mendarat di Somaliland pada Selasa 6 Januari, sebuah langkah yang dibaca oleh para analis sebagai upaya putus asa Tel Aviv untuk memecah-belah kedaulatan negara Muslim dan mengamankan pijakan militer di jalur maritim paling sensitif di dunia.
Kunjungan ini dilakukan hanya sepuluh hari setelah Rezim Benjamin Netanyahu secara sepihak mengakui kedaulatan Somaliland, sebuah wilayah yang secara hukum internasional merupakan bagian integral dari Republik Somalia. Langkah provokatif ini tidak hanya melanggar hukum internasional, tetapi juga mempertegas agenda Zionis dalam memecah-belah persatuan umat dan bangsa-bangsa Afrika demi kepentingan hegemoni mereka.
Ambisi di Balik Pengakuan Sepihak
Pengakuan Israel terhadap Somaliland yang memisahkan diri dari Somalia 35 tahun silam bukanlah sebuah tindakan kemanusiaan atau dukungan terhadap penentuan nasib sendiri. Sebaliknya, ini adalah langkah kalkulatif yang dicabut pada ketakutan Rezim Zionis terhadap meningkatnya kekuatan Poros Perlawanan, khususnya keberanian Angkatan Bersenjata Yaman (Ansharullah) dalam memblokade kapal-kapal yang berafiliasi dengan Pendudukan di Laut Merah.
Netanyahu, dalam narasinya yang mengobarkan, menyebut keputusan ini selaras dengan “Semangat Abraham Accord”, sebuah proyek normalisasi yang dirancang Washington untuk melucuti martabat bangsa Arab dan Muslim. Namun, di balik jargon “perdamaian” tersebut, terdapat cetak biru militeristik yang bertujuan menjadikan Somaliland sebagai pangkalan intelijen dan operasional baru untuk menyatukan Selat Bab al-Mandab dan memitigasi serangan dari pejuang Yaman yang telah melumpuhkan pelabuhan ekonomi Eilat di Palestina yang Diduduki.
Berbera: Titik Temu Poros Imperialisme
Pusat dari konspirasi ini terletak pada posisi strategis Berbera di Teluk Aden. Wilayah ini telah lama dikuasai oleh kekuatan imperialis sebagai pusat logistik dan pangkalan militer. Saat ini, Uni Emirat Arab (UEA) yang menjadi ujung tombak normalisasi di Kawasan telah mengoperasikan fasilitas militer besar di Berbera.
Kehadiran Zionis di wilayah ini, yang difasilitasi oleh Hargeisa, akan menciptakan arsitektur keamanan yang berbahaya. Integrasi antara intelijen Zionis, modal Emirat, dan restu diam-diam dari Washington bertujuan untuk menciptakan “tembok keamanan” yang membentang dari Palestina yang Diduduki hingga ke Tanduk Afrika. Tujuannya jelas untuk membendung pengaruh Poros Perlawanan dan memastikan jalur pasokan bagi mesin perang Zionis tetap terbuka, bahkan ketika mereka terus membantai warga sipil di Gaza.
Reaksi Keras: “Preseden yang Berbahaya”
Langkah lancang Tel Aviv ini segera memicu gelombang kemarahan di seluruh dunia Arab dan Afrika. Uni Afrika (UA) mengeluarkan peringatan keras, menyatakan bahwa pengakuan ini merupakan serangan langsung terhadap kedaulatan Somalia dan dapat memicu efek domino separatisme di seluruh benua.
Lebih dari 20 negara, termasuk kekuatan regional seperti Turki, Mesir, dan Arab Saudi, mengecam tindakan tersebut. Mesir, khususnya, melihat kehadiran Zionis di dekat pintu masuk Laut Merah sebagai ancaman eksistensial terhadap keamanan nasionalnya dan navigasi Terusan Suez.
Para analis di Kawasan diperingatkan bahwa agenda tersembunyi Zionis juga mencakup rencana jahat “pembersihan etnis” di Gaza. Ada kekhawatiran besar bahwa Rezim Pendudukan sedang melobi rezim-rezim di Afrika untuk menerima warga Palestina yang diusir secara paksa dari Tanah Air mereka sebagai bagian dari proyek pemukiman kembali, sebuah langkah yang secara tegas ditolak oleh seluruh Faksi Perlawanan dan rakyat Palestina.
Perlawanan terhadap Hegemoni
Meskipun Presiden Somaliland, Abdirahman Mohamed Abdullahi menyambut hangat “pengakuan” ini dengan harapan mendapatkan legitimasi internasional, ia tampaknya mengabaikan risiko besar yang membawa “kanker Zionis” ke wilayahnya. Sejarah telah membuktikan bahwa di mana pun entitas Zionis menanamkan pengaruhnya, konflik, ketidakstabilan, dan penghisapan sumber daya akan menyusul.
Di sisi lain, Washington menunjukkan sikap mendua. Meskipun Departemen Luar Negeri AS menyatakan tetap mengakui integritas wilayah Somalia, hubungan erat antara perencana militer Pentagon dan posisi strategis Somaliland menunjukkan bahwa Israel hanyalah pion yang digunakan untuk melakukan pekerjaan kotor yang belum bisa dilakukan secara terbuka oleh Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump.
Front Baru Perjuangan
Dunia kini menyaksikan babak baru dari agresi Zionis yang melampaui batas-batas Palestina. Penguasaan atas Tanduk Afrika bukan sekadar isu diplomatik, melainkan pertempuran untuk mengendalikan urat nadi ekonomi dan militer dunia.
Namun, sebagaimana perlawanan di Lebanon, Gaza, dan Yaman telah membuktikan, rencana-rencana besar yang disusun di ruang-ruang gelap Tel Aviv dan Washington sering kali hancur menghadapi keteguhan rakyat yang menolak untuk tunduk. Upaya Zionis untuk mengepung Yaman melalui Somaliland justru berisiko memicu perlawanan baru di benua Afrika, dan ingatan tentang kolonialisme masih sangat segar.
Tanduk Afrika kini berdiri di persimpangan jalan antara menjadi bidak dalam permainan catur Zionis-Imperialis, atau berdiri teguh menjaga kedaulatan dan solidaritas bersama bangsa-bangsa yang tertindas.
