Kali Kedua dalam Tempo 48 jam: Petugas Imigrasi AS Tembak Dua Orang di Portland
POROS PERLAWANAN – Dilansir Al Mayadeen, Polisi Portland mengumumkan bahwa dua orang ditembak dan terluka oleh petugas Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai (ICE) federal di kota itu pada Kamis 8 Januari. Kejadian ini menandai insiden kedua dalam dua hari berturut-turut di tengah meningkatnya pengawasan terhadap taktik penegakan imigrasi federal.
Demonstrasi meletus dan doa lilin diadakan di seluruh Amerika Serikat setelah seorang agen ICE menembak mati seorang wanita selama operasi imigrasi federal di Minneapolis. Penembakan itu memicu gelombang kemarahan atas penegakan imigrasi yang semakin ketat oleh Pemerintahan Trump.
Kepolisian Portland mengonfirmasi penembakan terjadi pada siang hari di dekat Main Street. Namun mereka mengeklaim bahwa petugas lokal tidak terlibat dalam insiden tersebut.
“Dua orang dirawat di rumah sakit setelah insiden penembakan yang melibatkan agen federal,” kata Kepolisian Portland dalam statemennya.
“Petugas merespons dan menemukan seorang pria dan wanita dengan luka tembak yang jelas. Petugas menerapkan tourniquet (pertolongan pertama untuk mencegah pendarahan) dan memanggil petugas medis darurat,” lanjut pernyataan tersebut. Kepolisian Portland menambahkan bahwa pasien kemudian dibawa ke rumah sakit dan kondisi mereka belum diketahui.
Sebuah postingan awal dari kantor lapangan FBI di Portland menyatakan, penembakan melibatkan agen US Customs and Border Protection (CBP) dan terjadi sekitar pukul 14.15. Postingan tersebut kemudian dihapus, tetapi sebelum itu mengonfirmasi bahwa FBI telah membuka penyelidikan terhadap penembakan tersebut.
Media lokal KATU2 melaporkan bahwa pasangan yang terluka telah melarikan diri dari lokasi kejadian dan meminta bantuan dari kompleks apartemen terdekat.
Wali Kota Portland, Keith Wilson dengan tegas mengkritik operasi federal. Dia mengatakan bahwa penempatan agen bersenjata berat telah membawa “konsekuensi mematikan” bagi kotanya.
“Portland bukanlah ‘lapangan latihan’ bagi agen-agen yang dimiliterisasi,” kata Wilson, seraya mendesak ICE untuk “menghentikan semua operasi di Portland hingga penyelidikan menyeluruh dapat diselesaikan.”
“Saya mendesak setiap warga Portland untuk mewakili nilai-nilai kita dan hadir dengan tenang dan tujuan selama masa sulit ini. Portland tidak menanggapi kekerasan dengan kekerasan.”
